Welcome Message

Mengapa kita hidup di dunia ini? Untuk apakah kita hidup di dunia ini? Pertanyaan mendasar yang jawabannya akan menentukan cara kita hidup, dan bagaimana kita hidup. Apakah bermakna atau sia-sia...

twitter

Follow on Tweets

Hukum Taurat Dan Salib

Posted in

Saat sedang membaca Renungan Truth hari ini, 7 Juni 2013, http://www.truth-media.com/paket-istimewa, pikiran gw menerawang untuk menelaah alasan di balik pernyataan “jika Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib maka manusia akan langsung meluncur terpisah dari Allah selamanya”. Apa ya alasannya? Nah...di bawah ini uraiannya. Loe bisa setuju, bisa tidak setuju. Bebas kok.
http://id.amazinghope.net

Jika Tuhan Yesus Tidak Mati Di Kayu Salib

Semua manusia langsung menuju neraka. Karena semua manusia sudah berdosa, bahkan dari keberadaannya di dalam kandungan, karena dosa turunan dari Adam.

Melakukan hukum Taurat secara ketat juga tidak berguna. Mengapa? Karena, IMO, melakukan hukum Taurat (Dekalog) tidak bersifat menghapus dosa. Secara fungsinya, hukum Taurat berguna untuk: Mencegah manusia berbuat dosa, dan menjadikan manusia pribadi yang baik.

(Muncul pertanyaan, bagaimana dengan korban penghapus dosa seperti domba, kambing, lembu; yang disebutkan dalam kitab-kitab Musa? Korban penghapus dosa itu digunakan untuk menghapus dosa yang diperbuat setelah hukum Taurat ada.

Lalu bagaimana dengan dosa turunan dari Adam, dosa sebelum hukum Taurat ada, dosa yang tidak diingat sehingga lupa melakukan korban penghapus dosa? Bukankah itu semua akan membuat manusia menuju ke neraka?

Lalu mungkin muncul pertanyaan lagi, “seharusnya mereka yang hidup sebelum hukum Taurat lahir bebas dari dosa. Karena dosa di saat mereka hidup belum didefinisikan sebagai dosa”? Coba baca Kejadian 13:13 “Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan”. Hukum Taurat belum lahir di kala peristiwa Sodom dan Gomora, namun ternyata sudah ada istilah dosa.

Sepertinya hukum Taurat bisa berlaku surut untuk penerapan "punishment"-nya. Namun untuk masalah korban penghapus dosa, orang yang hidup di kala itu belum mengenalnya. Jadi jika mencoba dikuantifikasikan, orang yang hidup di masa belum mengenal korban penghapus dosa, dan dibandingkan dengan orang yang hidup di masa sudah mengenal korban penghapus dosa; maka yang paling banyak dosanya ada di golongan orang yang pertama).

Karena Tuhan Yesus Mati Di Kayu Salib

Maka semua manusia akan diadili perbuatannya berdasarkan kesesuaian hidupnya dengan hukum Taurat (Dekalog).

Dosa turunan Adam bisa dihapus, hal ini berarti korban Tuhan Yesus di kayu salib berlaku surut (adapun dosa yang dilakukan sebelum hukum Taurat ada dan dosa yang tidak diingat, diadili berdasarkan kesesuaian dengan hukum Taurat). Sekarang tinggal hitung-hitungan kesesuaian hidup seseorang dengan hukum Taurat, sudah sesuaikah atau justru melanggar?

Makanya kita bisa ngerti Tuhan Yesus bilang bahwa Ia ada untuk menggenapi hukum Taurat (Matius 5:17). Tanpa Tuhan Yesus turun ke dunia, dan mati di kayu salib, maka hukum Taurat tidak berfungsi apa-apa-sepatuh apapun manusia melakukannya. Tetap tidak ada pengadilan, karena manusia langsung ditransfer ke neraka, disebabkan dosa yang tidak mungkin dihapus dalam hidup manusia: Dosa turunan dari Adam (Roma 5:15).

Btw silakan baca Roma 5:12-21 deh, menjelaskan hubungan Adam dan Kristus.

Lanjut Mengenai Hukum Taurat

IMO, secara fungsi, hukum Taurat untuk:
1. Mencegah manusia berbuat dosa
2. Menjadikan seseorang pribadi yang baik

Melakukan hukum Taurat mirip dengan menyangkal diri (langkah awal dari “to do list” mengikut Yesus)


Nah sekian dulu tulisan gw. Silakan komentar lho. Nite nite!

Masih Mengenai Stimulus

Posted in



Tuhan
 dan sains seharusnya tidak pernah berlawanan. Mengapa? Karena sains pastilah diciptakan Tuhan. Dan gw termasuk orang yang percaya bahwa sains merupakan alat bantu/penunjang yang diciptakan Tuhan untuk memahami dan melakukan kehendak Tuhan. Salah satunya sains tubuh manusia, jadi penting banget memahami mekanisme kerja otak, kerja tubuh, untuk bisa melakukan kehendak Tuhan. Untuk bisa menahan emosi dalam kaitan menyangkal diri misalnya, maka jauhi makanan berlemak. Untuk bisa berpikir jernih, maka dibutuhkan istirahat yang cukup; dan sejenisnya. 

Makanya jadi Kristen itu gak gampang, Kristen kan berarti seperti Kristus; menguasai diri dalam segala hal. Untuk bisa menguasai diri ya loe harus kenalin luar dalam diri loe, mekanismenya, prosesnya, dan etc. Dan proses memahami diri untuk kemudian menguasainya itu sama makna dengan Lukas 14:28-33. Hitung anggarannya, lihat kekuatan diri loe, sanggup gak menaklukannya? Dan kalo loe udah paham mekanismenya, gw yakin pasti banyak di antara loe yang bilang: "Wah ini mah berat banget, untuk gak punya keinginan diri sendiri selain keinginan Tuhan seperti jadi orang mati". Emang berat, emang secara hitung-hitungan normal manusia tidak akan bisa mematikan keinginan dirinya sendiri. Makanya loe nekat aja. :D

Stimulus yang disampaikan ke jiwa juga merupakan hal yang, IMO, penting untuk dipahami luar dalam. Karena stimulus yang sampai ke jiwa ini, maka kita tidak/bisa melakukan dosa. Di Facebook gw, ada teman yang memasang status “ternyata stimulus ada yang dari luar juga ya...”. Status ini menarik perhatian gw, hmm...apakah bener ada ya stimulus dari luar? Karena selama ini proses stimulus-organisme-respon yang gw alami selalu berlangsung di internal diri. 

Gw coba simulasi kasus, dan sampailah pada suatu kesimpulan: “Stimulus itu berasal dari dalam diri manusia, karena baik stimulus yang berasal dari daging atau dari roh, adanya di dalam diri sendiri.” Sisa artikel selanjutnya akan gw paparkan alasannya.

Contoh kasus:

-          Seseorang yang dulunya ‘sakit’ hobi gadget terbaru, saat melihat iklan peluncuran telepon pintar terbaru pasti berdesir dagingnya. ‘Kesalahan’ bukan pada iklannya (meskipun sebenarnya iklan dirancang agar orang yang melihat/mendengar iklan tergiur untuk melakukan transaksi pembelian), namun karena di dalam diri orang itu ada ‘daging’ yang segera merespons pesan iklan yang ditangkap panca indera lalu mengirimkan stimulus keinginan mata (mungkin juga bersama dengan stimulus keangkuhan hidup) kepada jiwa.
-          Saat mendengar atau mengikuti khotbah SK, biasanya jiwa kita tidak berhenti mengucapkan “amin Tuhan” “ya Tuhan” “saya mau Tuhan”. Stimulus yang datang bukan dari khotbahnya, tapi karena ada roh dalam diri kita yang segera merespons pesan khotbah SK yang ditangkap panca indera lalu mengirimkan stimulus kepada jiwa.

Menurut pendapat gw, ransang/stimulus ke jiwa hanya bisa diberikan oleh daging atau oleh roh. Dan keduanya ada di dalam diri. Sementara hal yg menyebabkan terjadinya stimulus adalah pemantik/pemicu yg ditangkap panca indera (jika pemantik dari luar).

Alasan gw lainnya bahwa stimulus berasal dari dalam diri kita adalah begini:

-          Jika stimulus berasal dari luar diri kita, maka ada kemungkinan kita menyalahkan pihak luar sebagai ‘kambing hitam’ yang memprovokasi kita saat kita melakukan dosa. Padahal kita berdosa ya karena kita memilih (dengan free will) untuk berdosa.
-          Jika stimulus berasal dari luar diri kita, maka ada kemungkinan kita mengagungkan pribadi manusia/sebuah institusi secara berlebihan. Hal ini selain berdosa bagi diri kita, juga berpotensi menjatuhkan pribadi/institusi tersebut.    

Lalu apa dong istilahnya? Gw sih mengistilahkan contoh iklan gadget dan khotbah SK itu sebagai pemantik (seperti korek api) timbulnya stimulus. Penyebab timbulnya stimulus. Mengapa disebut pemantik? Karena –balik lagi ke simulasi kasus- ada orang yang bisa terkena stimulus keinginan mata dan keangkuhan hidup saat melihat iklan gadget, tapi ada juga yang datar aja gitu saat melihat iklan tersebut. Lalu stimulus sendiri apa dong? IMO sik, ide/pesan/informasi yang dikirimkan daging atau roh ke jiwa, dengan tujuan agar jiwa mengakses/menyetujui/mengeksekusi-nya dalam bentuk pikiran, perkataan, perbuatan.

Lalu mengapa dalam psikologi, pemantik dalam istilah gw, diartikan sebagai stimulus ya? IMO, sekali lagi menurut gw, karena ilmu psikologi tidak memperhitungkan komunikasi internal yang terjadi antara roh atau daging dengan jiwa. Bagi ilmu psikologi, stimulus datang kepada organisme (manusia) dan terjadilah respon.   

Tadinya gw juga bingung, ini "sesuatu yg menyebabkan stimulus" kan sebenarnya stimulus juga ya? Masa stimulus disebabkan stimulus? Cuma memang tubuh manusia itu...ya begitu deh. Saat Erick berbuat dosa, sebenarnya jiwa Erick ya dipengaruhi daging Erick. Jadi saat Erick berbuat dosa, ya bener2 100% karena Erick. Jiwa Erick, daging Erick, roh Erick, ya Erick juga kan namanya.

Lalu gw sadari bahwa yg memberi input/informasi/ajakan/stimulus kepada jiwa manusia (untuk melakukan/tidak melakukan) sebenarnya ada 2: daging atau roh.

Simulasi kasus deh ya. Meskipun gw sedang dinasihati oleh Ibu gw, tetep saja yg akan memberi masukan ke jiwa u/ menerima/tdk menerima nasihat Ibu gw adalah daging, atau roh. Lalu nasihat Ibu gw itu berperan sebagai apa dong? Nah...di sini seperti yg gw tuliskan bahwa gw sempet bingung. Apakah stimulus? Tapi masa stimulus disebabkan stimulus? Kondisi pra stimulus? Bisa jadi. Tapi apa namanya? Ya udah gw milih pemantik/pemicu stimulus.

Jadi mengapa saya membedakan stimulus dan pemantik, karena, IMO, yg namanya stimulus hanya bisa dihantarkan oleh daging atau roh kepada jiwa. Sementara kondisi/sesuatu yang menyebabkan stimulus timbul gw istilahkan pemantik. Bisa juga diistilahkan pra stimulus atau apapun namanya. Cuma secara bentuk, ya sesuatu inilah yg menyebabkan stimulus timbul di area daging atau roh, untuk kemudian dihantarkan kepada jiwa guna diputuskan nasibnya: dilakukan/tidak dilakukan. Dan semua pemantik yang ditujukan untuk roh kita pasti berasal dari Roh Kudus, sebaliknya, semua pemantik yang ditujukan untuk daging kita pasti berasal dari dunia/iblis.

Lalu, kalau tidak ada pemantik, maka tidak ada stimulus (yang dihantarkan daging), dan artinya orang tidak bisa berbuat dosa? Secara teori iya. Cuma selama manusia hidup, rasanya tidak mungkin terdapat kondisi tidak ada pemantik dalam hidup kita, hal ini dikarenakan pemantik bisa berasal dari luar diri kita seperti iklan gadget dan khotbah SK, namun juga bisa berasal dari dalam diri kita seperti rasa lapar haus, atau rasa kebelet misalnya. Lagipula jika tidak terdapat pemantik ini, maka manusia juga tidak bisa mencapai kondisi menjadi manusia seperti yang dikehendaki Tuhan, harus ada ujian baru bisa mendapat kenaikan kelas bukan. Dan jika tidak terdapat pemantik, berarti kita tidak mendapat tuntunan pemahaman Alkitab juga.   

Satu hal yang, menurut gw, membuat pemantik efektif banget untuk membangkitkan stimulus: Masa lalu. Otak manusia itu seperti komputer, jika dulu terdapat corrupted file bernama “gila gadget terbaru”, maka setelah hidup baru tidak serta merta file itu terhapus secara otomatis, masih ada sisa-sisanya di bagian yang tersembunyi di otak. Maka saat melihat iklan gadget tersebut, si daging lebih mudah dalam mengirimkan stimulus keinginan mata untuk meyakinkan jiwa agar tergiur/mengingini gadget tersebut, karena si jiwa sendiri dulu pernah merasakan dan kemudian mengingat kembali kenikmatan memiliki gadget terbaru. Hal ini berlaku pula untuk pemantik stimulus roh. Makanya penting banget deh untuk menanamkan file “Cinta Tuhan dengan segenap hidup” sedari dini kepada anak-anak kita.

Corrupted file ini bisa hilang memang, namun melalui proses pembersihan yang konstan, yaitu (IMO): Saat melihat iklan gadget terbaru lainnya, segera pasang kuda-kuda untuk memblok stimulus.

Ok...sekian dulu dari gw, makasi untuk perhatiannya. Btw gw tau banget, konsep stimulus gw beda sama konsep stimulus yang ada di kamus psikologi, maka itu kalau mau komen silakan lho. GBU!     

Secret Agent

Posted in


Suatu ketika loe melihat seorang Jepang tersesat  kebingungan. Sebagai orang yang bae hati, pastinyah loe tergerak menolongnya. Loe dekati dia, dan loe bilang ke dia: “Halooo juragan.....tersesat yah? Mau ke mana sih gan? Ngomong nih sama abang...abang bantuin cariin dah alamatnya..”

Si turis bengong? Kenapa? Ya iyalah bengong! Orang Jepang loe ajakin berbahasa Indonesia jaman Pitung masih berjaya. Ndak bakalan koneklah sama dia. Akhirnya tuh Jepang bengong karena bingung mau jawab apaan. Loe pun bingung kenapa si Jepang gak mau loe bantuin.
Sumber gambar: http://akuanahusna.blogspot.com


Itu sketsa doang sik. Betapa pentingnya yang namanya komunikasi, lebih dalam lagi, how to say yang tepat. Gw gak akan panjang lebar nerangin teori-teori komunikasi ke loe. Karena gw bukan dosen (saat ini), dan males juga kalii yeee terlalu text books. Kalo loe mau memberitakan kebenaran yang murni, pastinya loe mau orang yang mendengar berita kebenaran itu merespon dengan positif kan? Loe mau orang menanyakan lebih lanjut soal berita kebenaran itu kan? Cuma bagaimana bisa, kalo loe ngomong pakai bahasa planet, sementara doi orang bumi???

Jadi sebelum loe berbagi berita kebenaran di tempat publik (di kereta, busway, kantin, FB, atau Twitter), pastiin hal ini: siapa audience yang akan mendengarnya? Dan temukan bahasa yang tepat serta mudah dimengerti oleh mereka. Dengan demikian, loe bisa menerapkan how to say yang tepat dan sesuai bagi mereka.

Kampanye untuk mengajak tunawisma hidup sehat dan bersih akan percuma jika bahasa yang dipakai adalah bahasa sekolahan tingkat tinggi. Tapi kalo loe ngobrol di kalangan pembelajar teologi dan membagikan berita kebenaran dengan bahasa yang “teologi banget” ya ndak masalah toh.

IMO, itu sebabnya majalah Truth berisi materi teologi yang berat dibandingkan majalah-majalah Kristiani lainnya, karena memang ditujukan untuk pribadi yang tertarik dengan kebenaran yang murni dan berminat banget belajar. Cuma bukan berarti kalo kita berbagi ke orang lain, lalu kita menggunakan ‘bahasa’ yang sama dengan majalah Truth. Know your audience itu penting ciin, supaya berita yang kita sampaikan tidak terbuang percuma hanya karena keliru how to say.

Memahami audience dan menemukan bahasa yang tepat serta mudah dimengerti, bagi gw, artinya kita menjadi secret agent, agen rahasia. Misi kita adalah bagaimana orang yang jadi target bisa berubah arah, berubah ideologi keyakinan. Menjadi agen rahasia artinya kita harus menyamar, memahami siapa mereka. Dari luar sama, tapi dalamnya beda. Kita tetep berteman dengan siapa pun juga, namun mindset kita soal hidup ini beda dari temen-temen kita.

Jadi agen rahasia artinya kita udah pasti harus terlatih, teguh, dan kuat menahan tekanan. Baik tekanan keras maupun tekanan yang memabukkan. Kalo kita gak terlatih, gak teguh, dan gak kuat menahan tekanan, bukan target kita yang berubah ideologi keyakinan, tapi malah kita sendiri yang menjadi pengkhianat. Nah lhooo.

Oke. Segitu dulu dari gw, makasi untuk perhatiannya. Komen silakan lho. GBU!       

Ini Toh Artinya Mamon Yang Tidak Jujur

Posted in


Mamon yang tidak jujur. Aposeeehhh iniiii? Ada yang tahu artinya gak? Gw tahu sik artinya Mamon itu kekayaan, cuma gw masih bingung aja kenapa kekayaan bisa tidak jujur. Cara mendapatkannya gitu tidak jujur? Cuma kan ada juga orang-orang pekerja keras, mereka yang ulet dan tekun mencari uang, dan tidak menyimpang; lalu mereka menjadi kaya raya. Nah kalo situasinya kaya gitu, disebut Mamon yang tidak jujur juga gitu?

Kalo ada di antara loe yang bingung, maka kita kudu shake hand, karena gw juga sama bingungnya sama loe mengenai pernyataan “Mamon yang tidak jujur”. Sampai pada suatu hari gw baca Renungan Truth dan mendengar khotbah Minggu yang dibawakan Pdt. Erastus Sabdono...oh ternyata maksuteee begini tohhhhh...
Sumber: http://m.jakartapress.com

Jadi gini. Mamon yang tidak jujur itu sangat bergantung apa persepsi kita kepada yang namanya kekayaan. Saat kita bergantung kepada kekayaan, kita merasa hidup kita nyaman, aman tenteram, bebas dari gangguan. Kita merasa bahwa kekayaan yang kita miliki dapat menyelesaikan segalanya. Kita merasakan ‘firdaus’ di atas bumi ini. Sebegitu terlenanya kita kepada kekayaan, bahkan kita menjadi tidak memikirkan kehidupan kekal bersama Tuhan di keabadian nanti. Kita menjadi melupakan perjuangan keselataman, perjuangan memasuki pintu yang kecil dan sempit itu. Jika bisa berbicara, kekayaan seakan berkata: “ Udah cuuy..loe tenang-tenang aja menikmati gw (kekayaan)...nikmatin hidup loe sama gw...gak usah lah loe menyusahkan diri loe dengan yang namanya menyenangkan Tuhan, hidup melakukan kehendak Tuhan, perjuangan keselamatan...senangkan aja diri loee.” Dan kita mengamininya.

Sampai pada suatu saat, sudah waktunya kita ‘pensiun’ dari dunia ini dan mengenakan titel baru: Almarhum. Nafas kita berhenti, kekekalan sudah menanti, dan ternyata terbukti bahwa kekayaan yang kita miliki tidak dapat menolong kita untuk membuat kita diterima di Surga. Karena kita menggunakan kekayaan sesuka hati kita –dan bukannya sesuka hati Tuhan-, karena kita menggunakan kekayaan untuk memuaskan keinginan daging/keinginan mata/keangkuhan hidup kita –dan bukannya menggunakannya sesuai kehendak-Nya- maka diri kita dicampakkan ke api kekal. Itulah saatnya pembuktian bahwa kekayaan berlaku tidak jujur terhadap kita. Kekayaan membuai kita, membuat kita terlena agar tidak memburu Tuhan dan kehendak-Nya, membuat kita berpikir bahwa kita tidak membutuhkan kehidupan kekal bersama Tuhan karena ada kekayaan yang bisa kita gunakan untuk membahagiakan diri kita, namun ternyata hal itu hanya sesaat; kita sudah dijebak oleh kekayaan.

Jadi bagaimana supaya tidak terjebak? Gunakan segala kekayaan kita sesuai kehendak Tuhan. Hal ini tidak berarti kita harus nyumbang Gereja lho. Tapi kita menggunakan kekayaan sesuai kehendak Tuhan, jika Ia suruh sumbang Gereja ya lakukanlah; jika Ia suruh untuk berlibur bersama keluarga ya lakukanlah; jika Ia suruh untuk memberi uang kepada pembantu atau supir kita ya lakukanlah.

Setelah mengetahui hal di atas, gw baru paham arti dari Mamon yang tidak jujur. Nah kalo loe gimana? Masih bingung yak? Feel free untuk diskusi yakkk, via FB dan Twitter juga ok.. GBU!

Think Before...

Posted in


Beberapa waktu lalu gw pernah ngupdate status socmed begini:  “Keep in my mind: Think before act, think before speak, and think before think”. Bingung gak sik maksudnya apa dari status tersebut? Gw terbeban nih untuk menjelaskannya dengan bahasa gw sendiri, sorry dorry morry kalau ada hal yang tidak berkenan yakkk.

Untuk frasa “think before act, think before speak” mungkin bisa dipahami secara umum bahwa sebelum bertindak dan berkata-kata harus dipikirin dulu. Memang benerrr maksudnya seperti itu, cuma di pemahaman gw, kita berpikir sebelum bertindak dan berbicara adalah bukan dalam rangka untuk memperoleh kebaikan jasmani seperti: diterima dalam pergaulan, menghasilkan keuntungan pribadi, dan sejenisnya. Di pemahaman gw, kita harus berpikir sebelum bertindak dan berbicara adalah untuk memastikan bahwa apa yang akan kita lakukan dan bicarakan bukan berasal dari motivasi memuaskan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Lebih lanjut, kita harus memastikan bahwa apa yang kita lakukan dan bicarakan adalah karena Tuhan mau untuk kita bertindak dan berbicara seperti itu.

Lalu bagaimana dengan frasa “think before think”? Bagaimana bisa kita berpikir sebelum berpikir? Jadi begini, gw suatu ketika ngerasain saat lagi nyetir, nunggu busway, nunggu orang untuk meeting; pikiran gw melanglang buana dan setelah gw telisik ternyata pikiran itu berasal dari motivasi untuk memuaskan, entah; keinginan daging, keinginan mata, atau keangkuhan hidup. Lalu untuk selanjutnya, saat ada pikiran yang mau masuk ke otak gw akan gw screening dulu apa yang menjadi motivasi terdalam dari gw memikirkan hal tersebut? Jika sama sekali tidak terdapat unsur-unsur keinginan daging/keinginan mata/keangkuhan hidup; dan memang Tuhan mau gw untuk memikirkan hal itu, maka hal itu aman untuk dipikirkan.
Sumber: http://max4christ.blogspot.com

IMO&E (In My Opinion & Experience), “think before think” ini yang paling sulit dari dua lainnya. Suliiit bangett, namanya pikiran, terkadang suka lewat aja gitu di otak kita, pas sadar, ternyata sodarah-sodarah, hal yang dipikirkan itu berasal dari keinginan daging/keinginan mata/keangkuhan hidup. Apalagi saat kita hectic sama aktivitas kegiatan kita. Fiuuuhh... tapi tetep, jika kita mau untuk latihan pasti kita bisa. Amiinnn!

Lalu agar peka memahami bahwa motivasi yang timbul adalah keinginan daging/keinginan mata/keangkuhan hidup atau bukan bagaimana? Nah kalau yang satu ini cuma satu: Belajar kebenaran Firman Tuhan yang murni, tiap hari harus –istilahnya- mengonsumsi kebenaran Firman Tuhan yang murni. Dari situ akan timbul pengertian-pengertian akan kebenaran Firman Tuhan, pengertian akan kehendak Tuhan, dan kepekaan untuk membedakan stimulus.  Kalau gw selama ini belajar melalui Renungan dan Majalah Truth (http://www.truth-media.com), so far, IMO, hanya Truth yang konsisten untuk hal tersebut.

Oke, sekian dulu share dari gw, kalo ada yang kurang jelas dari uraian gw pleaaaseee....komen ajah, via FB n Twitter juga okeeh. GBU!   

Apa Penyebabnya?

Posted in


Tulisan ini hasil kegalauan setelah membaca Renungan Truth  “Model Hidup yang Wajar dan Normal” dan “Kesadaran Siapakah Manusia” . Sifat tulisan ini cukup analitis dan diharapkan dapat memberikan pencerahan mengenai profil-profil orang yang belum memahami kebenaran Firman Tuhan. Selamat menikmati!

Banyak orang menganggap bahwa model hidup yang wajar dan normal adalah dengan mendandani manusia jasmani, mendandani tubuhnya, melengkapi diri dengan berbagai fasilitas hidup dan kenyamanan diri dengan tujuan untuk memuaskan diri sendiri. Padahal saat kita melakukan hal tersebut berarti kita sudah menyayangi manusia jasmani kita dibandingkan manusia rohani (jiwa dan roh) kita. Dan saat kita menyayangi manusia jasmani kita dalam kehidupan hari ini berarti kebinasaan bagi manusia rohani kita di kehidupan akan datang/kehidupan kekal. Mengapa seseorang bisa memiliki pola pikir yang salah ini?

Jawabnya karena orang tersebut tidak memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan, keinginan Tuhan, dan isi hati Tuhan. Jika demikian, pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa seseorang bisa tidak memahami kehendak, keinginan, dan isi hati Tuhan?

Kalau dilihat dari sisi orang tersebut, maka setidaknya ada 4 sebab:

1. Tidak serius belajar kebenaran Firman Tuhan, lebih disebabkan karena malas.

2. Tidak mau belajar kebenaran Firman Tuhan, karena hal itu menyakitkan dagingnya. Ya iyalah, kan sangat berpotensi merenggut kenyamanan hidup. Hanya orang sinting yang mau kehilangan kenyamanan hidup. Namun memang orang yang dianggap ‘sinting’ oleh dunia justru adalah orang yang waras di hadapan Tuhan.

3. Tidak mau tahu kebenaran Firman Tuhan, sudah bersikap antipasti terlebih dahulu terhadap kebenaran Firman Tuhan yang murni, lebih disebabkan karena telah menerima ajaran yang salah.

4. Tidak tahu kebenaran Firman Tuhan, orang-orang ini tidak/belum terjangkau Injil. Mereka belum menjadi orang percaya.

Nah berdasarkan pemetaan sederhana tersebut, seharusnya bisa dibayangkan langkah yang bisa kita lakukan sebagai alat Kristus guna menuntun orang lain memahami kebenaran Firman Tuhan yang murni. Apa yang bisa kita lakukan sebagai alat Kristus?

Ada pendapat yang ingin dibagikan? Silakan dan jangan sungkan. Feel free untuk diskusi yakkk.. via FB dan Twitter should be fine kok. GBU!


Sumber gambar: www.google.com  

Tahapan Kedewasaan

Posted in


Beberapa hari yang lampau, saya sedang nonton film yang dibintangi Will Smith yang judulnya kalau tidak salah "The Pursuit Of Happyness". Salah satu adegan, menceritakan Will Smith sedang di Gereja bersama para tunawisma yang lain, dan para pemuji yang bertugas menyanyi "Tuhan jangan singkirkan gunung (masalah) itu, tapi berikan kekuatan untuk mendakinya"


Eh dari sana jadi mikir, bahwa dalam menghadapi masalah akan terlihat tahapan-tahapan kedewasaan seseorang. Coba kita lihat apa aja sih tahapan-tahapan tersebut, dan kita akui dengan jujur ada di tahapan mana diri kita.

1. "Tuhan tolong singkirkan masalah saya ini, saya gak sanggup Tuhan"

Ini bisa dibilang baby rohani ya. Sangat menyayangi dirinya sendiri secara salah, jika seseorang mash menyayangi diri sendiri secara salah, ia tidak akan bisa menyayangi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi.

2. "Tuhan tolong berikan kekuatan agar saya dapat menyelesaikan masalah ini"

Sudah lebih baik dari yang pertama, namun IMHO fokusnya masih kepada diri sendiri, bagaimana agar masalahnya selesai dan hidup nyaman di dunia ini seperti anak-anak dunia lainnya. Masih menyayangi dirinya sendiri.

3. "Tuhan terima kasih untuk masalah ini, karena saya tahu Bapa membentuk saya melalui masalah ini. Inilah salah satu wujud kasih Bapa kepada saya”.


Ini, IMHO, sudah lebih baik dibanding kedua tahapan sebelumnya. Masalah yang dialami sudah dimengerti sebagai kasih Tuhan kepada dirinya.

4. “Tuhan, saya mau memikirkan, mencari dan memikul semua hal yang menjadi beban dan masalah-Mu. Saya mau hidup saya berguna bagi-Mu”.


Ini tahapan yang lebih maju dari sebelumnya, dirinya bersedia memikul semua hal yang menjadi beban Tuhan. Adapun, beban Tuhan adalah keselamatan jiwa-jiwa manusia. Keselamatan sendiri adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, yang dicontohkan dengan sangat sempurna oleh Tuhan Yesus Kristus.


Sumber gambar: Google.com

Binatang Dalam Diri Manusia

Posted in


Akhir-akhir ini saya sedang hobi baca buku-buku sejarah kuno dan film-film yang memotret kondisi masyarakat di masa kuno itu. Salah satu buku berjudul “Sejarah Gelap Kaisar Roma”, di dalamnya menggambarkan cukup banyak kondisi masyarakat saat itu. Mungkin sudah umum diketahui bahwa yang namanya acara “Gladiator” (pertarungan hidup mati antara sesama petarung) adalah hal yang umum saat itu, saat nyawa menjadi tidak berharga karena dianggap hanya sebagai hiburan semata. Begitu pula yang namanya free sex bukanlah hal yang tabu bagi masyarakat saat itu, kalau tidak mau dibilang sebagai suatu kewajaran. Perbudakan, perdagangan manusia, dan intinya eksploitasi nilai-nilai kemanusiaan yang sangat rendah, adalah hal yang wajar dan sah saja saat itu.  

Apakah hal-hal ini masih terjadi saat ini? Masih, lihat saja kasus Mesuji, Bima, atau Cikeusik. Saat manusia memuaskan hasrat binatangnya untuk menjadi predator bagi sesamanya. Cuma karena pengetahuan saat ini lebih baik dibandingkan zaman kuno dulu, maka hal-hal yang disebutkan di paragraph 1 bisa dibilang tidak diakui sebagai hal yang wajar bagi manusia umumnya. Meskipun tidak diakui bukan berarti hal-hal itu tidak terjadi, tetap terjadi, namun tidak secara terang benderang, tercium namun tidak (atau enggan?) dibuktikan.

Jadi perhatikan saja, dari masa ke masa, hasrat binatang manusia selalu mempunyai tempat dalam masyarakat. Memang kenyataan bahwa di dalam diri manusia yang sudah berdosa ini terdapat naluri dan sifat-sifat kebinatangan. Contoh-contoh yang disebutkan pada paragraph sebelumnya mungkin adalah contoh yang ekstrim, namun kejadian-kejadian seperti: Mengingini hak/barang/milik orang lain, menjegal rekan kerja di kantor demi promosi, bergosip, memfitnah, membicarakan keburukan orang lain, poligami, memiliki PIL/WIL, cari muka di kantor/sekolah, ingin dipuji orang lain, ingin dianggap hebat orang lain, ingin didewakan orang lain, dan lainnya yang dapat kita sebutkan umum terjadi dalam keseharian hidup manusia. Semua itu adalah salah satu sifat dan naluri binatang yang berada dalam diri kita.

Melihat kenyataan itu, bisa dibayangkan betapa agungnya mahluk yang bernama manusia itu jika tidak jatuh dalam dosa. Betapa luar biasa tingginya nilai moral dan kesucian manusia yang telah dirancang oleh Tuhan, seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa. Maka adalah hal yang sangat tidak berlebihan Alkitab menyatakan bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. Memang manusia itu dirancang untuk menjadi mahluk yang tinggi, mahluk yang agung, yang keagungannya menyerupai Allah. Dan sungguh tidak berlebihan juga Tuhan Yesus berkata bahwa “kita harus sempurna sama seperti Bapa di Surga adalah sempurna” (Mat. 5:48).


Can I Ask For Help?

Posted in


Kemarin baru saja mendengar khotbah PA Suara Kebenaran, Pdt. DR. Erastus Sabdono menyinggung soal arti kesetiaan yang sejati. Dan dari sana pemikiran saya berkembang seperti tulisan saya di bawah ini.

Kesetiaan yang sejati adalah pengorbanan tanpa batas untuk Tuhan. Untuk itu seseorang harus tidak menyayangkan nyawanya sendiri/bersedia melepaskan segalanya untuk memuaskan hati Tuhan. Tidak mencintai dan menyayangkan nyawa kita sendiri berarti kita mengasihi diri kita sendiri secara benar (ingin masuk ke dalam hidup kekal), sementara dengan mencintai dan menyayangkan nyawa kita sendiri berarti kita mengasihi diri kita sendiri secara salah (tidak peduli akan nasib di kekekalan nanti harus masuk ke dalam kebinasaan kekal, yang penting senang-senang dalam kehidupan hari ini).

Pada suatu titik, kita akan merasa bahwa tidak boleh meminta pertolongan kepada Tuhan untuk masalah-masalah jasmani seberapa pun beratnya. Mengapa?

Jika kita meminta tolong kepada Tuhan untuk masalah-masalah jasmani berarti kita masih mencintai dan menyayangkan nyawa/diri kita sendiri artinya mengasihi diri sendiri secara salah. Jika kita masih mengasihi diri sendiri secara salah, pasti kita tidak bisa mengasihi Tuhan dengan benar dan maksimal.

Huff....berat banget ya. Lebih mudah untuk dipikirkan dan dikatakan dibandingkan dilakukan dalam hidup ini. Namun karena sudah mengetahui arahnya, maka mari kita berusaha keras menuju ke sana.


Sumber gambar: http://28digits.com

Tidak Bisa Mengabdi Kanan Dan Kiri

Posted in

Pembaca budiman,



Pernah gak merasakan timbulnya keinginan diri yang sangat hebat, menuntut untuk dipenuhi? Saya pernah lho, padahal ketika itu saya dalam kondisi yang (menurut saya) jernih. Jadi saya sudah mulai bisa membedakan motif terdalam dari suatu stimulus, dan saya paham bahwa keinginan yang timbul itu adalah berasal dari daging (alarmnya bunyi nih), namun si daging itu menuntut banget untuk saya penuhi, maka saya menyerah, dan tanpa berpikir lagi, saya penuhi dahaga daging itu.


Nah setelah memenuhi hal ini, saya lalu merasa kepekaan untuk merasakan asal muasal stimulus menjadi lemah (atau hilang?). Saya menjadi cerobih untuk bertindak dan berkata-kata tanpa berpikir panjang. Dengan kata lain, dari lubang pemberontakan kepada Allah yang satu, saya terjerumus ke pemberontakan yang lain. Padahal kalau dipikir, antara pemberontakan yg awal dengan yg setelahnya sama sekali tidak berhubungan.


Mengapa demikian? Saya mengambil kesimpulan karena si jiwa ini mulai berteman dengan daging (dari pemberontakan pertama itu), maka si jiwa ini menjadi terbiasa untuk mendengarkan dan menuruti stimulus daging, karena si jiwa menganggap si daging ini adalah temannya. Firewall yang dulu dipasang untuk menangkal daging perlahan-lahan mulai di non-aktifkan oleh si jiwa. Dan sebaliknya si jiwa mulai menjauhi si roh, tidak mendengarkan apa perkataan dan keinginan roh.


Bagi saya pribadi, ini merupakan pembuktian konkret dari Matius 6: 24.


Silakan berpendapat lho yaaa...

Kenyataan Yang Menguatkan

Posted in


Note: Btw setelah Anda membaca ini please don’t do this:


1. Menganggap diri saya lebih tinggi (dalam hal rohani) dari keadaan saya sebenarnya, saya manusia biasa yang hidup di dunia ini, artinya saya pun masih berjuang untuk mematikan ‘diri’ saya setiap hari.


2. Menganggap bahwa ini adalah kosmetik. To be honest, saya tulus hanya mau berbagi aja kok. Tidak ada motif mencari pujian (makanya saya bilang di poin 1 seperti itu).



Akhir-akhir ini naik motor menjadi lebih menyenangkan. Kok bisa? Naik motor kan lebih banyak gak enaknya dibanding enaknya??? Iya sih, cuma mengapa saya bilang demikian karena saat mengemudi, pikiran bawah sadar saya banyak memunculkan hal-hal yang sangat dalam (menurut saya).


Tadi juga begitu, saat sedang menyanyi:


“Ya Tuhanku, aku hendak bermazmur bagi-Mu selagi ku hidup”


“Ya Allahku, aku hendak bernyanyi bagi-Mu selagi ku ada” (dalam hati saya berkata: “Ya Tuhan, saya mau itu dalam hidup saya, tidak hanya nyanyian kata-kata namun nyanyian hidup)


“Inilah yang kuserukan kepada-Mu, nyanyian, pujian, dan pengangungan kepada-Mu” (dalam hati saya: “Ya Tuhan, saya mau seumur hidup saya adalah nyanyian, pujian dan pengagungan untuk-Mu)


“Biarlah manis Kau dengar Tuhan…manis Kau dengar Tuhan” (dalam hati saya: “Ya Tuhan, saya mau hidup saya manis di hadapan Tuhan, memuaskan hati Tuhan, menyenangkan hati-Mu, and I really want to do it precisely”)


“Dan hatiku bersuka karena-Mu”


Dari menyanyikan lagu di atas, timbul suatu pemikiran ini: Ternyata kenyataan bahwa hidup kita ini harus memuaskan hati Tuhan, menyenangkan-Nya, manis di hadapan-Nya; akan memberikan kekuatan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini dan segala peranannya. Setidaknya hal ini berlaku bagi saya.


Lucunya, dulu pada saat sedang salah asuhan, saya merasa mendapat kekuatan saat menyanyikan lagu-lagu yang menyatakan bahwa “Tuhan akan menolong, menggendong, menyembuhkan, mengeluarkan saya dari masalah”. Bener-bener bayiiiii banget.


Nah itu pengalaman saya, ada yang ingin berbagi pengalamannya? Feel free for share.

Menahan diri vs Mengendalikan diri

Posted in


Menahan diri vs Mengendalikan diri


Saat melihat judul di atas apa yang ada dibenak Anda? “Kok bisa???” Mungkin itulah kata yang akan muncul. Ya karena bagi sebagian besar kita kedua kata itu adalah serupa atau mirip bak saudara kandung. Padahal sesungguhnya sangat berbeda. Apa bedanya? Saya coba bedah ya, setajam silet (iklan..hahaha…)


1. Menahan diri adalah tindakan kompromi dengan hasrat/keinginan diri yang muncul menuntut untuk dipuaskan. Jadi seandainya ingin punya handphone, orang yang menahan diri akan kompromi dengan keinginannya itu dan berkata: “Nanti aja ya tunggu gajian” atau “Nanti aja nunggu hape yang ini dijual dulu”. Sementara mengendalikan diri adalah tindakan mematikan hasrat/keinginan diri tersebut. Untuk contoh yang sama, orang yang mengendalikan diri akan berkata: “Ah gw gak mau ingin itu”. Langsung dibunuh hasrat itu.


2. Menahan diri itu mirip seperti tindakan membuka pintu bagi pencuri. Meskipun tidak dipersilakan masuk, namun kemungkinan untuk dapat masuk dan menguasai rumah sedemikian besar karena tuan rumah sudah membuka pintu. Sementara mengendalikan diri seperti menutup rapat-rapat pintu bagi pencuri dan mengeluarkan ujung pistol dari lubang kecil yang mengarah ke kepala pencuri.


Baru ketemu yang dua itu, kalo menurut Anda gimana? Feel free to share!


Duh Keinget Lagi!

Posted in


Well…isi arikel kali ini masih terkait dengan artikel sebelumnya, "Pesan dari Pooh". Jika belum sempat melihatnya silakan klik di sini.


Jadi setelah kita menyadari bahwa yang penting adalah bagaimana kita menjalani sisa hidup kita di dunia ini untuk berkenan di hadapan Tuhan/mengerjakan keselamatan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa setiap peranan dalam hidup yang sedang kita jalani itu adalah pelayanan kita. Maka yang dimaknai sebagai pelayanan bukan lagi hanya saat: Menjadi kolektan, menjadi pemusik Gereja, WL, singer, pengkhotbah, guru Sekolah Minggu, dan sebagainya. Namun yang dimaknai sebagai pelayanan kita kepada Tuhan adalah peranan kita sebagai:

- Kepala keluarga bagi keluarga kita

- Suami/istri bagi pasangan kita

- Ayah/Ibu bagi anak-anak kita

- Anak bagi orang tua kita

- Adik/Kakak bagi saudara-saudara kita

- Om/Tante bagi keponakan kita

- Cucu bagi kakek nenek kita

- Karyawan di kantor

- Pemilik usaha yang harus memberikan penghidupan bagi karyawan-karyawan kita

- Pimpinan bagi para anak buah kita

- Bawahan dari atasan kita

- Tetangga di lingkungan kita

- Ketua RT atau RW di lingkungan kita

- Dsb


Banyak banget kan? Itulah ladang pelayanan kita kepada Tuhan. Jika kita begitu ingin menyenangkan hati Tuhan, maka seharusnya kita melakukan yang terbaik/termaksimal dalam setiap peranan kita itu. Tapi apakah mudah? Tidak.


Karena si iblis tidak rela melepaskan kita begitu saja, dia selalu berusaha menjatuhkan kita. Salah satunya dengan membangkitkan ingatan akan kenikmatan kita saat dahulu menghidupi manusia lama kita. Jika dulu kita dibelenggu dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, maka setelah kita bertobat dan berkomitmen hidup berkenan di hadapan Tuhan, tidak otomatis membuat kita bebas dari godaan untuk kembali hidup dalam belenggu tersebut. Malahan (IMO) godaan itu semakin besar, hal peristiwa sekecil apa pun bisa menjadi celah agar godaan itu masuk. Cuma bedanya dengan keadaan dahulu saat hidup di manusia lama adalah: Saat ini kita sadar bahwa kita mempunyai pilihan untuk mau/tidak memuaskan diri kita sendiri dari godaan tersebut. Sementara kalau dulu kan kita manuut aja saat menerima godaan tersebut.


Contoh ya: Saat melihat iklan gadget terbaru, bisa aja timbul niat untuk membeli gadget tersebut, (karena mengingat kenyamanan saat menggunakan gadget itu, prestise atau pujian yang diterima karena memakai gadget tersebut, dan kenikmatan diri karena menggunakan gadget itu) meskipun gadget yang ada saat ini sebenarnya sudah memadai untuk dipakai melakukan setiap aktivitas saya. Dan saat ke kantor, orang-orang seisi kantor pun ramai membicarakan berbagai kelebihan gadget baru itu, dan saat makan siang saya pun melihat merk gadget itu sedang melakukan pameran, makin tebel aja kan tuh godaannya? Tapi tetep aja keputusannya ada di tangan saya untuk membeli atau tidak.


Coba ganti contoh godaan keinginan mata di atas dengan godaan khas: Keinginan daging (libido seks dan kerakusan akan makanan), keangkuhan hidup (mendapatkan pengakuan). Polanya mirip-mirip deh, diri kita dibawa kepada ingatan akan kenikmatan kita saat dahulu memuaskan diri.


Bagaimana menurut Anda? Please feel free for sharing and comments.


Sumber gambar: Google.co.id

Pesan Dari Pooh

Posted in


Tadi saya dan keluarga besar menonton Kungfu Panda untuk ke 2 kalinya, ya kedua kali karena memang yang kedua ini bersama dengan ponakan. Dan karena kedua kali, maka tontonan kali ini bisa lebih fokus kepada pesan-pesan yang terkandung dalam film itu, dibanding saat pertama kali yang dipenuhi dengan tawa yang membahana.


Ada satu pesan yang menancap cukup dalam bagi saya, sehingga saya merenunginya. Yaitu adegan-adegan terakhir saat si Pooh (panda endut itu) berkata: “Yang penting bukan masa lalumu yang pahit, tapi hal kamu akan menjadi apa di masa depan”. Daleeeem bangeet!


Bagi saya, jika ditranslate ke perjalanan hidup saya sebagai Kristiani, maka kata-kata itu akan menjadi: “Yang penting bukan kehidupan manusia lama kamu yang rusak oleh berbagai dosa yang kamu lakukan untuk kepuasan diri kamu (karena saat kita melakukan sesuatu untuk kepuasan diri kita itu sama dengan dosa, memberontak kepada Tuhan), itu masa lalu yang Tuhan sudah ampuni saat kamu sadar, mengaku, menyesal dan bertobat. Yang penting adalah bagaimana kamu menjalani sisa hidup kamu di dunia ini selanjutnya: Menjadi manusia Allah seperti yang telah dirancang-Nya bagi manusia pada mulanya dengan role modelnya Tuhan Yesus ATAU justru memberontak kembali pada Tuhan?”


Saya percaya, bahwa dalam setiap langkah kehidupan kita Tuhan selalu berbicara, yang perlu kita lakukan adalah mempunyai kepekaan untuk memahami dan mendengar suara-Nya. Jadi komitmen apa yang sudah kita ambil untuk menjalani sisa kehidupan kita ini?


Sumber gambar: Google.com

Dejiiig!

Posted in


Guys, (yes it is for you all man in this wold) pernah merasa sebel dan kesel sama pasangan gak? Kalo sudah menikah, tentu rasa negative ini ditujukan kepada istri. Well, saya pernah lho. Ceritanya, karena suatu masukan yang ditolak oleh istri, saya merasa istri tidak menghargai saya. Langsung kesimpulan ini didapat tanpa melakukan penelaahan lebih mendalam. Ujung-ujungnya saya merancang serangkaian aksi untuk memperbaiki attitude istri tercinta ini.


Padahal, selain saya tidak menelaah kesimpulan saya lebih mendalam, saya telah ditipu oleh hati/perasaan saya sendiri. Maksudnya? Begini, motif saya merancang rencana untuk memperbaiki sikap buruk istri saya tersebut adalah terdengar baik bukan? Padahal terselip hal jahat di dalamnya. Apakah itu? Saya ingin membalas kepada istri saya, dan menunjukkan: “Who is the boss!” Is it nasty or what?


Memang ya, manusia itu bodoh, bahkan bisa ditipu perasaannya sendiri. Mengapa bisa demikian? Yah pasti karena manusia sudah jatuh dalam dosa yang disebabkan pertama kali oleh ketidaktaatan Adam. Memang untuk orang Kristen, meyakini bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib telah menebus semua dosa-dosa kita. Namun itu tidak secara otomatis kita langsung menjadi malaikat lho, menjadi 100% baiiiiiik banget. Ada perjuangan yang harus kita lakukan untuk mengalahkan kodrat dosa di daging kita ini, dan kehidupan di dunia ini lah perjuangan itu harus dilakukan setuntas-tuntasnya. Sehingga pada saatnya nanti (entah meninggal atau kedatangan-Nya yang kedua kali) kita berada pada kondisi yang sesuai standarnya Tuhan untuk masuk Kerajaan-Nya.


Jadi jangan pikir karena Tuhan Yesus sudah berjuang sampai mati di kayu salib, maka kita tidak usah berjuang juga. Kita juga mesti berjuang. Selamat berjuang guys!


Doa Bapa Kami, Sudahkah Dilakukan?

Posted in

JANGAN katakan BAPA..
Jika kamu tidak berlaku sebagai 'anak'setiap hari..

JANGAN katakan KAMI..
Jika hidupmu penuh dengan 'ke-egois-an'...

JANGAN katakan YANG ADA DISURGA..
Jika yang kamu pikirkan adalah 'perkara duniawi' saja...

JANGAN katakan DIMULIAKAN NAMAMU...
Jika kamu tidak 'menghormati & memuliakan' Allah sebagaimana mestinya...

JANGAN katakan DATANGLAH KERAJAANMU..
Jika yang kau obsesikan hanyalah 'keberhasilan duniawi saja'...

JANGAN katakan JADIKANLAH KEHENDAKMU..
Jika yang kamu lakukan hanyalah 'yang kamu inginkan'...

JANGAN katakan BERILAH KAMI MAKANAN...
Jika kamu tidak 'peduli' terhadap orang yang sedang kesusahan...

JANGAN katakan AMPUNILAH KESALAHAN KAMI..
Jika kamu masih menyimpan 'dendam' dengan orang lain...

JANGAN katakan JANGAN MASUKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN...
Jika kamu tidak berniat 'berhenti berbuat dosa & bertobat'...

JANGAN katakan BEBASKAN KAMI DARI YANG JAHAT..
Jika kamu sungguh2 tidak tegas 'menolak kejahatan'

JANGAN katakan AMIN..
Jika kamu 'tidak sungguh2 dengan doa BAPA KAMI' ini...


Sudahkah kita menghayati Doa Bapa Kami dengan sungguh-sungguh?

Sumber: Milis Terang Dunia

Sikap Hidup Bersyukur

Posted in

SIKAP HIDUP BERSYUKUR

oleh: Ev. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.

Rasa syukur adalah perasaan terindah yang dapat dimiliki manusia. Bersyukur adalah puncak sukacita hidup, melebihi nikmat seks, menang undian atau menyaksikan putri diwisuda menjadi sarjana. Tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman, hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari situlah mengalir keluar ungkapan syukur di dalam orang yang di dalam hatinya kasih Allah berdenyut.

Sejak kecil saya diajar untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur atas segala sesuatu dan pada segala
waktu. Tetapi kenyataan hidup yang tidak enak, hanya membuat anjuran itu menjadi beban mental berat yang menghambat lahirnya rasa syukur. Jika orang-tua tidak sanggup membelikan pakaian baru untuk anak-anaknya menjelang Natal, bagaimana mungkin bersyukur? Jika masalah rumah tangga menjadi-jadi, bagaimana dapat bersyukur? Tetapi tidak bersyukur dalam kesulitan juga merupakan beban berat. Beban itu hanya terangkat tatkala kita mulai belajar bersyukur. Musik indah kesukaan itu terdengar hanya bila kita mulai menggetarkan dawai-dawai hati kita untuk terpesona, takjub, girang, dan heran. Tidak bersyukur adalah ciri orang yang tidak mengenal Tuhan (Rm. 1:21). Ia menggerogoti roh, melayukan jiwa dan membusukkan kehidupan. Jadi bagaimana sebaliknya? Bersyukur atau tidak?

Syukur harus dilihat bukan sebagai kewajiban tetapi sebagai kesempatan. Syukur seumpama tepuk tangan meriah untuk seorang musikus piawai yang membuat dawai hati kita ikut tergetar, atau seumpama tawa lepas karena lawakan yang lucu, atau serupa pelukan spontan untuk seorang yang kita kasihi. Syukur membuat kasih-karunia-Nya terhayati segar di tengah dunia yang kelam dan berat ini.

Syukur atau terima kasih adalah respons terhadap suatu hadiah. Rasa syukur kita akan mengalir lancar bila mendapatkan suatu hadiah sejati. Tidak semua yang kita terima adalah hadiah. Jika seorang pengemis menemukan nasi bungkus utuh di tong sampah seorang kaya, ia tidak bersyukur. Itu bukan hadiah, itu hanya sekadar sesuatu yang di dalamnya terlibat pikiran, perhatian dan hati sang pemberi. Tak perlu mahal, bisa berupa sepucuk surat, sekuntum bunga, atau apa saja yang pemberinya menaruh dirinya di dalam pemberian itu. Pemberian yang pemberinya tidak terlibat adalah sesuatu yang palsu dan tak menggerakkan rasa syukur. Hadiah sejati juga mengandung balik sesuatu darinya. Pengorbanan itu bisa berupa waktu, uang, talenta, entah apa saja. Tetapi ia tidak diberikan agar dibayar kembali, sebab bila demikian ia bukan lagi hadiah tetapi pinjaman. Hadiah sejati tidak membuat kita merasa berhutang, bahkan juga tidak berhutang syukur. Pemberian selalu merupakan judi, sebab begitu diberikan, terserah kepada penerima hendak diapakan hadiah itu. Hadiah sejati membuat kita terkejut. Jika istri menanyakan dulu apa yang diinginkan suami sebagai hadiah ulang tahunnya, hilanglah unsur kejutan itu. Suami mendapatkan yang diinginkan, tetapi tidak ada kejutan, tidak ada risiko, bukan hadiah sejati! Bukankah Kristus hadiah sejati Allah untuk kita, mengandung semua ciri ini?

Hadiah sejati sesempurna itu hanya datang sesekali dalam hidup. Tetapi jika kita menunggu sampai datang yang sempurna, wajah kita akan terus murung tanpa sinar kesukaan syukur menghiasnya. Orang yang perfeksionis membunuh dorongan syukur dalam hidupnya. Hidup ini memang penuh kepahitan, kesakitan dan masalah. Namun demikian, kita perlu membuka hati bukan memompa perasaan bagi aliran syukur. Syukur itu mungkin bermula dari desah dan bisik lemah terima kasih untuk akhirnya menjadi sorak sorai. Syukur sering kali harus dimulai dari tetes kecil tak berarti yang menganak-sungai ke samudera kesukaan penuh gelora.

Syukur selalu diutarakan atas sesuatu yang lain dari yang lain. Sinar kemilau matahari paling indah terlihat di balik awan-awan. Pernahkah Anda bersyukur bahwa Anda lebih beruntung dari orang lain? Syukur semacam itu sangat memalukan karena bersyukur atas penderitaan orang lain. Namun, jika Anda menunggu sampai semua pengemis punya mobil, sampai semua orang tidak bisa mati, kita tidak akan pernah bisa bersyukur! Bukan penderitaan orang yang menjadi dasar yang membuat hati kita bersyukur, tetapi karena kelemahan kita memang membuat kita harus memiliki pembanding, yang membangkitkan kita untuk bersyukur.

Kedengarannya syukur berlawanan dengan kekuatiran. Namun keduanya berhubungan erat. Jika orang tidak pernah mengizinkan diri merasa kuatir sedikit pun, kejutan syukur ketika rasa kuatir teratasi tak pernah pula dialaminya. Kini banyak orang berusaha membuang kuatir jauh-jauh. Dengan film, makanan, bir, pil penenang, dsb. Kuatir tidak dapat diatasi dengan melarikan diri darinya. Mengapa tidak menatap kuatir itu sendiri dan membawanya di hadapan Tuhan? Ketika Dia menerangi situasi dan hati kita, kuatir lenyap dan syukur menggantikannya.

Sekuat apa pun struktur mental dan rohani kita, dalam hal bersyukur kita semua seperti busa sabun yang ringan dan mudah tertipu ke sana sini. Tidak heran bila sulit sekali memiliki sikap hidup bersyukur. Namun jika kita membuka hati dan mengizinkan Allah yang meniupkan napas kehidupan mengalir melalui paru-paru kita untuk membangkitkan tenaga syukur itu, kita dapat merayakan hidup ini di dalam dan bersama Tuhan.

Sumber:


Profil Ev. Paul S. Hidayat:

Ev. Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th., Ph.D. (Cand.) adalah Direktur Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA). Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan Master of Theology (M.Th.) di Calvin Theological Seminary, U.S.A. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Oxford Center for Mission Studies, U.K.


Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...