Welcome Message

Mengapa kita hidup di dunia ini? Untuk apakah kita hidup di dunia ini? Pertanyaan mendasar yang jawabannya akan menentukan cara kita hidup, dan bagaimana kita hidup. Apakah bermakna atau sia-sia...

twitter

Follow on Tweets

Disiplin Rohani dan Kebiasaan

Posted in


Bekerja untuk mendapatkan penghasilan setiap bulannya adalah hal yang penting bukan? Namun bukan hanya sekedar datang ke kantor, lalu pulang pada sore hari. Tapi juga harus ditunjukkan dengan kinerja yang prima. Lalu setiap hari-hari kerja kita selalu diawali dengan rutinitas yang sama setiap harinya: Bangun pagi, berangkat ke kantor, jam 12 makan siang, lalu +/- jam 5 sore pulang kantor. Memang ada orang yang menyukai rutinitas, tapi ada juga yang tidak pernah bisa kompromi dengan rutinitas. Yang sebenarnya mungkin saja ini sebenarnya terkait daya tahan seseorang saja dalam menghadapi rutinitas. Ada yang titik jenuhnya cepat hadir ada juga yang lebih lama. Menjadi masalah adalah cara menyikapi titik jenuh tersebut tatkala datang. Kalau tidak disikapi secara tepat, frekuensi hadirnya titik jenuh tersebut akan semakin singkat dan semakin besar, sehingga dapat menghambat kreativitas, kinerja, dan sampai taraf tertentu mempengaruhi kejiwaan seseorang.

Sama halnya dengan kehidupan rohani kita, tentunya kita paham bahwa disiplin rohani adalah hal yang penting untuk memelihara kehidupan kita agar senantiasa terikat erat dengan TUHAN, maka setiap hari kita berdoa dan membaca Alkitab. Namun serangan penyakit rutinitas harus diwaspadai agar kehidupan rohani kita yang sehat tidak berubah menjadi kebiasaan belaka. Saya sendiri pernah mengalaminya saat disiplin rohani sepertinya menjadi kebiasaan hambar tanpa gairah, dilakukan karena sekedar memenuhi target dan jadwal semata. Setiap perkataan dalam doa saya hafal luar dalam, bahkan sampai kepada titik komanya.

Lalu bagaimana caranya? Salah satu anugerah TUHAN bagi manusia adalah otak yang dikendalikan oleh pikiran dalam menerima sensasi dari luar, sehingga timbul perasaan-perasaan seperti: Kesal, senang, sedih, marah, kecewa, bosan, benci dan sebagainya. Jadi tatkala jenuh datang melanda, yang perlu kita lakukan adalah men-setting pikiran kita bahwa disiplin rohani yang kita lakukan tidak hanya sekedar memenuhi jadwal dan target semata namun adalah sebuah kesempatan untuk bertemu dengan BAPA yang mengasihi kita dan mengasihi kita. Jika kita bertemu dengan BAPA yang kita kasihi maka di dalam pembicaraan yang kita lakukan terlibat unsur perasaan di dalam setiap huruf dan kata yang mengalir keluar dari mulut kita, seperti halnya kalau kita bertemu dengan orang yang kita kasihi, dengan kata lain doa kita bukan hanya sekedar sekumpulan kata-kata hafalan semata, namun sekumpulan kata-kata yang terdapat perasaan kasih sayang kita kepada TUHAN di dalamnya.


Selamat menjalankan disiplin rohani!


Sumber foto: www.istockphoto.com/file_closeup/?id=303161&refnum=91126&source=sxchu04&source=sxchu04


Pikiran dan Antena Televisi

Posted in


Antena Televisi, ada yang tidak pernah tahu atau melihat benda ini? Saya yakin pasti semuanya tahu dan pernah melihatnya. Fungsi antena televisi adalah menangkap siaran yang dipancarkan stasiun televisi. Jadi jika kita memilih sebuah channel untuk stasiun TV tertentu, dengan antena televisi, maka kita akan menerima gelombang siaran dari stasiun TV itu. Apapun acara yang ditayangkannya. Untuk di Indonesia, tidak ada stasiun TV yang selalu memancarkan acara yang berkualitas setiap jamnya. Pasti ada di jam-jam tertentu stasiun TV yang kita pilih itu menayangkan acara-acara yang kita tidak minati, atau malah kita benci.

Kalau sudah begitu yang bisa kita lakukan adalah mengambil remote dan memilih channel Stasiun TV yang lain. Dengan harapan stasiun TV yang kemudian kita pilih menayangkan acara yang lebih bagus. Begitu pula dengan pikiran kita, seperti antena TV itu, pikiran kita selalu mendapat gelombang-gelombang stimulus dari TUHAN dan dari si iblis. Contohnya jika kita sudah di tempat tidur, biasanya pikiran kita mengembara kemana-mana (antara sadar atau tidak), dan memikirkan banyak hal, yang beberapa diantaranya bisa terselip memikirkan hal-hal yang buruk. Nah jika akhirnya kita sadar telah memikirkan hal-hal yang buruk, kita mempunyai dua pilihan: Tetap memikirkan hal itu atau memilih untuk tidak memikirkan hal itu. Persis seperti remote TV, switch the channel or stay! Jika kita memutuskan untuk terus memikirkan hal-hal yang buruk itu, potensi untuk kita melakukan dosa semakin besar pula. Dan memang asal muasal terjadinya dosa bermula dari pikiran.

Jadi mengendalikan pikiran adalah hal yang penting, namun untuk dapat melakukan hal ini kita tidak dapat melakukannya sendiri. Kita membutuhkan kekuatan dan hikmat kebijaksanaan dari TUHAN. Hikmat kebijaksanaan dari TUHAN untuk dapat membedakan setiap gelombang stimulus yang masuk, kekuatan dari TUHAN agar dapat memilih untuk menolak gelombang stimulus buruk/jahat namun sangat menggoda itu. Mari kita melakukan langkah pertama guna mengendalikan pikiran: Datang kepada TUHAN untuk memohon kekuatan dan hikmat dari TUHAN!

With GOD, we can switch the channel, GOD's channel!

Berjalan Dalam Badai

Posted in

Di suatu malam sehabis Saat Teduh, seperti biasa saya mulai berusaha memejamkan mata. Bukan hal yang mudah karena selain insomnia saat itu saya sedang dirundung 2 pergumulan yang sampai saat itu belum juga ada jalan keluarnya, meski saya sudah berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa.

Lalu saya kembali teringat akan Saat Teduh saya tadi, pada Saat Teduh itu saya membuka Ibrani 11 : 17-18. Bukan ayat pembacaan untuk hari itu memang, namun entah mengapa saya tertarik untuk membukanya. Dan saat berusaha untuk tidur saya membayangkan si Abraham yang tetap teguh menjalankan perintah TUHAN untuk mengorbankan anaknya Ishak, padahal Ishak itulah yang dijanjikan TUHAN sebagai keturunan Abraham.

Saya membayangkan seandainya saya menjadi Abraham. Dalam perjalanan menuju gunung itu pastilah perasaan bercampur aduk dalam hati saya, antara: Taat melakukan perintah TUHAN atau sebaliknya. Dan pastinya si iblis itu tidak tinggal diam melihat saya tetap berjalan menuju atas gunung, si iblis akan menawarkan solusi-solusi yang terdengarnya masuk akal seperti: "Udah ngapain lo ke atas gunung juga, mengorbankan anak lo, mending lo kabur aja, nanti baru deh minta ampun ke TUHAN. Toh kan memang Ishak ini yang dijanjikan TUHAN menjadi keturunan lo". Atau seperti ini: "Ih tega lo ya..mengorbankan anak lo, lo suruh kabur aja deh tuh Ishak..nanti lo bilang ke TUHAN bahwa si Ishaknya kabur...lo gak salah, dan Ishak pun hidup..win-win solution kan?"

Meski solusi-solusi tersebut terdengar manusiawi, padahal tujuannya jahat! Membuat saya (Abraham) untuk menyimpang dari ketetapan TUHAN, melawan kehendak TUHAN, memberontak terhadap TUHAN. Dan seperti yang tertulis dalam Alkitab, Abraham tetap mempersembahkan anak-NYA di atas gunung, karena ia percaya bahwa TUHAN sanggup melakukan apapun juga termasuk membangkitkan orang dari kematian. Sehingga meskipun ia mengorbankan anaknya karena disuruh TUHAN, ia tetap melakukannya.

Kembali ke situasi saya saat itu yang tengah bergumul untuk 2 hal, saya mengambil kesimpulan bahwa jika TUHAN mau saya tetap berjalan dalam badai pergumulan ini, saya akan melakukannya. Saya tidak akan melakukan segala saran-saran yang ditiupkan si iblis untuk saya melawan Perintah TUHAN. Segala hal yang akan terjadi selanjutnya karena pergumulan ini, saya serahkan kepada TUHAN yang telah menyuruh saya, karena saya percaya bahwa TUHAN sanggup melakukan apapun juga. Saya memilih untuk menyerahkan kekhawatiran saya kepada TUHAN sembari terus berjalan maju dalam badai pergumulan ini dan berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa di dalam koridor Firman TUHAN.

Nice lesson from Abraham! Thanks GOD!

Sumber foto: http://newcreationperson.wordpress.com


What's your message?

Posted in


Seperti judulnya, artikel ini sebenarnya ingin coba mengelaborasi arti dari gambar di samping ini.

Sebagai anak TUHAN, keberadaan kita di dunia yang 'gelap' ini seperti neon box di samping. Kita sedang 'on air', mengudara di tengah gelapnya suasana dunia. Sehingga mengudaranya kita seharusnya dapat membuat perbedaan -yang benar-benar berbeda- dibanding penghuni dunia ini. Memberi pesan kepada dunia yang jahat ini mengenai kasih Kristus yang sesungguhnya.

Caranya bagaimana? Paling efektif melalui kehidupan kita. Tunjukkan pesan bahwa Kristus itu mengasihi semua orang dengan kehidupan kita yang juga mengasihi semua orang, bahkan jika orang tersebut menganiaya kita.

Tunjukkan dengan perkataan kita, perkataan kepada sesama, yang bukan hanya diucapkan di dunia nyata, namun juga di dunia maya. Jika update status FB atau Twitter, update status yang memang memberikan motivasi, kekuatan, penghiburan kepada orang lain dengan dasar kebenaran Firman TUHAN, Bergabung dengan account-account FB yang memang mempunyai misi memberitakan Kabar Baik. Renungan Virtue Notes salah satunya.

Jadi sekarang, lets show your message to this evil world!

Terikat Erat

Posted in


Bacaan : Matius 21 : 21,22; Yohanes 15 : 1-8; Filipi 2 : 5; Yakobus 4 : 3

Saat Yesus mengutuk pohon ara yang seketika menjadi kering, murid-murid Yesus tercengang. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-NYA bahwa mereka pun dapat melakukan hal yang serupa, bahkan memindahkan gunung. Sungguh suatu iman yang luar biasa!

Iman seperti ini tidak dimiliki oleh orang Kristen yang hanya merasa puas dengan pengakuan bibir dan merasa percaya. Namun kepada mereka yang adalah murid Yesus, pengikut Yesus. Seperti murid-murid yang senantiasa mengikuti Yesus kemanapun Yesus pergi, hal ini pun berlaku untuk kita jika kita memang murid Yesus yang benar-benar melakukan semua persyaratan mengikut Yesus (Matius 16 : 24). Secara singkat : Mereka yang hidup terikat erat dengan TUHAN sehingga peka mendengar suara TUHAN.

Mengapa demikian? Pada saat kita hidup terikat erat dengan BAPA, kita akan berpikir dan merasakan seperti yang TUHAN rasakan, peka mendengar suara TUHAN. Karena TUHAN menaruh pikiran dan perasaan-NYA pada kita. Sehingga pada saat kita menginginkan sesuatu dan mendoakannya, tentu saja TUHAN mengabulkannya, karena keinginan tersebut sebenarnya berasal dari TUHAN, ditaruh TUHAN dalam pikiran kita. Keinginan untuk sesuatu yang merupakan kehendak TUHAN.

Namun sayangnya memiliki persekutuan yang terikat erat dengan TUHAN bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan kerelaan menyerahkan diri kepada TUHAN. Sementaran manusia -biasanya- jika dalam keadaan di atas angin, tanpa kesulitan, manusia cenderung 'lupa' untuk melekat erat dengan TUHAN. Namun saat manusia mengalami kesulitan hidup -yang kita kenal sebagai pembentukan dan pemrosesan-, lebih mudah untuk datang dan berserah pada TUHAN.

Jadi kalau saat ini sedang mengalami kesulitan hidup, seharusnya kita bersyukur, karena itu berarti kita sedang dibentuk dan diproses TUHAN, dibersihkan oleh TUHAN untuk kita memiliki persekutuan yang terikat erat dengan BAPA. Dan tidak usah menunggu datangnya kesulitan untuk hidup melekat erat dengan BAPA, lakukan sekarang! GOD loves u, u know!

Would you let JESUS drive your life?

Posted in



Kemarin baru saja baca Our Daily Bread dengan judul, “Our Co-Pilot?” Inti dari renungan itu mengatakan seperti ini:

“So, if you've died and Christ live in you. JESUS is your pilot. Would you let JESUS drive your life?”

Coba merenungi inti pesan itu, dan saya sadar bahwa sebagai anak TUHAN setiap detiknya kita selalu dihadapkan pada dua pilihan:
1. Menyerahkan kendali hidup kita pada BAPA.
2. Mengambil kendali hidup kita dari BAPA dan hidup sesuka hati kita.

Kalau kita menyadari bahwa kita adalah anak TUHAN, berarti seharusnya kita memilih untuk melakukan yang nomor 1. Dengan kehendak bebas yang TUHAN berikan pada kita, kita memilih yang nomor 1. Hal ini berarti juga bahwa kita mengarahkan kehendak bebas kita untuk memilih dan melakukan kehendak BAPA. Dan sebaliknya kalau kita memilih yang nomor 2, berarti kita mengarahkan kehendak bebas kita untuk memilih dan melakukan keinginan daging/dunia/iblis.

Jadi menjadi bagian yang harus kita lakukan adalah memilih, setelah memilih yang nomor 1 -karena kita adalah anak TUHAN, menjadi bagian kita tahap selanjutnya adalah bertekad melakukan yang terbaik segala yang BAPA kehendaki untuk kita lakukan. Dan tahapan selanjutnya; mohon kekuatan dari TUHAN, mohon hikmat kebijaksanaan dari TUHAN dalam melakukan kehendak-NYA.
Mengenai hasilnya itu terserah TUHAN saja.

Para pembaca yang budiman, setelah mengetahui hal ini, dan menyadari status kita sebagai anak TUHAN, mari kita dengan sadar memilih untuk menyerahkan kendali hidup kita pada BAPA. Dan apapun yang BAPA kehendaki untuk kita lakukan, mari kita bertekad untuk melakukan yang terbaik, dengan segenap hati kita untuk TUHAN saja. Tentunya dengan memohon kekuatan dan hikmat kebijaksanaan dari TUHAN.

Berikan Mereka Sukses

Posted in


"Suruh mereka merindukan sukses. Ajak mereka berdoa minta sukses. Lalu berikan sukses."

Pada suatu hari iblis mencari seseorang yang semula murah hati untuk dijadikan kikir, semula berserah untuk dijadikan serakah dan cepat marah. Iblis memilih seorang petani yang sedang bekerja diladang. "Nah, petani miskin ini akan kujadikan lebih miskin lagi. Pasti dia akan jadi kikir dan serakah." Sebagai langkah pertama, iblis mencuri bekal makanan milik petani itu. Pada waktu makan siang petani itu mencari-cari bekal makanannya. Ia merasa heran, "Aneh betul, makananku hilang. Aku akan lapar sepanjang hari ini. Mungkin ada tetangga yang mencurinya. Biarlah, barangkali tetanggaku itu sedang kesulitan makanan."

Iblis heran melihat reaksi petani yang begitu ikhlas dan damai. Rencananya gagal. Dengan lesu ia melapor ke para iblis lain. Mereka langsung menertawakan dia, "Tentu saja kau gagal. kalau mau bikin orang jadi kikir dan serakah, jangan jadikan dia miskin. Jadikan dia kaya!" Mulailah iblis menyusun rencana jangka panjang. Ia memberi kesuburan khusus pada lading petani itu. Ketika petani lain mengeluh akibat panen yang gagal, petani yang satu itu justru berlimpah panennya. Lumbungnya penuh dengan gandum.

Petani miskin ini langsung menjadi kaya. Petani ini tidak tau apa yang harus diperbuatnya dengan kelebihan gandumnya. Lalu iblis memberi ilham. Gandum itu bisa dibuat minuman keras vodka. Ternyata vodka bikinan petani ini laku di kota. Petani ini menjadi semakin kaya. Untuk merayakan suksesnya, petani ini mengundang para tetangganya berpesta. Vodka disajikan lalu orang mulai mabuk.

Dalam keadaan mabuk, petani ini menagih tetangga-tetangganya untuk mengembalikan gandum yang mereka pinjam. Petani itu langsung marah ketika para tetangga belum sanggup membayar akibat masa paceklik. Ia memaki-maki, "Bayar! Awas kalau kamu tidak membayar. Itu gandumku, tau? Gandum hasil keringatku!" Lalu merekapun mulai bertengkar. Kacaulah pesta itu. Iblis mengintip dari jauh dengan senyum kemenangan. Sambil menunjuk ia berkata kepada iblis-iblis lain, "Lihat, itu dia orangnya. Dulu ketika masih miskin, bekal makanannya ia ikhlaskan. Tetapi sekarang meski lumbungnya sudah luber, ia begitu kikir."

Apa maksud Leo Tolstoy menuturkan cerita ini? Kalau disimak alur cerita ini banyak mirip dengan cerita-cerita lain dari pengarang yang sama. Bandingkan misalnya dengan cerita Tolstoy tentang pembeli tanah yang serakah di buku Selamat Mengikut Dia. Leo Tolstoy (1828--1910) adalah seorang bangsawan dan tuan tanah yang kaya raya di Rusia. Tetapi ia tidak mau hidup sebagai orang kaya. Ia membagikan tanahnya kepada petani-petani miskin. Ia belajar teologi dan menjadi pengarang. Untuk kebutuhan hidupnya ia bercocok tanam dan membuat roti sendiri. Tolstoy menekankan bahwa Kerajaan Sorga ada dalam diri Yesus.

Lalu apa yang tampak dalam diri Yesus?
Seorang yang tidak terikat pada harta benda.
Seorang yang terbebas dari keserakahan.
Seorang yang tidak mengejar keberhasilan menurut standard dunia.
Seorang yang bahagia.
(Seorang yang hidupnya sungguh-sungguh bebas merdeka)

Yesus berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20)
Bandingkanlah dengan versi Mat 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah....."

Tolstoy seakan-akan bertanya: Kapan petani ini berbahagia? Ia menjawab: Sebelum petani ini menjadi kaya. semula pikiran petani ini bebas dari belenggu harta benda. Hatinya damai. Ia tidak dikejar oleh keserakahan.

Hubungannya dengan tetangga adalah hubungan manusia dengan manusia. Tetapi kemudian pikirannya dikuasai oleh harta benda. Hatinya tidak damai lagi. Hubungannya dengan tetangga merosot menjadi hubungan antara pemilik benda dengan peminjam benda. Dari luar tampaknya keluarga petani ini lebih beruntung dari keluarga lain. Tetapi dari dalam keadaannya berbeda.

Tolstoy bercerita bahwa suasana keluarga yang semula tenang kemudian menjadi tegang. hanya karena istrinya menumpahkan sedikit vodka, petani itu naik pitam bukan kepalang: "Bodoh! Kamu kira ini air hujan? Ini vodka. Ini mahal, tau?"

Ada lagi isu teologis yang hendak diangkat oleh Tolstoy. Benarkah sukses itu berkat dari Tuhan? Belum tentu. Sukses belum tentu berasal dari Tuhan sebab berkat Tuhan tidak selalu berbentuk sukses. Bisa jadi sukses diberikan oleh iblis sebagai strategi untuk menjatuhkan kita.

Entah apa riwayat petani itu selanjutnya. Entah apa pula yang terjadi dengan iblis ini. bisa jadi iblis ini kemudian menjadi penceramah seminar di hotel-hotel berbintang. Di situ ia memberi kiat kepada para iblis lain tentang metode mengubah orang yang semula berserah menjadi orang yang serakah, yang semula murah hati menjadi kikir, semula jujur menjadi korup dan jahat.

Di tiap seminar selalu ada peserta yang bertanya: "Apa kiatnya?" Lalu dengan senyum kemenangan ia menjawab, "Oh, saudaraku yang terkasih. Itu gampang. Suruh mereka merindukan sukses. Ajak mereka berdoa minta sukses. Lalu berikan sukses."

(Pdt. Dr. Andar Ismail)


Sumber: elia-stories@yahoogroups.com

Tiga Wanita yang Berdoa

Posted in


Di dalam mimpinya dia melihat ada tiga orang wanita yang sedang berdoa.

Saat mereka berlutut, sang TUHAN datang mendekati mereka.

DIA mendekati wanita yang pertama dengan kelembutan dan anugerah. DIA tersenyum dengan kasih dan berbicara kepadanya dengan nada yang sangat manis.

Setelah itu, DIA mendekati wanita yang kedua. Kepada wanita itu DIA hanya menumpangkan tanganNYA ke atas kepala wanita yang sedang menunduk itu dan memberikannya pandangan yang penuh kasih.

Namun kemudian DIA melewati wanita yang ketiga dengan tanpa berhenti untuk mengatakan sesuatu atau hanya memandangnya saja.

Wanita yang bermimpi itu berkata kepada dirinya sendiri, "Pastilah DIA sangat mengasihi wanita yang pertama itu. Wanita yang kedua memperoleh restunya namun dia tidak mengalami sikapNYA yang menunjukkan kasih, seperti yang dilakukanNYA kepada wanita yang pertama. Sedangkan wanita yang ketiga, pastilah merasa sangat sedih karena DIA sama sekali tidak berkata apa-apa kepadanya, bahkan memandangnya pun tidak."

Tapi datanglah TUHAN dan berdiri disampingnya dan berkata, "Hai, wanita ! Engkau salah dalam menilai sikap-KU!”

“Wanita yang pertama sepenuhnya memerlukan kelembutan dan perhatian-KU supaya dia bisa tetap melangkah di jalan-KU yang sempit. DIA memerlukan kasih, perhatian dan pertolongan-KU setiap saat, karena tanpa itu semua dia akan jatuh.”

“Wanita yang kedua memiliki iman yang lebih kuat dan kasih yang lebih dalam daripada yang dimiliki oleh wanita pertama, dan AKU bisa mengandalkannya untuk tetap mempercayai AKU tanpa memedulikan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan orang-orang terhadapnya.”

“Namun wanita yang ketiga, yang tampaknya tidak AKU perhatikan, bahkan mungkin tampak ditelantarkan, memiliki iman dan kasih yang sangat murni.

Dia sangat mengenal AKU, dan sepenuhnya mempercayai AKU, sehingga dia tidak lagi bergantung pada suara-KU, tatapan-KU yang penuh kasih, atau tanda-tanda lainnya untuk bisa mendapatkan persetujuan atau restu-KU.

Dia tidak akan merasa cemas atau menjadi patah semangat dengan situasi dan keadaan apapun yang AKU rancangkan untuk dia hadapi.

Dia mengetahui bahwa AKU sedang mempersiapkan dirinya untuk kekekalan, dan menyadari bahwa di kemudian hari, dia akan memahami apa yang AKU lakukan.”

"Kasih-KU hening karena kata-kata tidak bisa mengekspresikan kasih-KU dan hati manusia sukar untuk bisa memahaminya. Dan juga, keheningan-KU itu adalah demi engkau, supaya engkau belajar untuk mengasihi dan mempercayai-KU dengan murni, seperti yang diajarkan Roh, dan menanggapinya secara spontan tanpa dipengaruhi oleh hal-hal yang tampak dari luar."

Jika kita belajar tentang rahasia sikap diam-NYA dan tetap memuji-NYA walaupun seolah-olah ALLAH tidak memberikan karunia-NYA kepadamu.

Melalui hal ini kita akan bisa mengenal dan mengasihi Sang Pemberi dengan lebih baik.

Sumber : Diolah dari tulisan pilihan (kutipan "Sungai di padang gurun " )

Sumber foto : stock.xchng

Korupsi adalah Mencari Makan?

Posted in


Hari Kamis (8 April 2010) saya mencukur rambut di tukang cukur dekat rumah. Iseng-iseng saya melakukan tanya jawab dengan beliau :


Saya : Pak pelanggannya siapa aja di sini?

Bapak : Wah banyak mas.

Saya : Petugas pajak ada? Kan lagi rame-ramenya kasus pajak nih.

Bapak : Ada, tapi dia gak banyak omong. KPK juga ada, Bank swasta nasional juga ada. Di sini mah banyak.

Saya : Oh gitu…wah parah yah yang korupsi pajak itu, padahal gajinya udah gede lho. 12 juta/sebulan. Itu kalo di swasta udah level manajer tuh.

Bapak : Yah meski gaji gede juga, kalo liat ada duit nganggur, siapa yang gak ngiler.

Saya : Iya, namanya juga manusia, gak pernah puas.

Bapak : Iya kan namanya manusia. Lagian juga cari makan lah. Menurut saya kalo korupsi itu jangan tanggung-tanggung, sekalian yang gede, terus kabur ke luar negeri. Gak usah balik-balik.

Saya : ???? *bengong sambil mengurut dada, betapa mental anak Negeri sudah rusak sampai ke level akar rumput*


Duh korupsi itu bener-bener penyakit lho, berawal dari ketidakmampuan manusia untuk menahan hasrat memuaskan keinginan dagingnya, sehingga segala cara pun dilakukan. Dan repotnya, rakyat di tataran akar rumput yang sebenarnya adalah korban dari korupsi itu justru mempunyai pikiran bahwa korupsi termasuk kegiatan mencari makan, yang artinya wajar-wajar saja untuk dilakukan. Kalau orang seperti ini suatu ketika mendapat jabatan yang strategis, bukankah mungkin saja ia juga melanjutkan tradisi korupsi dan kolusi yang menurutnya adalah kegiatan mencari makan?


Duh Indonesia, kita bisa ngapain ya?


Sumber foto : xcavator.net

Goodness Campaign

Posted in


Bail out Century yang dicurigai terdapat unsur korupsi, penggelapan pajak, makelar kasus adalah kata-kata yang banyak bersliweran di koran terakhir-terakhir ini. Pusing juga karena setiap hari urat-urat di otak dibetot untuk membaca dan merasakan keprihatinan akan keadaan bangsa ini.

Sebenarnya menurut saya, kunci untuk tiadanya korupsi, penggelapan pajak, ataupun makelar kasus adalah setiap manusia kembali kepada TUHAN. Mungkin akan timbul pertanyaan, "Memang saat ini manusia belum kembali pada TUHAN? Belum!" Buktinya berita tentang kejahatan ini masih banyak. Manusia memang melakukan ritual ibadah keagamaannya, namun sepertinya itu hanya sekedar formalitas belaka. Khotbah yang disampaikan pengkhotbah hanya masuk kuping kiri untuk kemudian mental keluar lagi. Ritual keagamaan yang dilakukan menjadi kewajiban (yang mungkin membebani?) saja. Maka tidak heran, kegiatan beragama jalan terus, korupsi juga ogah berhenti.

Lalu ini perbaikan ini tanggung jawab siapa? Pemuka agama? Tanggung jawab kita semua dong! Secara individu, itu adalah tanggung jawab manusia masing-masing. Menjadi tanggung jawab saya, Anda dalam mempergunakan kehendak bebas (free will) -yang dianugerahkan TUHAN kepada kita- untuk memilih melakukan kehendak TUHAN : Menolak kejahatan, melakukan kebaikan.

Namun secara skills, sebagai manusia yang diberikan berkat dari TUHAN untuk mempelajari lingkup komunikasi pemasaran, seperti ada beban kepada saya untuk mengkomunikasi pemasaran-kan nilai-nilai ini kepada sesama manusia melalui saluran massal yang efisien dan efektif. Yup! Sebuah campaign untuk membujuk, mempersuasi, mempengaruhi manusia untuk kembali kepada TUHAN. Melakukan perintah-NYA, menjauhi larangan-NYA. Itulah produk yang akan saya komunikasikan kepada sesama manusia. Semoga banyak yang tertarik dan 'membelinya'. Setidaknya inilah salah satu cara saya menjadikan hidup saya bermakna selama di dunia ini.

Sebagai langkah pertama, saya komunikasikan hal ini kepada Anda. Syukur-syukur ada praktisi Marketing Communications yang juga tertarik untuk membuat campaign-campaign sejenis.

TUHAN Mau Memakai Kita Sebagai Alat-NYA

Posted in


Dinihari tadi (23 Maret 2010), seperti biasa saya melakukan Saat Teduh (SaTe). Ayat Alkitab yang dijadikan referensi dari Keluaran 14 : 15-31, mengisahkan soal bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan keluar dari Mesir. Di depan mereka ada laut Teberau, sementara di belakang mereka ada pasukan Firaun yang mengejar mereka dengan kekuatan penuh.

TUHAN menyuruh Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan dengan itu terbelahlah air laut dengan perantaraan angin timur yang keras. Muncul pertanyaan yang menggelitik saya : Sebenarnya tanpa Musa mengulurkan tanganpun, TUHAN sanggup membelah air laut itu kan? Lalu mengapa TUHAN menginginkan Musa mengulurkan tangannya sehingga air laut terbelah?

Pertanyaan itu menjadi salah satu poin renungan saya dinihari tadi, sampai pada suatu kesimpulan renungan sebagai berikut :

Mengapa TUHAN mau memakai kita sebagai alat-NYA?

  1. Karena hakekat kita sebagai manusia.

Kita diciptakan oleh-NYA, ditebus oleh-NYA. Menjadi sangat wajar kalau TUHAN mau memakai kita sebagai alat-NYA. Karena kita adalah milik TUHAN. Terserah TUHAN mau melakukan apapun terhadap kita. Menyuruh apapun terhadap kita.

  1. Untuk melakukan kehendak-NYA pada orang lain, sehingga nama TUHAN dimuliakan.

Sudah menjadi kehendak TUHAN pada hari itu bangsa Israel dengan selamat menyeberangi laut Teberau, sementara tentara Mesir yang menyusul orang Israel ke laut Teberau mati tergulung air laut. Peristiwa ini memuliakan nama TUHAN, baik kepada orang non percaya (orang Mesir, ayat 25) dan orang percaya baru (orang Israel, ayat 31)

Jadi cari tahu apa kehendak TUHAN yang diinginkan-NYA untuk kita lakukan. Untuk dapat mencari tahu, awali dengan hidup melekat erat dengan TUHAN.

Satu hal yang pasti, TUHAN mau kita menjadi saksi yang memuliakan nama-NYA bagi sesama di sekitar kita melalui kehidupan kita, perbuatan kita, sikap kita dan perilaku kita terhadap mereka.

Ayat bacaan :

Menyeberangi Laut Teberau

14:15 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. 14:16 Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. 14:17 Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. 14:18 Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda." 14:19 Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. 14:20 Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. 14:21 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. 14:22 Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.14:23 Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka -segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda- sampai ke tengah-tengah laut. 14:24 Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. 14:25Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: "Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir." 14:26Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda." 14:27 Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. 14:28 Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. 14:29 Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. 14:30Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. 14:31 Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.


Sumber foto : xcavator.net

Mana Pilihanmu?

Posted in


Pernah mendengar kata-kata : “Ah males gw, gak ada duitnya!” Saya sering banget lho, biasanya kata itu diucapkan seseorang yang merasa keberatan menjalankan tugasnya karena tidak ada bonus uang ketika ia menjalankan tugas itu, meski sebenarnya dirinya memang bertugas untuk hal itu. Lugasnya memang ia dibayar atau dipekerjakan untuk melakukan tugas itu.

Biasanya meskipun melakukan tugas itu, didasari karena terpaksa saja, dan bukan karena kesadaran dan tanggung jawabnya. Maka jangan heran kalau hasilnya pun cenderung tidak maksimal, bahkan bisa jadi berantakan. Padahal di luar sana, masih banyak orang yang setiap harinya merenung nasib karena belum mendapatkan pekerjaan, meski kemampuannya bisa jadi di atas pekerja yang setengah hati tersebut. Hanya karena kemujuran belum berpihak padanya.

Parahnya lagi sindrom “Males, karena gak ada duitnya” ini tidak hanya menghinggapi pekerja kelas akar rumput, namun juga menulari sampai ke pucuk-pucuk pimpinan. Entah itu pimpinan perusahaan, ataupun pimpinan/petinggi Negara. Padahal kalau diteliti lebih lanjut, penghasilan para pucuk ini sangatlah cukup, bahkan mungkin berkelebihan. Semua pengeluaran ditanggung, bahkan sampai membeli garam untuk urusan rumah tangganya. Jadi si pucuk ini bernafas pun sudah dibayar. Terus kenapa mereka bisa melakukan hal itu ya? Padahal secara pendidikan ok, secara keagamaan pun mereka termasuk orang yang rajin beribadah pada waktunya,

Saya punya teori seperti ini, mereka keliru dalam membedakan stimulus yang masuk, dan juga mereka lemah untuk menolak stimulus yang negatif sehingga dengan kehendak bebas (free will) mereka memilih untuk menerima stimulus yang negatif. Seperti tulisan saya yang terdahulu mengenai “Hidup Ini Adalah Pilihan” bahwa stimulus yang masuk itu ada dua : Positif (kebaikan, kesalehan) dan negatif (godaan, menjurus pada dosa). Kekeliruan dalam membedakan stimulus yang masuk atau pun kelemahan mereka bisa disebabkan karena mereka tidak hidup melekat (bukan sekedar dekat) dengan TUHAN. Mungkin saja mereka menjalankan kewajiban agama pada waktunya, namun sesungguhnya itu dilakukan sebagai sekedar kewajiban belaka dan bukan didasari karena mereka mencintai TUHAN. Karena kalau seseorang mencintai TUHAN, pasti mencintai Firman-NYA, mencintai larangan-NYA, yang akhirnya mewujud dalam segala tindak-tanduk mereka menjalani hidup.

Nah kalau kita ingin bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, sebenarnya jawabannya hanya ada satu : Kembali mencintai TUHAN. Ini bukan hanya tugas para rohaniwan, tapi kewajiban kita semua. Namun sekali lagi kita memiliki kehendak bebas untuk memilih. Memilih untuk mencintai TUHAN atau menjauhi TUHAN. Mana pilihanmu?

Sumber foto : Koleksi pribadi

Status : Membaca Buku The Screwtape Letters

Posted in




Beberapa minggu terakhir ini saya sedang membaca buku tulisan Clive Staples Lewis atau lebih dikenal dengan C. S. Lewis yang berjudul "The Screwtape Letters"


Belum selesai karena saya harus mencari dan mendapatkan waktu yang benar-benar mendukung untuk membaca. Tenang, sehingga dapat memahami isi buku itu dengan baik. Dan tentunya sesuai gilirannya buku itu dibaca. Karena ada sekitar 300 buku lainnya yang juga 'berteriak' minta dibaca. Well mungkin agak 'lebay' ya, tapi memang itulah keadaannya, bertumpuk buku belum sempat saya baca, namun telah saya beli. Memang sudah menjadi cita-cita juga untuk membuat perpustakaan pribadi. :)

Oh iya bagi yang belum tahu C. S. Lewis berikut biodatanya yang saya dapat di bukunya ini :

Clive Staples Lewis (1898-1963) adalah salah seorang intelektual besar abad kedua puluh dan penulis yang diakui paling berpengaruh pada masanya. Dia adalah anggota dan pengajar literatur Inggris di Universitas Oxford hingga tahun 1954. Pada tahun yang sama dia terpilih dengan suara bulat menjadi Kepala Studi Abad Pertengahan dan Sastra Inggris Renaissance di Universitas Cambridge, sebuah jabatan yang diembannya hingga pensiun. Dia menulis lebih dari 30 buku, yang memungkinkannya menjangkau sangat banyak pembaca, dan setiap tahun karya-karyanya terus menarik ribuan pembaca baru. Karyanya yang termasyhur dan populer meliputi The Chronicles of Narnia, The Cosmic Trilogy, The Four Loves, The Screwtape Letters, dan Mere Christianity

Jadi memang C. S. Lewis ini seorang yang bukan saja mahir menulis namun juga pintar. Ia membagikan pikiran pintarnya melalui kemahirannya dalam menulis.


Sumber foto : Google

Hidup Ini adalah Pilihan

Posted in


Hidup ini memang memiliki banyak makna. Makanya kita harus menjalankanya dengan penuh bermakna, agar tidak sia-sia.Salah satunya adalah : Hidup ini adalah pilihan. Setiap detik kita diperhadapkan dengan pilihan. Hal ini memang sudah dirancangkan TUHAN sejak semula. Karena TUHAN kita adalah ALLAH yang demokratis. Namun demokratis yang benar bertanggung jawab. Dalam arti kalau kita menyalahgunakan fasilitas demokratis yang diberikan-NYA sebenarnya itu kesalahan kita sendiri. Masih bingung?

Pernah gak pada saat berjalan-jalan tiba-tiba ada pikiran yang muncul, yang bahkan sebelumnya tidak pernah terpikirkan? Entah pikiran negatif atau pikiran positif, tiba-tiba saja masuk ke pikiran kita. Mungkin juga saat diperhadapkan situasi yang dapat membuat kita tersinggung, ada perasaan ingin marah, ngamuk, kalap, dan kata lain yang tepat untuk menggambarkannya. Atau saat melihat orang lain yang kesusahan, tiba-tiba kita merasa iba. Kosakata yang saya gunakan untuk menamai hal itu itu saya sebut stimulus. Yup, stimulus positif atau negatif bisa tiba-tiba masuk dalam pikiran kita. Tanpa bisa kita cegah bukan?

Nah pada saat stimulus itu masuk memang tidak dapat kita cegah, namun –di sinilah demokratisnya TUHAN kita itu- kita mempunyai kehendak bebas untuk memilih, pilihan itu adalah :

  1. Memikirkan impuls itu lebih lanjut

· Kalau impuls yang datang postif (kebaikan, kesalehan), kita akan memikirkan bagaimana kebaikan itu dilakuan, sampai akhirnya kebaikan itu nyata dalam tindakan kita.

· Kalau impuls yang datang negatif (melakukan dosa), kita akan memikirkan bagaimana melakukannya, membayangkan kenikmatan dari melakukan dosa tersebut (sampai di sini saja, kita telah berdosa dalam pikiran), sampai akhirnya dosa itu kita lakukan dalam tindakan kita.

  1. Memilih untuk men-delete (seperti komputer) impuls tersebut tanpa mau memasukkannya ke pikiran.

Kalau boleh mengandaikan dalam sebuah perumpamaan : “Kita tidak dapat menghalangi burung terbang di atas kepala kita, namun kita dapat mencegahnya/mengusirnya agar tidak bersarang di kepala kita.”

Demokratis bukan? Kita diberikan pilihan oleh TUHAN, mau melakukan dosa atau tidak. Resiko ditanggung sendiri. Sayangnya kecendrungan manusia itu adalah menuruti keinginan dagingnya sendiri, yang –sekali lagi- sayangnya adalah melakukan dosa. Pokoknya melakukan dosa itu pasti memuaskan hawa nafsu kedagingan kita deh. Sehingga karena terlalu banyaknya dosa tanpa pernah bertobat, kita tidak dapat membedakan atau malah tertukar setiap stimulus yang datang.

Berarti TUHAN lepas tangan dong? Kok DIA menciptakan manusia lengkap dengan kesadarannya namun akhirnya tunduk pada dosa? Nah TUHAN Yang Maha Kuasa itu tidak pernah gagal rencana-NYA. Ada dua hal yang diberikan-NYA bagi manusia berdosa :

  1. Karya penebusan di dalam Yesus Kristus, diri kita sudah ditebus, segala dosa kita sudah dihapus.
  2. Setelah dosa dihapus, bukan berarti stimulus (terutama yang negatif) itu berhenti. Namun kalau kita hidup melekat dengan TUHAN, kita akan diberikan hikmat untuk membedakan setiap simulus yang datang; apakah itu sesuai dengan kehendak TUHAN : Apa yang baik, yang berkenan kepada ALLAH, dan yang sempurna. Dan kecendrungan untuk menerima stimulus yang positif (sesuai kehendak ALLAH) ini, sekaligus menolak stimulus negatif.

Lihat TUHAN bertanggung jawab kan? DIA tidak meninggalkan kita begitu saja. Hanya seringkali kita keliru dalam mempergunakan kehendak bebas (free will) kita dalam memilih.

Sumber foto : Koleksi pribadi.

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Powered By Blogger