Welcome Message

Mengapa kita hidup di dunia ini? Untuk apakah kita hidup di dunia ini? Pertanyaan mendasar yang jawabannya akan menentukan cara kita hidup, dan bagaimana kita hidup. Apakah bermakna atau sia-sia...

twitter

Follow on Tweets

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Apa Penyebabnya?

Posted in


Tulisan ini hasil kegalauan setelah membaca Renungan Truth  “Model Hidup yang Wajar dan Normal” dan “Kesadaran Siapakah Manusia” . Sifat tulisan ini cukup analitis dan diharapkan dapat memberikan pencerahan mengenai profil-profil orang yang belum memahami kebenaran Firman Tuhan. Selamat menikmati!

Banyak orang menganggap bahwa model hidup yang wajar dan normal adalah dengan mendandani manusia jasmani, mendandani tubuhnya, melengkapi diri dengan berbagai fasilitas hidup dan kenyamanan diri dengan tujuan untuk memuaskan diri sendiri. Padahal saat kita melakukan hal tersebut berarti kita sudah menyayangi manusia jasmani kita dibandingkan manusia rohani (jiwa dan roh) kita. Dan saat kita menyayangi manusia jasmani kita dalam kehidupan hari ini berarti kebinasaan bagi manusia rohani kita di kehidupan akan datang/kehidupan kekal. Mengapa seseorang bisa memiliki pola pikir yang salah ini?

Jawabnya karena orang tersebut tidak memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan, keinginan Tuhan, dan isi hati Tuhan. Jika demikian, pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa seseorang bisa tidak memahami kehendak, keinginan, dan isi hati Tuhan?

Kalau dilihat dari sisi orang tersebut, maka setidaknya ada 4 sebab:

1. Tidak serius belajar kebenaran Firman Tuhan, lebih disebabkan karena malas.

2. Tidak mau belajar kebenaran Firman Tuhan, karena hal itu menyakitkan dagingnya. Ya iyalah, kan sangat berpotensi merenggut kenyamanan hidup. Hanya orang sinting yang mau kehilangan kenyamanan hidup. Namun memang orang yang dianggap ‘sinting’ oleh dunia justru adalah orang yang waras di hadapan Tuhan.

3. Tidak mau tahu kebenaran Firman Tuhan, sudah bersikap antipasti terlebih dahulu terhadap kebenaran Firman Tuhan yang murni, lebih disebabkan karena telah menerima ajaran yang salah.

4. Tidak tahu kebenaran Firman Tuhan, orang-orang ini tidak/belum terjangkau Injil. Mereka belum menjadi orang percaya.

Nah berdasarkan pemetaan sederhana tersebut, seharusnya bisa dibayangkan langkah yang bisa kita lakukan sebagai alat Kristus guna menuntun orang lain memahami kebenaran Firman Tuhan yang murni. Apa yang bisa kita lakukan sebagai alat Kristus?


Ada pendapat yang ingin dibagikan? Silakan dan jangan sungkan.


Sumber gambar: www.google.com  

Tahapan Kedewasaan

Posted in


Beberapa hari yang lampau, saya sedang nonton film yang dibintangi Will Smith yang judulnya kalau tidak salah "The Pursuit Of Happyness". Salah satu adegan, menceritakan Will Smith sedang di Gereja bersama para tunawisma yang lain, dan para pemuji yang bertugas menyanyi "Tuhan jangan singkirkan gunung (masalah) itu, tapi berikan kekuatan untuk mendakinya"


Eh dari sana jadi mikir, bahwa dalam menghadapi masalah akan terlihat tahapan-tahapan kedewasaan seseorang. Coba kita lihat apa aja sih tahapan-tahapan tersebut, dan kita akui dengan jujur ada di tahapan mana diri kita.

1. "Tuhan tolong singkirkan masalah saya ini, saya gak sanggup Tuhan"

Ini bisa dibilang baby rohani ya. Sangat menyayangi dirinya sendiri secara salah, jika seseorang mash menyayangi diri sendiri secara salah, ia tidak akan bisa menyayangi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi.

2. "Tuhan tolong berikan kekuatan agar saya dapat menyelesaikan masalah ini"

Sudah lebih baik dari yang pertama, namun IMHO fokusnya masih kepada diri sendiri, bagaimana agar masalahnya selesai dan hidup nyaman di dunia ini seperti anak-anak dunia lainnya. Masih menyayangi dirinya sendiri.

3. "Tuhan terima kasih untuk masalah ini, karena saya tahu Bapa membentuk saya melalui masalah ini. Inilah salah satu wujud kasih Bapa kepada saya”.


Ini, IMHO, sudah lebih baik dibanding kedua tahapan sebelumnya. Masalah yang dialami sudah dimengerti sebagai kasih Tuhan kepada dirinya.

4. “Tuhan, saya mau memikirkan, mencari dan memikul semua hal yang menjadi beban dan masalah-Mu. Saya mau hidup saya berguna bagi-Mu”.


Ini tahapan yang lebih maju dari sebelumnya, dirinya bersedia memikul semua hal yang menjadi beban Tuhan. Adapun, beban Tuhan adalah keselamatan jiwa-jiwa manusia. Keselamatan sendiri adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, yang dicontohkan dengan sangat sempurna oleh Tuhan Yesus Kristus.


Sumber gambar: Google.com

Binatang Dalam Diri Manusia

Posted in


Akhir-akhir ini saya sedang hobi baca buku-buku sejarah kuno dan film-film yang memotret kondisi masyarakat di masa kuno itu. Salah satu buku berjudul “Sejarah Gelap Kaisar Roma”, di dalamnya menggambarkan cukup banyak kondisi masyarakat saat itu. Mungkin sudah umum diketahui bahwa yang namanya acara “Gladiator” (pertarungan hidup mati antara sesama petarung) adalah hal yang umum saat itu, saat nyawa menjadi tidak berharga karena dianggap hanya sebagai hiburan semata. Begitu pula yang namanya free sex bukanlah hal yang tabu bagi masyarakat saat itu, kalau tidak mau dibilang sebagai suatu kewajaran. Perbudakan, perdagangan manusia, dan intinya eksploitasi nilai-nilai kemanusiaan yang sangat rendah, adalah hal yang wajar dan sah saja saat itu.  

Apakah hal-hal ini masih terjadi saat ini? Masih, lihat saja kasus Mesuji, Bima, atau Cikeusik. Saat manusia memuaskan hasrat binatangnya untuk menjadi predator bagi sesamanya. Cuma karena pengetahuan saat ini lebih baik dibandingkan zaman kuno dulu, maka hal-hal yang disebutkan di paragraph 1 bisa dibilang tidak diakui sebagai hal yang wajar bagi manusia umumnya. Meskipun tidak diakui bukan berarti hal-hal itu tidak terjadi, tetap terjadi, namun tidak secara terang benderang, tercium namun tidak (atau enggan?) dibuktikan.

Jadi perhatikan saja, dari masa ke masa, hasrat binatang manusia selalu mempunyai tempat dalam masyarakat. Memang kenyataan bahwa di dalam diri manusia yang sudah berdosa ini terdapat naluri dan sifat-sifat kebinatangan. Contoh-contoh yang disebutkan pada paragraph sebelumnya mungkin adalah contoh yang ekstrim, namun kejadian-kejadian seperti: Mengingini hak/barang/milik orang lain, menjegal rekan kerja di kantor demi promosi, bergosip, memfitnah, membicarakan keburukan orang lain, poligami, memiliki PIL/WIL, cari muka di kantor/sekolah, ingin dipuji orang lain, ingin dianggap hebat orang lain, ingin didewakan orang lain, dan lainnya yang dapat kita sebutkan umum terjadi dalam keseharian hidup manusia. Semua itu adalah salah satu sifat dan naluri binatang yang berada dalam diri kita.

Melihat kenyataan itu, bisa dibayangkan betapa agungnya mahluk yang bernama manusia itu jika tidak jatuh dalam dosa. Betapa luar biasa tingginya nilai moral dan kesucian manusia yang telah dirancang oleh Tuhan, seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa. Maka adalah hal yang sangat tidak berlebihan Alkitab menyatakan bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. Memang manusia itu dirancang untuk menjadi mahluk yang tinggi, mahluk yang agung, yang keagungannya menyerupai Allah. Dan sungguh tidak berlebihan juga Tuhan Yesus berkata bahwa “kita harus sempurna sama seperti Bapa di Surga adalah sempurna” (Mat. 5:48).


Can I Ask For Help?

Posted in


Kemarin baru saja mendengar khotbah PA Suara Kebenaran, Pdt. DR. Erastus Sabdono menyinggung soal arti kesetiaan yang sejati. Dan dari sana pemikiran saya berkembang seperti tulisan saya di bawah ini.

Kesetiaan yang sejati adalah pengorbanan tanpa batas untuk Tuhan. Untuk itu seseorang harus tidak menyayangkan nyawanya sendiri/bersedia melepaskan segalanya untuk memuaskan hati Tuhan. Tidak mencintai dan menyayangkan nyawa kita sendiri berarti kita mengasihi diri kita sendiri secara benar (ingin masuk ke dalam hidup kekal), sementara dengan mencintai dan menyayangkan nyawa kita sendiri berarti kita mengasihi diri kita sendiri secara salah (tidak peduli akan nasib di kekekalan nanti harus masuk ke dalam kebinasaan kekal, yang penting senang-senang dalam kehidupan hari ini).

Pada suatu titik, kita akan merasa bahwa tidak boleh meminta pertolongan kepada Tuhan untuk masalah-masalah jasmani seberapa pun beratnya. Mengapa?

Jika kita meminta tolong kepada Tuhan untuk masalah-masalah jasmani berarti kita masih mencintai dan menyayangkan nyawa/diri kita sendiri artinya mengasihi diri sendiri secara salah. Jika kita masih mengasihi diri sendiri secara salah, pasti kita tidak bisa mengasihi Tuhan dengan benar dan maksimal.

Huff....berat banget ya. Lebih mudah untuk dipikirkan dan dikatakan dibandingkan dilakukan dalam hidup ini. Namun karena sudah mengetahui arahnya, maka mari kita berusaha keras menuju ke sana.


Sumber gambar: http://28digits.com

Tidak Bisa Mengabdi Kanan Dan Kiri

Posted in

Pembaca budiman,



Pernah gak merasakan timbulnya keinginan diri yang sangat hebat, menuntut untuk dipenuhi? Saya pernah lho, padahal ketika itu saya dalam kondisi yang (menurut saya) jernih. Jadi saya sudah mulai bisa membedakan motif terdalam dari suatu stimulus, dan saya paham bahwa keinginan yang timbul itu adalah berasal dari daging (alarmnya bunyi nih), namun si daging itu menuntut banget untuk saya penuhi, maka saya menyerah, dan tanpa berpikir lagi, saya penuhi dahaga daging itu.


Nah setelah memenuhi hal ini, saya lalu merasa kepekaan untuk merasakan asal muasal stimulus menjadi lemah (atau hilang?). Saya menjadi cerobih untuk bertindak dan berkata-kata tanpa berpikir panjang. Dengan kata lain, dari lubang pemberontakan kepada Allah yang satu, saya terjerumus ke pemberontakan yang lain. Padahal kalau dipikir, antara pemberontakan yg awal dengan yg setelahnya sama sekali tidak berhubungan.


Mengapa demikian? Saya mengambil kesimpulan karena si jiwa ini mulai berteman dengan daging (dari pemberontakan pertama itu), maka si jiwa ini menjadi terbiasa untuk mendengarkan dan menuruti stimulus daging, karena si jiwa menganggap si daging ini adalah temannya. Firewall yang dulu dipasang untuk menangkal daging perlahan-lahan mulai di non-aktifkan oleh si jiwa. Dan sebaliknya si jiwa mulai menjauhi si roh, tidak mendengarkan apa perkataan dan keinginan roh.


Bagi saya pribadi, ini merupakan pembuktian konkret dari Matius 6: 24.


Silakan berpendapat lho yaaa...

Kenyataan Yang Menguatkan

Posted in


Note: Btw setelah Anda membaca ini please don’t do this:


1. Menganggap diri saya lebih tinggi (dalam hal rohani) dari keadaan saya sebenarnya, saya manusia biasa yang hidup di dunia ini, artinya saya pun masih berjuang untuk mematikan ‘diri’ saya setiap hari.


2. Menganggap bahwa ini adalah kosmetik. To be honest, saya tulus hanya mau berbagi aja kok. Tidak ada motif mencari pujian (makanya saya bilang di poin 1 seperti itu).



Akhir-akhir ini naik motor menjadi lebih menyenangkan. Kok bisa? Naik motor kan lebih banyak gak enaknya dibanding enaknya??? Iya sih, cuma mengapa saya bilang demikian karena saat mengemudi, pikiran bawah sadar saya banyak memunculkan hal-hal yang sangat dalam (menurut saya).


Tadi juga begitu, saat sedang menyanyi:


“Ya Tuhanku, aku hendak bermazmur bagi-Mu selagi ku hidup”


“Ya Allahku, aku hendak bernyanyi bagi-Mu selagi ku ada” (dalam hati saya berkata: “Ya Tuhan, saya mau itu dalam hidup saya, tidak hanya nyanyian kata-kata namun nyanyian hidup)


“Inilah yang kuserukan kepada-Mu, nyanyian, pujian, dan pengangungan kepada-Mu” (dalam hati saya: “Ya Tuhan, saya mau seumur hidup saya adalah nyanyian, pujian dan pengagungan untuk-Mu)


“Biarlah manis Kau dengar Tuhan…manis Kau dengar Tuhan” (dalam hati saya: “Ya Tuhan, saya mau hidup saya manis di hadapan Tuhan, memuaskan hati Tuhan, menyenangkan hati-Mu, and I really want to do it precisely”)


“Dan hatiku bersuka karena-Mu”


Dari menyanyikan lagu di atas, timbul suatu pemikiran ini: Ternyata kenyataan bahwa hidup kita ini harus memuaskan hati Tuhan, menyenangkan-Nya, manis di hadapan-Nya; akan memberikan kekuatan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini dan segala peranannya. Setidaknya hal ini berlaku bagi saya.


Lucunya, dulu pada saat sedang salah asuhan, saya merasa mendapat kekuatan saat menyanyikan lagu-lagu yang menyatakan bahwa “Tuhan akan menolong, menggendong, menyembuhkan, mengeluarkan saya dari masalah”. Bener-bener bayiiiii banget.


Nah itu pengalaman saya, ada yang ingin berbagi pengalamannya? Feel free for share.

Menahan diri vs Mengendalikan diri

Posted in


Menahan diri vs Mengendalikan diri


Saat melihat judul di atas apa yang ada dibenak Anda? “Kok bisa???” Mungkin itulah kata yang akan muncul. Ya karena bagi sebagian besar kita kedua kata itu adalah serupa atau mirip bak saudara kandung. Padahal sesungguhnya sangat berbeda. Apa bedanya? Saya coba bedah ya, setajam silet (iklan..hahaha…)


1. Menahan diri adalah tindakan kompromi dengan hasrat/keinginan diri yang muncul menuntut untuk dipuaskan. Jadi seandainya ingin punya handphone, orang yang menahan diri akan kompromi dengan keinginannya itu dan berkata: “Nanti aja ya tunggu gajian” atau “Nanti aja nunggu hape yang ini dijual dulu”. Sementara mengendalikan diri adalah tindakan mematikan hasrat/keinginan diri tersebut. Untuk contoh yang sama, orang yang mengendalikan diri akan berkata: “Ah gw gak mau ingin itu”. Langsung dibunuh hasrat itu.


2. Menahan diri itu mirip seperti tindakan membuka pintu bagi pencuri. Meskipun tidak dipersilakan masuk, namun kemungkinan untuk dapat masuk dan menguasai rumah sedemikian besar karena tuan rumah sudah membuka pintu. Sementara mengendalikan diri seperti menutup rapat-rapat pintu bagi pencuri dan mengeluarkan ujung pistol dari lubang kecil yang mengarah ke kepala pencuri.


Baru ketemu yang dua itu, kalo menurut Anda gimana? Feel free to share!


Duh Keinget Lagi!

Posted in


Well…isi arikel kali ini masih terkait dengan artikel sebelumnya, "Pesan dari Pooh". Jika belum sempat melihatnya silakan klik di sini.


Jadi setelah kita menyadari bahwa yang penting adalah bagaimana kita menjalani sisa hidup kita di dunia ini untuk berkenan di hadapan Tuhan/mengerjakan keselamatan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa setiap peranan dalam hidup yang sedang kita jalani itu adalah pelayanan kita. Maka yang dimaknai sebagai pelayanan bukan lagi hanya saat: Menjadi kolektan, menjadi pemusik Gereja, WL, singer, pengkhotbah, guru Sekolah Minggu, dan sebagainya. Namun yang dimaknai sebagai pelayanan kita kepada Tuhan adalah peranan kita sebagai:

- Kepala keluarga bagi keluarga kita

- Suami/istri bagi pasangan kita

- Ayah/Ibu bagi anak-anak kita

- Anak bagi orang tua kita

- Adik/Kakak bagi saudara-saudara kita

- Om/Tante bagi keponakan kita

- Cucu bagi kakek nenek kita

- Karyawan di kantor

- Pemilik usaha yang harus memberikan penghidupan bagi karyawan-karyawan kita

- Pimpinan bagi para anak buah kita

- Bawahan dari atasan kita

- Tetangga di lingkungan kita

- Ketua RT atau RW di lingkungan kita

- Dsb


Banyak banget kan? Itulah ladang pelayanan kita kepada Tuhan. Jika kita begitu ingin menyenangkan hati Tuhan, maka seharusnya kita melakukan yang terbaik/termaksimal dalam setiap peranan kita itu. Tapi apakah mudah? Tidak.


Karena si iblis tidak rela melepaskan kita begitu saja, dia selalu berusaha menjatuhkan kita. Salah satunya dengan membangkitkan ingatan akan kenikmatan kita saat dahulu menghidupi manusia lama kita. Jika dulu kita dibelenggu dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, maka setelah kita bertobat dan berkomitmen hidup berkenan di hadapan Tuhan, tidak otomatis membuat kita bebas dari godaan untuk kembali hidup dalam belenggu tersebut. Malahan (IMO) godaan itu semakin besar, hal peristiwa sekecil apa pun bisa menjadi celah agar godaan itu masuk. Cuma bedanya dengan keadaan dahulu saat hidup di manusia lama adalah: Saat ini kita sadar bahwa kita mempunyai pilihan untuk mau/tidak memuaskan diri kita sendiri dari godaan tersebut. Sementara kalau dulu kan kita manuut aja saat menerima godaan tersebut.


Contoh ya: Saat melihat iklan gadget terbaru, bisa aja timbul niat untuk membeli gadget tersebut, (karena mengingat kenyamanan saat menggunakan gadget itu, prestise atau pujian yang diterima karena memakai gadget tersebut, dan kenikmatan diri karena menggunakan gadget itu) meskipun gadget yang ada saat ini sebenarnya sudah memadai untuk dipakai melakukan setiap aktivitas saya. Dan saat ke kantor, orang-orang seisi kantor pun ramai membicarakan berbagai kelebihan gadget baru itu, dan saat makan siang saya pun melihat merk gadget itu sedang melakukan pameran, makin tebel aja kan tuh godaannya? Tapi tetep aja keputusannya ada di tangan saya untuk membeli atau tidak.


Coba ganti contoh godaan keinginan mata di atas dengan godaan khas: Keinginan daging (libido seks dan kerakusan akan makanan), keangkuhan hidup (mendapatkan pengakuan). Polanya mirip-mirip deh, diri kita dibawa kepada ingatan akan kenikmatan kita saat dahulu memuaskan diri.


Bagaimana menurut Anda? Please feel free for sharing and comments.


Sumber gambar: Google.co.id

Pesan Dari Pooh

Posted in


Tadi saya dan keluarga besar menonton Kungfu Panda untuk ke 2 kalinya, ya kedua kali karena memang yang kedua ini bersama dengan ponakan. Dan karena kedua kali, maka tontonan kali ini bisa lebih fokus kepada pesan-pesan yang terkandung dalam film itu, dibanding saat pertama kali yang dipenuhi dengan tawa yang membahana.


Ada satu pesan yang menancap cukup dalam bagi saya, sehingga saya merenunginya. Yaitu adegan-adegan terakhir saat si Pooh (panda endut itu) berkata: “Yang penting bukan masa lalumu yang pahit, tapi hal kamu akan menjadi apa di masa depan”. Daleeeem bangeet!


Bagi saya, jika ditranslate ke perjalanan hidup saya sebagai Kristiani, maka kata-kata itu akan menjadi: “Yang penting bukan kehidupan manusia lama kamu yang rusak oleh berbagai dosa yang kamu lakukan untuk kepuasan diri kamu (karena saat kita melakukan sesuatu untuk kepuasan diri kita itu sama dengan dosa, memberontak kepada Tuhan), itu masa lalu yang Tuhan sudah ampuni saat kamu sadar, mengaku, menyesal dan bertobat. Yang penting adalah bagaimana kamu menjalani sisa hidup kamu di dunia ini selanjutnya: Menjadi manusia Allah seperti yang telah dirancang-Nya bagi manusia pada mulanya dengan role modelnya Tuhan Yesus ATAU justru memberontak kembali pada Tuhan?”


Saya percaya, bahwa dalam setiap langkah kehidupan kita Tuhan selalu berbicara, yang perlu kita lakukan adalah mempunyai kepekaan untuk memahami dan mendengar suara-Nya. Jadi komitmen apa yang sudah kita ambil untuk menjalani sisa kehidupan kita ini?


Sumber gambar: Google.com

Dejiiig!

Posted in


Guys, (yes it is for you all man in this wold) pernah merasa sebel dan kesel sama pasangan gak? Kalo sudah menikah, tentu rasa negative ini ditujukan kepada istri. Well, saya pernah lho. Ceritanya, karena suatu masukan yang ditolak oleh istri, saya merasa istri tidak menghargai saya. Langsung kesimpulan ini didapat tanpa melakukan penelaahan lebih mendalam. Ujung-ujungnya saya merancang serangkaian aksi untuk memperbaiki attitude istri tercinta ini.


Padahal, selain saya tidak menelaah kesimpulan saya lebih mendalam, saya telah ditipu oleh hati/perasaan saya sendiri. Maksudnya? Begini, motif saya merancang rencana untuk memperbaiki sikap buruk istri saya tersebut adalah terdengar baik bukan? Padahal terselip hal jahat di dalamnya. Apakah itu? Saya ingin membalas kepada istri saya, dan menunjukkan: “Who is the boss!” Is it nasty or what?


Memang ya, manusia itu bodoh, bahkan bisa ditipu perasaannya sendiri. Mengapa bisa demikian? Yah pasti karena manusia sudah jatuh dalam dosa yang disebabkan pertama kali oleh ketidaktaatan Adam. Memang untuk orang Kristen, meyakini bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib telah menebus semua dosa-dosa kita. Namun itu tidak secara otomatis kita langsung menjadi malaikat lho, menjadi 100% baiiiiiik banget. Ada perjuangan yang harus kita lakukan untuk mengalahkan kodrat dosa di daging kita ini, dan kehidupan di dunia ini lah perjuangan itu harus dilakukan setuntas-tuntasnya. Sehingga pada saatnya nanti (entah meninggal atau kedatangan-Nya yang kedua kali) kita berada pada kondisi yang sesuai standarnya Tuhan untuk masuk Kerajaan-Nya.


Jadi jangan pikir karena Tuhan Yesus sudah berjuang sampai mati di kayu salib, maka kita tidak usah berjuang juga. Kita juga mesti berjuang. Selamat berjuang guys!


Doa Bapa Kami, Sudahkah Dilakukan?

Posted in

JANGAN katakan BAPA..
Jika kamu tidak berlaku sebagai 'anak'setiap hari..

JANGAN katakan KAMI..
Jika hidupmu penuh dengan 'ke-egois-an'...

JANGAN katakan YANG ADA DISURGA..
Jika yang kamu pikirkan adalah 'perkara duniawi' saja...

JANGAN katakan DIMULIAKAN NAMAMU...
Jika kamu tidak 'menghormati & memuliakan' Allah sebagaimana mestinya...

JANGAN katakan DATANGLAH KERAJAANMU..
Jika yang kau obsesikan hanyalah 'keberhasilan duniawi saja'...

JANGAN katakan JADIKANLAH KEHENDAKMU..
Jika yang kamu lakukan hanyalah 'yang kamu inginkan'...

JANGAN katakan BERILAH KAMI MAKANAN...
Jika kamu tidak 'peduli' terhadap orang yang sedang kesusahan...

JANGAN katakan AMPUNILAH KESALAHAN KAMI..
Jika kamu masih menyimpan 'dendam' dengan orang lain...

JANGAN katakan JANGAN MASUKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN...
Jika kamu tidak berniat 'berhenti berbuat dosa & bertobat'...

JANGAN katakan BEBASKAN KAMI DARI YANG JAHAT..
Jika kamu sungguh2 tidak tegas 'menolak kejahatan'

JANGAN katakan AMIN..
Jika kamu 'tidak sungguh2 dengan doa BAPA KAMI' ini...


Sudahkah kita menghayati Doa Bapa Kami dengan sungguh-sungguh?

Sumber: Milis Terang Dunia

Sikap Hidup Bersyukur

Posted in

SIKAP HIDUP BERSYUKUR

oleh: Ev. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.

Rasa syukur adalah perasaan terindah yang dapat dimiliki manusia. Bersyukur adalah puncak sukacita hidup, melebihi nikmat seks, menang undian atau menyaksikan putri diwisuda menjadi sarjana. Tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman, hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari situlah mengalir keluar ungkapan syukur di dalam orang yang di dalam hatinya kasih Allah berdenyut.

Sejak kecil saya diajar untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur atas segala sesuatu dan pada segala
waktu. Tetapi kenyataan hidup yang tidak enak, hanya membuat anjuran itu menjadi beban mental berat yang menghambat lahirnya rasa syukur. Jika orang-tua tidak sanggup membelikan pakaian baru untuk anak-anaknya menjelang Natal, bagaimana mungkin bersyukur? Jika masalah rumah tangga menjadi-jadi, bagaimana dapat bersyukur? Tetapi tidak bersyukur dalam kesulitan juga merupakan beban berat. Beban itu hanya terangkat tatkala kita mulai belajar bersyukur. Musik indah kesukaan itu terdengar hanya bila kita mulai menggetarkan dawai-dawai hati kita untuk terpesona, takjub, girang, dan heran. Tidak bersyukur adalah ciri orang yang tidak mengenal Tuhan (Rm. 1:21). Ia menggerogoti roh, melayukan jiwa dan membusukkan kehidupan. Jadi bagaimana sebaliknya? Bersyukur atau tidak?

Syukur harus dilihat bukan sebagai kewajiban tetapi sebagai kesempatan. Syukur seumpama tepuk tangan meriah untuk seorang musikus piawai yang membuat dawai hati kita ikut tergetar, atau seumpama tawa lepas karena lawakan yang lucu, atau serupa pelukan spontan untuk seorang yang kita kasihi. Syukur membuat kasih-karunia-Nya terhayati segar di tengah dunia yang kelam dan berat ini.

Syukur atau terima kasih adalah respons terhadap suatu hadiah. Rasa syukur kita akan mengalir lancar bila mendapatkan suatu hadiah sejati. Tidak semua yang kita terima adalah hadiah. Jika seorang pengemis menemukan nasi bungkus utuh di tong sampah seorang kaya, ia tidak bersyukur. Itu bukan hadiah, itu hanya sekadar sesuatu yang di dalamnya terlibat pikiran, perhatian dan hati sang pemberi. Tak perlu mahal, bisa berupa sepucuk surat, sekuntum bunga, atau apa saja yang pemberinya menaruh dirinya di dalam pemberian itu. Pemberian yang pemberinya tidak terlibat adalah sesuatu yang palsu dan tak menggerakkan rasa syukur. Hadiah sejati juga mengandung balik sesuatu darinya. Pengorbanan itu bisa berupa waktu, uang, talenta, entah apa saja. Tetapi ia tidak diberikan agar dibayar kembali, sebab bila demikian ia bukan lagi hadiah tetapi pinjaman. Hadiah sejati tidak membuat kita merasa berhutang, bahkan juga tidak berhutang syukur. Pemberian selalu merupakan judi, sebab begitu diberikan, terserah kepada penerima hendak diapakan hadiah itu. Hadiah sejati membuat kita terkejut. Jika istri menanyakan dulu apa yang diinginkan suami sebagai hadiah ulang tahunnya, hilanglah unsur kejutan itu. Suami mendapatkan yang diinginkan, tetapi tidak ada kejutan, tidak ada risiko, bukan hadiah sejati! Bukankah Kristus hadiah sejati Allah untuk kita, mengandung semua ciri ini?

Hadiah sejati sesempurna itu hanya datang sesekali dalam hidup. Tetapi jika kita menunggu sampai datang yang sempurna, wajah kita akan terus murung tanpa sinar kesukaan syukur menghiasnya. Orang yang perfeksionis membunuh dorongan syukur dalam hidupnya. Hidup ini memang penuh kepahitan, kesakitan dan masalah. Namun demikian, kita perlu membuka hati bukan memompa perasaan bagi aliran syukur. Syukur itu mungkin bermula dari desah dan bisik lemah terima kasih untuk akhirnya menjadi sorak sorai. Syukur sering kali harus dimulai dari tetes kecil tak berarti yang menganak-sungai ke samudera kesukaan penuh gelora.

Syukur selalu diutarakan atas sesuatu yang lain dari yang lain. Sinar kemilau matahari paling indah terlihat di balik awan-awan. Pernahkah Anda bersyukur bahwa Anda lebih beruntung dari orang lain? Syukur semacam itu sangat memalukan karena bersyukur atas penderitaan orang lain. Namun, jika Anda menunggu sampai semua pengemis punya mobil, sampai semua orang tidak bisa mati, kita tidak akan pernah bisa bersyukur! Bukan penderitaan orang yang menjadi dasar yang membuat hati kita bersyukur, tetapi karena kelemahan kita memang membuat kita harus memiliki pembanding, yang membangkitkan kita untuk bersyukur.

Kedengarannya syukur berlawanan dengan kekuatiran. Namun keduanya berhubungan erat. Jika orang tidak pernah mengizinkan diri merasa kuatir sedikit pun, kejutan syukur ketika rasa kuatir teratasi tak pernah pula dialaminya. Kini banyak orang berusaha membuang kuatir jauh-jauh. Dengan film, makanan, bir, pil penenang, dsb. Kuatir tidak dapat diatasi dengan melarikan diri darinya. Mengapa tidak menatap kuatir itu sendiri dan membawanya di hadapan Tuhan? Ketika Dia menerangi situasi dan hati kita, kuatir lenyap dan syukur menggantikannya.

Sekuat apa pun struktur mental dan rohani kita, dalam hal bersyukur kita semua seperti busa sabun yang ringan dan mudah tertipu ke sana sini. Tidak heran bila sulit sekali memiliki sikap hidup bersyukur. Namun jika kita membuka hati dan mengizinkan Allah yang meniupkan napas kehidupan mengalir melalui paru-paru kita untuk membangkitkan tenaga syukur itu, kita dapat merayakan hidup ini di dalam dan bersama Tuhan.

Sumber:


Profil Ev. Paul S. Hidayat:

Ev. Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th., Ph.D. (Cand.) adalah Direktur Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA). Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan Master of Theology (M.Th.) di Calvin Theological Seminary, U.S.A. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Oxford Center for Mission Studies, U.K.


Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Cabai Rawit Yang Pedas

Posted in


Wow, hari Minggu (27 September 2010) ini adalah hari yang luar biasa! Disebut demikian karena ada beberapa pertanyaan dalam hati yang dijawab TUHAN melalui beberapa peristiwa.

1. Cabe rawit menghilangkan kantuk

Saat di Gereja tadi, sebelum ibadah dimulai, saya sempat merasakan
kantuk yang luar biasa. Saya berpikir. “Wah kalo terus ngantuk begini, bisa-bisa ketiduran pas Firman TUHAN nih…gawaat!”

Saat sedang berusaha keras melawan kantuk yang menyerang, memori saya melayang
saat dalam perjalanan dinas ke salah satu Mal di Jakarta untuk meeting, sang supir berkata bahwa biasanya dirinya melawan kantuk dengan mengunyah cabai rawit dan telor asin. Wah bisa dicoba nih! Cuma cari telor asin n cabai dimana coba? Lalu saya teringat tadi pada saat membeli snack di Gereja, diberikan cabai rawit juga dalam bungkus snacknya. Berarti si ibu memiliki cabai rawit dong, bolehkan diminta 1 batang saja. Saya pun bergegas ke stand snack tersebut, dan mengambil cabai rawit 1 batang. Saya kunyah semuanya, telan dan walaaaa! Kantuk pun hilang! Saya pun kembali ke kursi saya dan mengikuti jalannya ibadah dengan baik.

Nah coba renungin deh, cabai rawit dapat menghilangkan kantuk di saat-saat
kita sebenarnya tidak boleh mengantuk, apalgi tertidur. Begitu pula dengan diri kita, seharusnya semua hal buruk yang kita alami –entah itu: Dimusuhi/dihina/diremehkan/dianiaya orang tanpa sebab, ataupun hal yang mendatangkan dukacita bagi diri kita- dimaknai sebagai cara TUHAN untuk menghilangkan sifat buruk dalam diri kita, mengupgrade, mendewasakan diri kita menuju ke tahapan yang lebih baik. Tugas kita adalah memilih respons yang akan kita keluarkan terhadap situasi tersebut. Jika kita merespons secara benar, pasti kita menuju ke tahapan yang lebih baik sesuai dengan kehendak TUHAN. Mau ke tahapan diri yang lebih baik? Mari responi segala situasi buruk dengan benar!

2. Mencobai TUHAN

Pernah tergoda untuk mencobai TUHAN gak? Saya dulu sering, dan saat
melakukan itu saya berlindung bahwa apa yang saya lakukan adalah langkah iman.

Jadi saya mencobai TUHAN dengan cara
melangkah/bertindak/melakukan sesuatu tanpa persetujuan TUHAN (meski yang dilakukan bukan kejahatan secara pandangan dunia) dan berasumsi bahwa TUHAN akan menolong/membuat mukjizat, padahal langkah dan tindakan saya itu diluar kehendak TUHAN. Hasilnya gimana? Gatot booo! Gagal setotal-totalnya!

Wew, jadi kudu ditelisik setiap niatan yang timbul di dalam hati.
Apakah itu adalah kehendak TUHAN atau hanya keinginan diri kita semata?

Ok, hari sudah berganti, dan waktunya untuk istirahat. Btw saya tidur
duluan ya, waktu sudah menunjukkan jam 12:03 AM. Thanks for coming frenz!

Sumber gambar: Google

Manusia Unggul Di Dunia

Posted in

Pada ibadah Minggu tadi, saat mendengarkan kebenaran Firman TUHAN yang
disampaikan Pelayan Firman ada beberapa hal yang menarik untuk diolah.
Rata Penuh
Well, siap ya membacanya? Ok, saya mulai.

Menjadi anak TUHAN yang sejati (yang sejati lho) bukan berarti bebas
dari masalah, bisa saja di beberapa bagian kehidupan kita akan
mengalaminya sehingga kita membutuhkan pertolongan dan uluran tangan
dari sesama kita. Namun jikalau sepanjang hidup kita selalu berada
dalam masalah sehingga menjadi beban bagi orang lain, dan bukannya
menjadi saluran berkat, maka pasti ada yang salah dalam hidup kita.

Orang Kristen yang sejati atau anak TUHAN yang sejati seharusnya
adalah manusia unggul dalam segala bidang jika orang tersebut hidup
terikat erat dengan TUHAN, teguh memegang filosofi Injil yang murni
dan menerapkannya dalam setiap aspek kehidupan.

Mengapa demikian?
1. Bangsa–bangsa dunia yang besar saat ini adalah bangsa yang memegang
teguh filosofi hidupnya, sebut saja: Yahudi dan China. Yahudi dikenal
taat memegang Taurat sehingga dalam sendi yang terkecil dalam
kehidupannya. Begitu pula dengan China.

Seharusnya orang Kristen lebih daripada bangsa-bangsa ini, karena
dalam setiap aspek kehidupannya, orang Kristen yang sejati selalu ingin
melakukan kehendak TUHAN.

2. Melakukan kehendak TUHAN dalam memilih takdir dinamisnya. Oh iya
terdapat dua jenis takdir: Takdir absolut. dan takdir dinamis.

Contoh takdir absolut: Setiap kita tidak bisa memilih di keluarga
siapa, suku bangsa apa, untuk kita diciptakan. Entah menjadi orang
Jawa, Manado, atau China. Tidak ada pilihan untuk itu.

Contoh takdir dinamis: Setiap kita dapat memilih apakah menjadi orang
Manado yang baik atau rusak, menjadi orang Batak yang baik atau
beringas.

Nah terkait takdir dinamis itu, orang Kristen yang sejati pasti selalu
melakukan kehendak TUHAN dalam menentukan pilihan: Pekerjaan, minat,
pasangan hidup, lokasi tempat tinggal, pembelanjaan uang, dsbnya.

Jika demikian tidak heran jika orang Kristen yang sejati sangat
berpotensi untuk menjadi manusia yang unggul, karena dirinya selalu
ingin melakukan kehendak TUHAN.


Namun sekali lagi perlu diingat, menjadi manusia unggul dalam segala
bidang di dunia ini adalah impact (dampak/efek) saja dari kehidupan
anak TUHAN sejati yang hati, jiwa, dan pikirannya terpaut atau terikat
erat dengan TUHAN, jangan tertukar menjadi fokus hidup kita dan
memperalat TUHAN untuk mencapainya.

Doa: Antara Teori Dan Praktek

Posted in


Pengantar: Artikel ini mengungkapkan alasan mengapa doa sebegitu vitalnya dalam kehidupan rohani seseorang.



oleh: Ev. Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th.



Saya pernah mengalami kesulitan nafas. Sesudah terserang batuk agak lama, lalu saya mengalami sesak nafas karena alergi. Selain sangat menyiksa, juga pengalaman sewaktu nafas saya menjadi sesak, pendek dan terengah-engah itu menimbulkan rasa ngeri. Sekaligus saat itu saya menyadari betapa berharganya hidup sehat yang dapat bernafas tanpa masalah.



Berdoa sering diumpamakan sebagai bernafas secara rohani. Jika kita benar-benar menerima gambaran itu, tentu kita akan menghargai betapa besarnya anugerah yang telah Allah berikan kepada umat-Nya dengan memberikan hak istimewa untuk boleh berdoa kepada-Nya. Dan, betapa besar resiko yang kita datangkan kepada hidup apabila kita mengabaikan doa dalam kehidupan kita. Sungguhkah seperti itu pertimbangan dan perlakuan kita tentang doa? Agaknya tidak selalu nyambung teori dengan praktik. Mengapa bisa begitu? Mungkin karena pemahaman teorinya pun hanya sambil lalu, tidak dalam, sehingga tidak sungguh dihayati!



Bagaimana kaitannya sampai doa jadi demikian hakiki dan vital? Doa terkait dengan fakta bahwa Allah yang kasih adanya itu menciptakan manusia sebagai makhluk yang berpotensi menyambut dan merespons Allah dalam kasih juga. Manusia disebut Allah sebagai gambar-rupa Allah. Sedangkan Allah, ketika menciptakan manusia sebagai gambar-rupa-Nya itu menyebut diri-Nya, “kita.” Banyak sekali isi Alkitab menegaskan bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah yang berhakikat relasi. Allah kasih adanya! Ini yang dalam theologi Kristen diterjemahkan sebagai doktrin Tritunggal. Di dalam hakikat kekal-Nya, Allah adalah Bapa, Putra, Roh yang berkasih-kasihan. Jadi sebagai gambar-rupa Allah, manusia pun memiliki kekhususan yaitu merupakan makhluk relasi. Dalam relasi dirinya, relasi sosialnya, relasinya dengan alam, manusia sebenarnya sedang mengungkapkan hakikat terdalamnya sebagai makhluk relasi yang berawal dari relasinya dengan Allah. Fakta Allah dan fakta manusia inilah yang menyebabkan doa merupakan suatu hal yang sangat hakiki dan vital dalam keberadaan manusia. Dalam pemahaman ini bahkan doa lebih hakiki dan vital daripada diartikan sebagai nafas rohani. Doa adalah ungkapan dari relasi kita dengan Allah. Doa adalah komunikasi atau dialog manusia dengan Allah. Ketidaklancaran kehidupan doa adalah gejala ketidakberesan relasi kita dengan Allah.



Jika demikian hakiki dan vital, mengapa pada kenyataannya kita tidak spontan menghasrati doa? Mengapa kehidupan doa kita (komunikasi kita dengan Tuhan) tersendat – senin-kamis – tidak intim pada segala waktu? Karena menurut Alkitab relasi itu tidak lagi harmonis. Kejatuhan seluruh umat manusia ke dalam dosa pada intinya adalah memilih untuk tidak berhubungan dengan Allah. Tidak heran apabila kita tidak menghasrati doa sebab pada intinya kita tidak memiliki hasrat yang murni akan Allah. Syukurlah bahwa Allah tetap berhasrat untuk bersekutu dengan ciptaan-Nya ini. Itu sebab Ia mendirikan perjanjian dengan Abraham yang pada puncaknya menghasilkan pendamaian antara diri-Nya dengan umat-Nya di dalam Yesus Kristus. Dengan pendamaian yang Yesus Kristus hasilkan, pulihlah relasi kita dengan Allah, terbit pula hasrat kuat kita akan Allah – kesadaran dan kerinduan untuk berdoa yang melaluinya kita menumbuhkan relasi kasih kita dengan Allah.



Dengan demikian berdoa adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada sekadar cara untuk meminta berbagai berkat bagi hidup atau untuk mengalami kuasa Allah bagi berbagai kebutuhan hidup. Inti doa adalah relasi, adalah komunikasi dengan Allah. Hanya bila dalam komunikasi kita dengan Allah, ada tempat bagi Allah mengkomunikasikan diri-Nya juga pada kita, barulah doa itu menjadi bagian dari relasi yang riil. Inilah alasan mengapa Tuhan Yesus mengaitkan keadaan dipenuhi oleh firman sebagai syarat bagi doa yang dikenan Allah. Dan hanya dengan demikianlah semua berkat dari relasi kita dengan Allah yaitu berbagai akibat yang timbul dari pengenalan kita yang tumbuh mendalam akan Allah, atau akibat dari semakin leluasanya Allah hadir dalam kehidupan kita, akan dapat kita alami. Dan segala berkat itu kita terima bukan karena kita memiliki iman yang hebat atau gigih dalam mengklaim Allah, melainkan karena iman-harap-kasih kita dalam doa menyatu dengan kasih-hikmat-kuasa-rencana-Nya bagi kita.



Pengertian doa yang seperti inilah yang kita jumpai dalam berbagai kisah nyata kehidupan doa para tokoh Alkitab. Pada orang seperti Abraham, Musa, Samuel, Daud, Hizkia, Yeremia, Daniel, Yesus, para rasul, Paulus, doa bukan soal cara, aturan, formula, tetapi komunikasi yang sangat menentukan vitalitas kehidupan dan karya mereka. Itu sebabnya bukan kebiasaan berdoa lima atau tujuh kali dalam sehari yang memberdayakan doa mereka, tetapi keintiman hubungan dengan Allah yang membuat mereka memiliki daya doa yang memenuhi seluruh kehidupan dan karya mereka sepanjang hidup. Tidak heran apabila doa bukan sesuatu yang menjadi beban bagi mereka melainkan merupakan suatu kesukaan. Juga, apabila mereka begitu dalam merasakan kebutuhan untuk berdoa dan untuk didoakan.



Alkitab dan doa, atau doa yang interaktif dengan firman Allah, adalah doa yang benar yang menjadi semarak dari realita relasi yang intens antar Allah-manusia secara timbal balik. Bagaimanakah doa Anda? Nafas Anda sajakah yang mendengus di dalamnya, atau terdengar juga nafas bicara Allah di dalamnya? Dalam hubungan yang intimkah Anda dengan Allah? Bagaimana kualitas relasi Anda dengan Allah terdengar dalam irama, sikap, isi dan lingkup doa Anda sehari-hari? Bagaimana perhatian, arah hati, gerak misi Allah tercermin dalam doa-doa Anda?



Doa kita hendaknya mencirikan bahwa seluruh hidup kita adalah dari-oleh-untuk Allah saja!



Sumber: http://www.ppa.or.id/untuk_anda.php?artikel=doa_antara_teori_praktik

Tiga Parameter Kehendak TUHAN

Posted in


Sering kali kita mendengar di dalam doa orang lain atau justru kita sendiri yang berdoa: “TUHAN tunjukkanlah jalan-MU pada kami”. Atau, “TUHAN tunjukkanlah kehendak-MU pada kami”.

Bukannya saya tidak setuju dengan pernyataan itu, tapi sering kali kita sepertinya terlalu mudah mengumbar pernyataan itu. Sebenarnya dalam banyak kasus, permasalahannya bukan karena TUHAN tidak/belum menunjukkan jalan mana yang harus kita tempuh.

Kalau begitu, apakah TUHAN sebenarnya sudah menunjukkan jalan yang dikehendaki-NYA bagi kita? Ya! Jika memang keputusan untuk melakukan sesuatu ada di tangan kita. Karena memang ada hal-hal yang berada di domainnya ALLAH saja, seperti: Hidup matinya seseorang, sembuh tidaknya seseorang, dll. Dan ada hal-hal yang menjadi bagian kita untuk melakukannya, seperti: Kalau tidak ingin sakit berarti berusaha hidup sehat.

Lalu seperti apa sih karakteristik jalan yang TUHAN kehendaki bagi kita? Parameternya ada di Roma 12:2Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Inilah kriteria atau parameter dari sebuah jalan/pilihan yang TUHAN kehendaki untuk kita ambil. Jika salah satu diantaranya meleset, maka pasti jalan itu tidak TUHAN kehendaki untuk kita ambil. Jadi sebelum mengambil keputusan, analisalah semua pilihan yang ada berdasar ketiga parameter itu, pasti ketemu!

Berarti TUHAN sebenarnya selalu menunjukkan jalan yang IA kehendaki bagi kita. Masalahnya ada pada diri kita:

  1. Maukah kita komit untuk terikat erat dengan TUHAN?
  2. Maukah kita komit mempelajari Firman TUHAN, yang berarti selalu ada waktu setiap hari untuk membaca Alkitab?
  3. Maukah kita mengingat dan menempelkan ketiga parameter itu dalam hati jiwa dan pikiran kita?
  4. Maukah kita komit melakukan kehendak-NYA?

Karena sebenarnya meski kita memahami apa yang menjadi kehendak TUHAN, kita tidak mau (bukan tidak sanggup) untuk melakukannya


Seringkali juga pilihan-pilihan yang ada terlihat sama baiknya, jika situasi itu yang timbul lalu bagaimana? Silakan kita kembali menganalisis ulang semua pilihan yang ada secara detail dengan memperkirakan efek atau dampak yang sekiranya akan terjadi dari setiap pilihan jalan yang kita ambil berdasarkan ketiga parameter itu. Namun bagaimana jika analisis ulang yang mendetail itu memaparkan bahwa setiap pilihan sama baiknya, sementara kita harus memilih salah satu diantaranya? Jika demikian, maka barulah ini saatnya kita berdiam diri dan berkata kepada TUHAN, “ TUHAN tunjukkanlah jalan-MU pada kami”.


Sumber foto: http://antonjunzzz.wordpress.com

Peringatan Bagi Orang Kaya: Orang Kaya Sukar Masuk Surga!

Posted in


Judul di atas bermula dari tergelitiknya rasa ingin tahu dibalik perkataan TUHAN Yesus dalam Matius 19 : 23-24. Sebenarnya mengapa sih kok orang kaya sukar masuk ke dalam Kerajaan ALLAH? Setelah mencoba membayangkan; kesimpulan saya sebagai berikut:

Orang kaya sulit masuk ke dalam Kerajaan ALLAH, karena untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan ALLAH seseorang harus hanya mencintai ALLAH saja. Maksudnya tidak ada hal lain yang dicintainya melebihi cintanya kepada ALLAH. Ini bukan hal yang mudah, karena itu berarti seseorang harus melepaskan hasratnya akan harta dan kekayaan. Melepas keterikatan akan kenyamanan yang dikecap selama ini sebagai akibat dari kekayaan yang dimilikinya. Dan hal ini berlawanan dengan nilai-nilai dunia pada umumnya.

Hal ini bukan berarti seseorang harus miskin dulu baru bisa masuk dalam Kerajaan ALLAH, atau bukan berarti orang miskin pasti masuk ke dalam Kerajaan Surga. Masalahnya sebenarnya berada pada hasrat diri. J
ika orang itu adalah orang kaya berarti dirinya tidak boleh terikat pada hartanya, jika orang itu adalah orang miskin berarti tidak boleh berambisi ingin kaya dan mengejar harta. Namun jika seseorang berusaha keras dalam usaha dan pekerjaannya, melakukan pekerjaannya dan menjalankan usahanya dengan segenap hati dan penuh kejujuran; semata-mata karena ingin memuliakan ALLAH dalam segala hal yang dilakukan-NYA (1 Korintus 10 : 31) tanpa memperdulikan apakah mendatangkan kekayaan atau tidak.

Hal yang sulit, karena kebanyakan otak manusia telah diprogram sedari dini untuk mengejar kekayaan bahkan dengan segala cara. Kekayaan adalah parameter utama sebagai ukuran kesuksesan di dunia. Lainnya adalah status sosial, gelar pendidikan, namun jika tidak memiliki kekayaan seseorang belum dikatakan sukses. Meski telah bergelar Profesor namun jika tidak memiliki kekayaan, sulit dikatakan Profesor itu telah sukses. Sebaliknya, meski hanya mengecap pendidikan SD namun jika memiliki harta yang berlimpah, sudah pasti orang ini ditahbiskan sebagai manusia sukses di dunia.

Namun memang menjadi anak ALLAH itu berarti menjadi musuh dunia ini. Menjadi musuh dunia berarti juga tidak tergiur akan tawaran kenyamanan dunia. Tidak berhasrat menetapkan standar kesuksesan menurut ukuran dunia namun mengenakan ukuran kesuksesan menurut ALLAH. Dan ukuran ALLAH akan kesuksesan tentunya sangat jauh dengan ukuran dunia ini, sebegitu jauhnya sehingga ukuran ALLAH akan kesuksesan ini tidak dapat diterima dan dicerna logika manusia yang masih terikat akan dunia ini.

Inilah ukuran kesuksesan ALLAH: Memerintah bersama-sama dengan-NYA di dalam Kerajaan-NYA. Mau? Mari berjuang!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...