Posted in
Ada pendapat yang ingin dibagikan? Silakan dan jangan sungkan.
Mengapa kita hidup di dunia ini? Untuk apakah kita hidup di dunia ini? Pertanyaan mendasar yang jawabannya akan menentukan cara kita hidup, dan bagaimana kita hidup. Apakah bermakna atau sia-sia...
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Beberapa hari yang lampau, saya sedang nonton film
yang dibintangi Will Smith yang judulnya kalau tidak salah "The Pursuit Of
Happyness". Salah satu adegan, menceritakan Will Smith sedang di Gereja
bersama para tunawisma yang lain, dan para pemuji yang bertugas menyanyi "Tuhan
jangan singkirkan gunung (masalah) itu, tapi berikan kekuatan untuk mendakinya"Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Pembaca budiman,
Pernah gak merasakan timbulnya keinginan diri yang sangat hebat, menuntut untuk dipenuhi? Saya pernah lho, padahal ketika itu saya dalam kondisi yang (menurut saya) jernih. Jadi saya sudah mulai bisa membedakan motif terdalam dari suatu stimulus, dan saya paham bahwa keinginan yang timbul itu adalah berasal dari daging (alarmnya bunyi nih), namun si daging itu menuntut banget untuk saya penuhi, maka saya menyerah, dan tanpa berpikir lagi, saya penuhi dahaga daging itu.
Nah setelah memenuhi hal ini, saya lalu merasa kepekaan untuk merasakan asal muasal stimulus menjadi lemah (atau hilang?). Saya menjadi cerobih untuk bertindak dan berkata-kata tanpa berpikir panjang. Dengan kata lain, dari lubang pemberontakan kepada Allah yang satu, saya terjerumus ke pemberontakan yang lain. Padahal kalau dipikir, antara pemberontakan yg awal dengan yg setelahnya sama sekali tidak berhubungan.
Mengapa demikian? Saya mengambil kesimpulan karena si jiwa ini mulai berteman dengan daging (dari pemberontakan pertama itu), maka si jiwa ini menjadi terbiasa untuk mendengarkan dan menuruti stimulus daging, karena si jiwa menganggap si daging ini adalah temannya. Firewall yang dulu dipasang untuk menangkal daging perlahan-lahan mulai di non-aktifkan oleh si jiwa. Dan sebaliknya si jiwa mulai menjauhi si roh, tidak mendengarkan apa perkataan dan keinginan roh.
Bagi saya pribadi, ini merupakan pembuktian konkret dari Matius 6: 24.
Silakan berpendapat lho yaaa...
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Note: Btw setelah Anda membaca ini please don’t do this:
1. Menganggap diri saya lebih tinggi (dalam hal rohani) dari keadaan saya sebenarnya, saya manusia biasa yang hidup di dunia ini, artinya saya pun masih berjuang untuk mematikan ‘diri’ saya setiap hari.
2. Menganggap bahwa ini adalah kosmetik. To be honest, saya tulus hanya mau berbagi aja kok. Tidak ada motif mencari pujian (makanya saya bilang di poin 1 seperti itu).
Akhir-akhir ini naik motor menjadi lebih menyenangkan. Kok bisa? Naik motor kan lebih banyak gak enaknya dibanding enaknya??? Iya sih, cuma mengapa saya bilang demikian karena saat mengemudi, pikiran bawah sadar saya banyak memunculkan hal-hal yang sangat dalam (menurut saya).
Tadi juga begitu, saat sedang menyanyi:
“Ya Tuhanku, aku hendak bermazmur bagi-Mu selagi ku hidup”
“Ya Allahku, aku hendak bernyanyi bagi-Mu selagi ku ada” (dalam hati saya berkata: “Ya Tuhan, saya mau itu dalam hidup saya, tidak hanya nyanyian kata-kata namun nyanyian hidup)
“Inilah yang kuserukan kepada-Mu, nyanyian, pujian, dan pengangungan kepada-Mu” (dalam hati saya: “Ya Tuhan, saya mau seumur hidup saya adalah nyanyian, pujian dan pengagungan untuk-Mu)
“Biarlah manis Kau dengar Tuhan…manis Kau dengar Tuhan” (dalam hati saya: “Ya Tuhan, saya mau hidup saya manis di hadapan Tuhan, memuaskan hati Tuhan, menyenangkan hati-Mu, and I really want to do it precisely”)
“Dan hatiku bersuka karena-Mu”
Dari menyanyikan lagu di atas, timbul suatu pemikiran ini: Ternyata kenyataan bahwa hidup kita ini harus memuaskan hati Tuhan, menyenangkan-Nya, manis di hadapan-Nya; akan memberikan kekuatan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini dan segala peranannya. Setidaknya hal ini berlaku bagi saya.
Lucunya, dulu pada saat sedang salah asuhan, saya merasa mendapat kekuatan saat menyanyikan lagu-lagu yang menyatakan bahwa “Tuhan akan menolong, menggendong, menyembuhkan, mengeluarkan saya dari masalah”. Bener-bener bayiiiii banget.
Nah itu pengalaman saya, ada yang ingin berbagi pengalamannya? Feel free for share.
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Menahan diri vs Mengendalikan diri
Saat melihat judul di atas apa yang ada dibenak Anda? “Kok bisa???” Mungkin itulah kata yang akan muncul. Ya karena bagi sebagian besar kita kedua kata itu adalah serupa atau mirip bak saudara kandung. Padahal sesungguhnya sangat berbeda. Apa bedanya? Saya coba bedah ya, setajam silet (iklan..hahaha…)
1. Menahan diri adalah tindakan kompromi dengan hasrat/keinginan diri yang muncul menuntut untuk dipuaskan. Jadi seandainya ingin punya handphone, orang yang menahan diri akan kompromi dengan keinginannya itu dan berkata: “Nanti aja ya tunggu gajian” atau “Nanti aja nunggu hape yang ini dijual dulu”. Sementara mengendalikan diri adalah tindakan mematikan hasrat/keinginan diri tersebut. Untuk contoh yang sama, orang yang mengendalikan diri akan berkata: “Ah gw gak mau ingin itu”. Langsung dibunuh hasrat itu.
2. Menahan diri itu mirip seperti tindakan membuka pintu bagi pencuri. Meskipun tidak dipersilakan masuk, namun kemungkinan untuk dapat masuk dan menguasai rumah sedemikian besar karena tuan rumah sudah membuka pintu. Sementara mengendalikan diri seperti menutup rapat-rapat pintu bagi pencuri dan mengeluarkan ujung pistol dari lubang kecil yang mengarah ke kepala pencuri.
Baru ketemu yang dua itu, kalo menurut Anda gimana? Feel free to share!
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Well…isi arikel kali ini masih terkait dengan artikel sebelumnya, "Pesan dari Pooh". Jika belum sempat melihatnya silakan klik di sini.
Jadi setelah kita menyadari bahwa yang penting adalah bagaimana kita menjalani sisa hidup kita di dunia ini untuk berkenan di hadapan Tuhan/mengerjakan keselamatan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa setiap peranan dalam hidup yang sedang kita jalani itu adalah pelayanan kita. Maka yang dimaknai sebagai pelayanan bukan lagi hanya saat: Menjadi kolektan, menjadi pemusik Gereja, WL, singer, pengkhotbah, guru Sekolah Minggu, dan sebagainya. Namun yang dimaknai sebagai pelayanan kita kepada Tuhan adalah peranan kita sebagai:
- Kepala keluarga bagi keluarga kita
- Suami/istri bagi pasangan kita
- Ayah/Ibu bagi anak-anak kita
- Anak bagi orang tua kita
- Adik/Kakak bagi saudara-saudara kita
- Om/Tante bagi keponakan kita
- Cucu bagi kakek nenek kita
- Karyawan di kantor
- Pemilik usaha yang harus memberikan penghidupan bagi karyawan-karyawan kita
- Pimpinan bagi para anak buah kita
- Bawahan dari atasan kita
- Tetangga di lingkungan kita
- Ketua RT atau RW di lingkungan kita
- Dsb
Banyak banget kan? Itulah ladang pelayanan kita kepada Tuhan. Jika kita begitu ingin menyenangkan hati Tuhan, maka seharusnya kita melakukan yang terbaik/termaksimal dalam setiap peranan kita itu. Tapi apakah mudah? Tidak.
Karena si iblis tidak rela melepaskan kita begitu saja, dia selalu berusaha menjatuhkan kita. Salah satunya dengan membangkitkan ingatan akan kenikmatan kita saat dahulu menghidupi manusia lama kita. Jika dulu kita dibelenggu dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, maka setelah kita bertobat dan berkomitmen hidup berkenan di hadapan Tuhan, tidak otomatis membuat kita bebas dari godaan untuk kembali hidup dalam belenggu tersebut. Malahan (IMO) godaan itu semakin besar, hal peristiwa sekecil apa pun bisa menjadi celah agar godaan itu masuk. Cuma bedanya dengan keadaan dahulu saat hidup di manusia lama adalah: Saat ini kita sadar bahwa kita mempunyai pilihan untuk mau/tidak memuaskan diri kita sendiri dari godaan tersebut. Sementara kalau dulu kan kita manuut aja saat menerima godaan tersebut.
Contoh ya: Saat melihat iklan gadget terbaru, bisa aja timbul niat untuk membeli gadget tersebut, (karena mengingat kenyamanan saat menggunakan gadget itu, prestise atau pujian yang diterima karena memakai gadget tersebut, dan kenikmatan diri karena menggunakan gadget itu) meskipun gadget yang ada saat ini sebenarnya sudah memadai untuk dipakai melakukan setiap aktivitas saya. Dan saat ke kantor, orang-orang seisi kantor pun ramai membicarakan berbagai kelebihan gadget baru itu, dan saat makan siang saya pun melihat merk gadget itu sedang melakukan pameran, makin tebel aja kan tuh godaannya? Tapi tetep aja keputusannya ada di tangan saya untuk membeli atau tidak.
Coba ganti contoh godaan keinginan mata di atas dengan godaan khas: Keinginan daging (libido seks dan kerakusan akan makanan), keangkuhan hidup (mendapatkan pengakuan). Polanya mirip-mirip deh, diri kita dibawa kepada ingatan akan kenikmatan kita saat dahulu memuaskan diri.
Bagaimana menurut Anda? Please feel free for sharing and comments.
Sumber gambar: Google.co.id
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Tadi saya dan keluarga besar menonton Kungfu Panda untuk ke 2 kalinya, ya kedua kali karena memang yang kedua ini bersama dengan ponakan. Dan karena kedua kali, maka tontonan kali ini bisa lebih fokus kepada pesan-pesan yang terkandung dalam film itu, dibanding saat pertama kali yang dipenuhi dengan tawa yang membahana.
Ada satu pesan yang menancap cukup dalam bagi saya, sehingga saya merenunginya. Yaitu adegan-adegan terakhir saat si Pooh (panda endut itu) berkata: “Yang penting bukan masa lalumu yang pahit, tapi hal kamu akan menjadi apa di masa depan”. Daleeeem bangeet!
Bagi saya, jika ditranslate ke perjalanan hidup saya sebagai Kristiani, maka kata-kata itu akan menjadi: “Yang penting bukan kehidupan manusia lama kamu yang rusak oleh berbagai dosa yang kamu lakukan untuk kepuasan diri kamu (karena saat kita melakukan sesuatu untuk kepuasan diri kita itu sama dengan dosa, memberontak kepada Tuhan), itu masa lalu yang Tuhan sudah ampuni saat kamu sadar, mengaku, menyesal dan bertobat. Yang penting adalah bagaimana kamu menjalani sisa hidup kamu di dunia ini selanjutnya: Menjadi manusia Allah seperti yang telah dirancang-Nya bagi manusia pada mulanya dengan role modelnya Tuhan Yesus ATAU justru memberontak kembali pada Tuhan?”
Saya percaya, bahwa dalam setiap langkah kehidupan kita Tuhan selalu berbicara, yang perlu kita lakukan adalah mempunyai kepekaan untuk memahami dan mendengar suara-Nya. Jadi komitmen apa yang sudah kita ambil untuk menjalani sisa kehidupan kita ini?
Sumber gambar: Google.com
Guys, (yes it is for you all man in this wold) pernah merasa sebel dan kesel sama pasangan gak? Kalo sudah menikah, tentu rasa negative ini ditujukan kepada istri. Well, saya pernah lho. Ceritanya, karena suatu masukan yang ditolak oleh istri, saya merasa istri tidak menghargai saya. Langsung kesimpulan ini didapat tanpa melakukan penelaahan lebih mendalam. Ujung-ujungnya saya merancang serangkaian aksi untuk memperbaiki attitude istri tercinta ini.
Padahal, selain saya tidak menelaah kesimpulan saya lebih mendalam, saya telah ditipu oleh hati/perasaan saya sendiri. Maksudnya? Begini, motif saya merancang rencana untuk memperbaiki sikap buruk istri saya tersebut adalah terdengar baik bukan? Padahal terselip hal jahat di dalamnya. Apakah itu? Saya ingin membalas kepada istri saya, dan menunjukkan: “Who is the boss!” Is it nasty or what?
Memang ya, manusia itu bodoh, bahkan bisa ditipu perasaannya sendiri. Mengapa bisa demikian? Yah pasti karena manusia sudah jatuh dalam dosa yang disebabkan pertama kali oleh ketidaktaatan Adam. Memang untuk orang Kristen, meyakini bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib telah menebus semua dosa-dosa kita. Namun itu tidak secara otomatis kita langsung menjadi malaikat lho, menjadi 100% baiiiiiik banget. Ada perjuangan yang harus kita lakukan untuk mengalahkan kodrat dosa di daging kita ini, dan kehidupan di dunia ini lah perjuangan itu harus dilakukan setuntas-tuntasnya. Sehingga pada saatnya nanti (entah meninggal atau kedatangan-Nya yang kedua kali) kita berada pada kondisi yang sesuai standarnya Tuhan untuk masuk Kerajaan-Nya.
Jadi jangan pikir karena Tuhan Yesus sudah berjuang sampai mati di kayu salib, maka kita tidak usah berjuang juga. Kita juga mesti berjuang. Selamat berjuang guys!
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
JANGAN katakan BAPA..
Jika kamu tidak berlaku sebagai 'anak'setiap hari..
JANGAN katakan KAMI..
Jika hidupmu penuh dengan 'ke-egois-an'...
JANGAN katakan YANG ADA DISURGA..
Jika yang kamu pikirkan adalah 'perkara duniawi' saja...
JANGAN katakan DIMULIAKAN NAMAMU...
Jika kamu tidak 'menghormati & memuliakan' Allah sebagaimana mestinya...
JANGAN katakan DATANGLAH KERAJAANMU..
Jika yang kau obsesikan hanyalah 'keberhasilan duniawi saja'...
JANGAN katakan JADIKANLAH KEHENDAKMU..
Jika yang kamu lakukan hanyalah 'yang kamu inginkan'...
JANGAN katakan BERILAH KAMI MAKANAN...
Jika kamu tidak 'peduli' terhadap orang yang sedang kesusahan...
JANGAN katakan AMPUNILAH KESALAHAN KAMI..
Jika kamu masih menyimpan 'dendam' dengan orang lain...
JANGAN katakan JANGAN MASUKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN...
Jika kamu tidak berniat 'berhenti berbuat dosa & bertobat'...
JANGAN katakan BEBASKAN KAMI DARI YANG JAHAT..
Jika kamu sungguh2 tidak tegas 'menolak kejahatan'
JANGAN katakan AMIN..
Jika kamu 'tidak sungguh2 dengan doa BAPA KAMI' ini...
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in

Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Pengantar: Artikel ini mengungkapkan alasan mengapa doa sebegitu vitalnya dalam kehidupan rohani seseorang.
oleh: Ev. Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th.
Saya pernah mengalami kesulitan nafas. Sesudah terserang batuk agak lama, lalu saya mengalami sesak nafas karena alergi. Selain sangat menyiksa, juga pengalaman sewaktu nafas saya menjadi sesak, pendek dan terengah-engah itu menimbulkan rasa ngeri. Sekaligus saat itu saya menyadari betapa berharganya hidup sehat yang dapat bernafas tanpa masalah.
Berdoa sering diumpamakan sebagai bernafas secara rohani. Jika kita benar-benar menerima gambaran itu, tentu kita akan menghargai betapa besarnya anugerah yang telah Allah berikan kepada umat-Nya dengan memberikan hak istimewa untuk boleh berdoa kepada-Nya. Dan, betapa besar resiko yang kita datangkan kepada hidup apabila kita mengabaikan doa dalam kehidupan kita. Sungguhkah seperti itu pertimbangan dan perlakuan kita tentang doa? Agaknya tidak selalu nyambung teori dengan praktik. Mengapa bisa begitu? Mungkin karena pemahaman teorinya pun hanya sambil lalu, tidak dalam, sehingga tidak sungguh dihayati!
Bagaimana kaitannya sampai doa jadi demikian hakiki dan vital? Doa terkait dengan fakta bahwa Allah yang kasih adanya itu menciptakan manusia sebagai makhluk yang berpotensi menyambut dan merespons Allah dalam kasih juga. Manusia disebut Allah sebagai gambar-rupa Allah. Sedangkan Allah, ketika menciptakan manusia sebagai gambar-rupa-Nya itu menyebut diri-Nya, “kita.” Banyak sekali isi Alkitab menegaskan bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah yang berhakikat relasi. Allah kasih adanya! Ini yang dalam theologi Kristen diterjemahkan sebagai doktrin Tritunggal. Di dalam hakikat kekal-Nya, Allah adalah Bapa, Putra, Roh yang berkasih-kasihan. Jadi sebagai gambar-rupa Allah, manusia pun memiliki kekhususan yaitu merupakan makhluk relasi. Dalam relasi dirinya, relasi sosialnya, relasinya dengan alam, manusia sebenarnya sedang mengungkapkan hakikat terdalamnya sebagai makhluk relasi yang berawal dari relasinya dengan Allah. Fakta Allah dan fakta manusia inilah yang menyebabkan doa merupakan suatu hal yang sangat hakiki dan vital dalam keberadaan manusia. Dalam pemahaman ini bahkan doa lebih hakiki dan vital daripada diartikan sebagai nafas rohani. Doa adalah ungkapan dari relasi kita dengan Allah. Doa adalah komunikasi atau dialog manusia dengan Allah. Ketidaklancaran kehidupan doa adalah gejala ketidakberesan relasi kita dengan Allah.
Jika demikian hakiki dan vital, mengapa pada kenyataannya kita tidak spontan menghasrati doa? Mengapa kehidupan doa kita (komunikasi kita dengan Tuhan) tersendat – senin-kamis – tidak intim pada segala waktu? Karena menurut Alkitab relasi itu tidak lagi harmonis. Kejatuhan seluruh umat manusia ke dalam dosa pada intinya adalah memilih untuk tidak berhubungan dengan Allah. Tidak heran apabila kita tidak menghasrati doa sebab pada intinya kita tidak memiliki hasrat yang murni akan Allah. Syukurlah bahwa Allah tetap berhasrat untuk bersekutu dengan ciptaan-Nya ini. Itu sebab Ia mendirikan perjanjian dengan Abraham yang pada puncaknya menghasilkan pendamaian antara diri-Nya dengan umat-Nya di dalam Yesus Kristus. Dengan pendamaian yang Yesus Kristus hasilkan, pulihlah relasi kita dengan Allah, terbit pula hasrat kuat kita akan Allah – kesadaran dan kerinduan untuk berdoa yang melaluinya kita menumbuhkan relasi kasih kita dengan Allah.
Dengan demikian berdoa adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada sekadar cara untuk meminta berbagai berkat bagi hidup atau untuk mengalami kuasa Allah bagi berbagai kebutuhan hidup. Inti doa adalah relasi, adalah komunikasi dengan Allah. Hanya bila dalam komunikasi kita dengan Allah, ada tempat bagi Allah mengkomunikasikan diri-Nya juga pada kita, barulah doa itu menjadi bagian dari relasi yang riil. Inilah alasan mengapa Tuhan Yesus mengaitkan keadaan dipenuhi oleh firman sebagai syarat bagi doa yang dikenan Allah. Dan hanya dengan demikianlah semua berkat dari relasi kita dengan Allah yaitu berbagai akibat yang timbul dari pengenalan kita yang tumbuh mendalam akan Allah, atau akibat dari semakin leluasanya Allah hadir dalam kehidupan kita, akan dapat kita alami. Dan segala berkat itu kita terima bukan karena kita memiliki iman yang hebat atau gigih dalam mengklaim Allah, melainkan karena iman-harap-kasih kita dalam doa menyatu dengan kasih-hikmat-kuasa-rencana-Nya bagi kita.
Pengertian doa yang seperti inilah yang kita jumpai dalam berbagai kisah nyata kehidupan doa para tokoh Alkitab. Pada orang seperti Abraham, Musa, Samuel, Daud, Hizkia, Yeremia, Daniel, Yesus, para rasul, Paulus, doa bukan soal cara, aturan, formula, tetapi komunikasi yang sangat menentukan vitalitas kehidupan dan karya mereka. Itu sebabnya bukan kebiasaan berdoa lima atau tujuh kali dalam sehari yang memberdayakan doa mereka, tetapi keintiman hubungan dengan Allah yang membuat mereka memiliki daya doa yang memenuhi seluruh kehidupan dan karya mereka sepanjang hidup. Tidak heran apabila doa bukan sesuatu yang menjadi beban bagi mereka melainkan merupakan suatu kesukaan. Juga, apabila mereka begitu dalam merasakan kebutuhan untuk berdoa dan untuk didoakan.
Alkitab dan doa, atau doa yang interaktif dengan firman Allah, adalah doa yang benar yang menjadi semarak dari realita relasi yang intens antar Allah-manusia secara timbal balik. Bagaimanakah doa Anda? Nafas Anda sajakah yang mendengus di dalamnya, atau terdengar juga nafas bicara Allah di dalamnya? Dalam hubungan yang intimkah Anda dengan Allah? Bagaimana kualitas relasi Anda dengan Allah terdengar dalam irama, sikap, isi dan lingkup doa Anda sehari-hari? Bagaimana perhatian, arah hati, gerak misi Allah tercermin dalam doa-doa Anda?
Doa kita hendaknya mencirikan bahwa seluruh hidup kita adalah dari-oleh-untuk Allah saja!
Sumber: http://www.ppa.or.id/untuk_anda.php?artikel=doa_antara_teori_praktik
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Sering kali kita mendengar di dalam doa orang lain atau justru kita sendiri yang berdoa: “TUHAN tunjukkanlah jalan-MU pada kami”. Atau, “TUHAN tunjukkanlah kehendak-MU pada kami”.
Bukannya saya tidak setuju dengan pernyataan itu, tapi sering kali kita sepertinya terlalu mudah mengumbar pernyataan itu. Sebenarnya dalam banyak kasus, permasalahannya bukan karena TUHAN tidak/belum menunjukkan jalan mana yang harus kita tempuh.
Kalau begitu, apakah TUHAN sebenarnya sudah menunjukkan jalan yang dikehendaki-NYA bagi kita? Ya! Jika memang keputusan untuk melakukan sesuatu ada di tangan kita. Karena memang ada hal-hal yang berada di domainnya ALLAH saja, seperti: Hidup matinya seseorang, sembuh tidaknya seseorang, dll. Dan ada hal-hal yang menjadi bagian kita untuk melakukannya, seperti: Kalau tidak ingin sakit berarti berusaha hidup sehat.
Lalu seperti apa sih karakteristik jalan yang TUHAN kehendaki bagi kita? Parameternya ada di Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Inilah kriteria atau parameter dari sebuah jalan/pilihan yang TUHAN kehendaki untuk kita ambil. Jika salah satu diantaranya meleset, maka pasti jalan itu tidak TUHAN kehendaki untuk kita ambil. Jadi sebelum mengambil keputusan, analisalah semua pilihan yang ada berdasar ketiga parameter itu, pasti ketemu!
Berarti TUHAN sebenarnya selalu menunjukkan jalan yang IA kehendaki bagi kita. Masalahnya ada pada diri kita:
Karena sebenarnya meski kita memahami apa yang menjadi kehendak TUHAN, kita tidak mau (bukan tidak sanggup) untuk melakukannya
Seringkali juga pilihan-pilihan yang ada terlihat sama baiknya, jika situasi itu yang timbul lalu bagaimana? Silakan kita kembali menganalisis ulang semua pilihan yang ada secara detail dengan memperkirakan efek atau dampak yang sekiranya akan terjadi dari setiap pilihan jalan yang kita ambil berdasarkan ketiga parameter itu. Namun bagaimana jika analisis ulang yang mendetail itu memaparkan bahwa setiap pilihan sama baiknya, sementara kita harus memilih salah satu diantaranya? Jika demikian, maka barulah ini saatnya kita berdiam diri dan berkata kepada TUHAN, “ TUHAN tunjukkanlah jalan-MU pada kami”.
Sumber foto: http://antonjunzzz.wordpress.com
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
© All Rights Reserved. Mari hidup bermakna
Theme by : Hosting and Cheap Hosting

