Posted in
Laman
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Dinihari tadi (23 Maret 2010), seperti biasa saya melakukan Saat Teduh (SaTe). Ayat Alkitab yang dijadikan referensi dari Keluaran 14 : 15-31, mengisahkan soal bangsa TUHAN menyuruh Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan dengan itu terbelahlah air laut dengan perantaraan angin timur yang keras. Muncul pertanyaan yang menggelitik saya : Sebenarnya tanpa Musa mengulurkan tanganpun, TUHAN sanggup membelah air laut itu Pertanyaan itu menjadi salah satu poin renungan saya dinihari tadi, sampai pada suatu kesimpulan renungan sebagai berikut : Mengapa TUHAN mau memakai kita sebagai alat-NYA? Kita diciptakan oleh-NYA, ditebus oleh-NYA. Menjadi sangat wajar kalau TUHAN mau memakai kita sebagai alat-NYA. Karena kita adalah milik TUHAN. Terserah TUHAN mau melakukan apapun terhadap kita. Menyuruh apapun terhadap kita. Sudah menjadi kehendak TUHAN pada hari itu bangsa Jadi cari tahu apa kehendak TUHAN yang diinginkan-NYA untuk kita lakukan. Untuk dapat mencari tahu, awali dengan hidup melekat erat dengan TUHAN. Satu hal yang pasti, TUHAN mau kita menjadi saksi yang memuliakan nama-NYA bagi sesama di sekitar kita melalui kehidupan kita, perbuatan kita, sikap kita dan perilaku kita terhadap mereka. Ayat bacaan : Menyeberangi Laut Teberau 14:15 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Sumber foto : xcavator.net
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Pernah mendengar kata-kata : “Ah males gw, gak ada duitnya!” Saya sering banget lho, biasanya kata itu diucapkan seseorang yang merasa keberatan menjalankan tugasnya karena tidak ada bonus uang ketika ia menjalankan tugas itu, meski sebenarnya dirinya memang bertugas untuk hal itu. Lugasnya memang ia dibayar atau dipekerjakan untuk melakukan tugas itu.
Biasanya meskipun melakukan tugas itu, didasari karena terpaksa saja, dan bukan karena kesadaran dan tanggung jawabnya. Maka jangan heran kalau hasilnya pun cenderung tidak maksimal, bahkan bisa jadi berantakan. Padahal di luar
Parahnya lagi sindrom “Males, karena gak ada duitnya” ini tidak hanya menghinggapi pekerja kelas akar rumput, namun juga menulari sampai ke pucuk-pucuk pimpinan. Entah itu pimpinan perusahaan, ataupun pimpinan/petinggi Negara. Padahal kalau diteliti lebih lanjut, penghasilan para pucuk ini sangatlah cukup, bahkan mungkin berkelebihan. Semua pengeluaran ditanggung, bahkan sampai membeli garam untuk urusan rumah tangganya. Jadi si pucuk ini bernafas pun sudah dibayar. Terus kenapa mereka bisa melakukan hal itu ya? Padahal secara pendidikan ok, secara keagamaan pun mereka termasuk orang yang rajin beribadah pada waktunya,
Saya punya teori seperti ini, mereka keliru dalam membedakan stimulus yang masuk, dan juga mereka lemah untuk menolak stimulus yang negatif sehingga dengan kehendak bebas (free will) mereka memilih untuk menerima stimulus yang negatif. Seperti tulisan saya yang terdahulu mengenai “Hidup Ini Adalah Pilihan” bahwa stimulus yang masuk itu ada dua : Positif (kebaikan, kesalehan) dan negatif (godaan, menjurus pada dosa). Kekeliruan dalam membedakan stimulus yang masuk atau pun kelemahan mereka bisa disebabkan karena mereka tidak hidup melekat (bukan sekedar dekat) dengan TUHAN. Mungkin saja mereka menjalankan kewajiban agama pada waktunya, namun sesungguhnya itu dilakukan sebagai sekedar kewajiban belaka dan bukan didasari karena mereka mencintai TUHAN. Karena kalau seseorang mencintai TUHAN, pasti mencintai Firman-NYA, mencintai larangan-NYA, yang akhirnya mewujud dalam segala tindak-tanduk mereka menjalani hidup.
Nah kalau kita ingin bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, sebenarnya jawabannya hanya ada satu : Kembali mencintai TUHAN. Ini bukan hanya tugas para rohaniwan, tapi kewajiban kita semua. Namun sekali lagi kita memiliki kehendak bebas untuk memilih. Memilih untuk mencintai TUHAN atau menjauhi TUHAN. Mana pilihanmu?
Sumber foto : Koleksi pribadi
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in


Beberapa minggu terakhir ini saya sedang membaca buku tulisan Clive Staples Lewis atau lebih dikenal dengan C. S. Lewis yang berjudul "The Screwtape Letters"
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Hidup ini memang memiliki banyak makna. Makanya kita harus menjalankanya dengan penuh bermakna, agar tidak sia-sia.Salah satunya adalah : Hidup ini adalah pilihan. Setiap detik kita diperhadapkan dengan pilihan. Hal ini memang sudah dirancangkan TUHAN sejak semula. Karena TUHAN kita adalah ALLAH yang demokratis. Namun demokratis yang benar bertanggung jawab. Dalam arti kalau kita menyalahgunakan fasilitas demokratis yang diberikan-NYA sebenarnya itu kesalahan kita sendiri. Masih bingung?
Pernah gak pada saat berjalan-jalan tiba-tiba ada pikiran yang muncul, yang bahkan sebelumnya tidak pernah terpikirkan? Entah pikiran negatif atau pikiran positif, tiba-tiba saja masuk ke pikiran kita. Mungkin juga saat diperhadapkan situasi yang dapat membuat kita tersinggung, ada perasaan ingin marah, ngamuk, kalap, dan kata lain yang tepat untuk menggambarkannya. Atau saat melihat orang lain yang kesusahan, tiba-tiba kita merasa iba. Kosakata yang saya gunakan untuk menamai hal itu itu saya sebut stimulus. Yup, stimulus positif atau negatif bisa tiba-tiba masuk dalam pikiran kita. Tanpa bisa kita cegah bukan?
Nah pada saat stimulus itu masuk memang tidak dapat kita cegah, namun –di sinilah demokratisnya TUHAN kita itu- kita mempunyai kehendak bebas untuk memilih, pilihan itu adalah :
- Memikirkan impuls itu lebih lanjut
· Kalau impuls yang datang postif (kebaikan, kesalehan), kita akan memikirkan bagaimana kebaikan itu dilakuan, sampai akhirnya kebaikan itu nyata dalam tindakan kita.
· Kalau impuls yang datang negatif (melakukan dosa), kita akan memikirkan bagaimana melakukannya, membayangkan kenikmatan dari melakukan dosa tersebut (sampai di sini saja, kita telah berdosa dalam pikiran), sampai akhirnya dosa itu kita lakukan dalam tindakan kita.
- Memilih untuk men-delete (seperti komputer) impuls tersebut tanpa mau memasukkannya ke pikiran.
Kalau boleh mengandaikan dalam sebuah perumpamaan : “Kita tidak dapat menghalangi burung terbang di atas kepala kita, namun kita dapat mencegahnya/mengusirnya agar tidak bersarang di kepala kita.”
Demokratis bukan? Kita diberikan pilihan oleh TUHAN, mau melakukan dosa atau tidak. Resiko ditanggung sendiri. Sayangnya kecendrungan manusia itu adalah menuruti keinginan dagingnya sendiri, yang –sekali lagi- sayangnya adalah melakukan dosa. Pokoknya melakukan dosa itu pasti memuaskan hawa nafsu kedagingan kita deh. Sehingga karena terlalu banyaknya dosa tanpa pernah bertobat, kita tidak dapat membedakan atau malah tertukar setiap stimulus yang datang.
Berarti TUHAN lepas tangan dong? Kok DIA menciptakan manusia lengkap dengan kesadarannya namun akhirnya tunduk pada dosa? Nah TUHAN Yang Maha Kuasa itu tidak pernah gagal rencana-NYA.
- Karya penebusan di dalam Yesus Kristus, diri kita sudah ditebus, segala dosa kita sudah dihapus.
- Setelah dosa dihapus, bukan berarti stimulus (terutama yang negatif) itu berhenti. Namun kalau kita hidup melekat dengan TUHAN, kita akan diberikan hikmat untuk membedakan setiap simulus yang datang; apakah itu sesuai dengan kehendak TUHAN : Apa yang baik, yang berkenan kepada ALLAH, dan yang sempurna. Dan kecendrungan untuk menerima stimulus yang positif (sesuai kehendak ALLAH) ini, sekaligus menolak stimulus negatif.
Lihat TUHAN bertanggung jawab
Sumber foto : Koleksi pribadi.
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'
Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?
Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?
Moral dari cerita ini:
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.
Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.
Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Bacaan : Matius 21 : 21,22; Yohanes 15 : 1-8; Filipi 2 : 5; Yakobus 4 : 3
Saat Yesus mengutuk pohon ara yang seketika menjadi kering, murid-murid Yesus tercengang. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-NYA bahwa mereka pun dapat melakukan hal yang serupa, bahkan memindahkan gunung. Sungguh suatu iman yang luar biasa!
Iman seperti ini tidak dimiliki oleh orang Kristen yang hanya merasa puas dengan pengakuan bibir dan merasa percaya. Namun kepada mereka yang adalah murid Yesus, pengikut Yesus. Seperti murid-murid yang senantiasa mengikuti Yesus kemanapun Yesus pergi, hal ini pun berlaku untuk kita jika kita memang murid Yesus yang benar-benar melakukan semua persyaratan mengikut Yesus (Matius 16 : 24). Secara singkat : Mereka yang hidup melekat erat dengan TUHAN sehingga peka mendengar suara TUHAN.
Mengapa demikian? Pada saat kita hidup melekat erat dengan BAPA, kita akan berpikir dan merasakan seperti yang TUHAN rasakan, peka mendengar suara TUHAN. Karena TUHAN menaruh pikiran dan perasaan-NYA pada kita. Sehingga pada saat kita menginginkan sesuatu dan mendoakannya, tentu saja TUHAN mengabulkannya, karena keinginan tersebut sebenarnya berasal dari TUHAN, ditaruh TUHAN dalam pikiran kita.
Namun sayangnya memiliki persekutuan yang melekat erat dengan TUHAN bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan kesadaran untuk rela menyerahkan diri kepada TUHAN. Sementaran manusia -biasanya- jika dalam keadaan di atas angin, tanpa kesulitan, manusia cenderung 'lupa' untuk melekat erat dengan TUHAN. Namun saat manusia mengalami kesulitan hidup -yang kita kenal sebagai pembentukan dan pemrosesan-, lebih mudah untuk datang dan berserah pada TUHAN.
Jadi kalau saat ini sedang mengalami kesulitan hidup, seharusnya kita bersyukur, karena itu berarti kita sedang dibentuk dan diproses TUHAN, dibersihkan oleh TUHAN untuk kita memiliki persekutuan yang melekat erat dengan BAPA. Dan tidak usah menunggu datangnya kesulitan untuk hidup melekat erat dengan BAPA, lakukan sekarang! GOD love u, u know!
Karena hidup yang bermakna adalah hidup yang melekat pada TUHAN!
Sumber foto : xcavator.net
Hidup yang bermakna dimulai pada saat kita menerima anugerah keselamatan. Keselamatan yang diberikan bukan karena usaha kita, namun karena belas kasih TUHAN semata. Seharusnya orang yang sudah diselamatkan oleh karena iman harus menunjukkan imannya dengan perbuatan. Melakukan perbuatan baik, perbuatan benar, perbuatan yang berkenan kepada TUHAN, karena orang tersebut sudah diselamatkan. Dan bukan karena mengusahakan keselamatan. Disinilah makna dari kehidupan orang-orang yang sudah diselamatkan.
---------------------------------------------------------------
Bacaan : Efesus 2 : 8-10
Dari banyak kata yang sering muncul di kalangan orang Kristen, kata "anugerah" adalah salah satunya. Dalam bahasa Ibrani, anugerah disebut 'khen' (dengan topi diatas huruf e), dan dalam bahasa Yunani 'kharis'. Dua kata ini memiliki kesamaan pengertian, yaitu "pemberian atau perbuatan baik dari seseorang yang berkedudukan tinggi (atasan) kepada orang yang levelnya lebih rendah". Kata 'khen' dan 'kharis' juga berarti "sebuah pemberian tanpa melihat kepantasan si penerima pemberian tersebut", dan juga berarti "pemberian yang memiliki nilai tinggi dan sangat dibutuhkan". Kata "anugerah" sama pengertiannya dengan "kasih karunia" atau "rahmat"
Agar dapat menerima anugerah TUHAN secara benar, maka kita harus mengerti di mana letak anugerah dalam keselamatan yang TUHAN berikan kepada kita. Apakah terletak kepada cara menerima keselamatan? Atau, apakah anugerah itu terletak pada nilai keselamatan itu sendiri, yaitu kesediaan ALLAH menjadi manusia? Apakah nilai anugerah terletak pada kedua-duanya?
Doktrin keselamatan hanya oleh anugerah (Inggris : 'only by grace'; Latin : 'sola gratia') terambil dari Efesus 2 : 8-9. Teks ini lebih populer pada ajaran yang menekankan kemutlakan kedaulatan ALLAH dalam menentukan keselamatan atas setiap individu. Sayangnya, tidak jarang pengajaran ini memberi tekanan yang tidak pada proporsinya terhadap proses penyelamatan umat manusia. Dikatakan untuk menerima keselamatan, manusia tidak perlu berbuat apa-apa, yang penting pengakuan bibir dan perasaan percaya. Dikesankan bahwa sekalipun seorang manusia bertindak pasif, asal dia orang terpilih, maka ia bisa selamat. Padahal dalam Perjanjian Baru sesuai yang diajarkan oleh TUHAN Yesus, tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa cara menyambut keselamatan juga bernilai anugerah. Selalu ada tantangan, pertaruhan atau barter untuk mengikut TUHAN Yesus atau dalam menerima anugerah tersebut. Manusia menyambut keselamatan itu dengan aktif melalui iman (ayat 8), dan iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2 : 26).
Kata-kata "bukan hasil usahamu tetapi pemberian ALLAH... bukan hasil pekerjaanmu" kalau tidak diteropong dengan benar bisa membangkitkan suatu kesan bahwa perbuatan baik tidak diperlukan. Bahkan membangun kecurigaan, seolah-olah perbuatan baik dalam Kekristenan dapat menjadi ancaman dan bisa merusak doktrin keselamatan 'sola gratia'. Sesungguhnya, manusia menerima anugerah secara aktif, sehingga perbuatan baik itu sejalan dengan 'sola gratia' (ayat 10). Marilah memahami hal ini dengan benar, sehingga kita menerima keselamatan secara maksimal.
Sumber : Alkitab, renungan "TRUTH" edisi 2 Maret 2010.
All glory just for our GOD,
Erick
Sumber foto : xcavator.net
Posted by Erick Sowong | Comments: (5)
Posted in

Judul di atas diambil dari renungan saya kemarin (22 Pebruari 2010) di buku Santapan Harian. Isi tulisan di bawah merupakan renungan pada hari itu dicampur dengan hasil perenungan saya.
Tidak ada maksud apa-apa cuma ingin berbagi.
---------------------------------------------------------------
Bacaan : Matius 19 : 1-12; Maleakhi 2 : 14-16; Matius 5 : 31-32; 1 Korintus 7 : 10-11
Menurut suatu survey yang diadakan di Amerika Serikat, lima di antara sepuluh pernikahan berakhir dalam perselisihan dan perceraian yang pahit. Kelima sisanya tetap utuh seumur hidup, tetapi dengan derajat ketidakharmonisan yang berlainan. Lama kelamaan perceraian jadi hal lumrah.
Dengan maksud untuk mencobai Yesus, orang Farisi menanyakan masalah perceraian kepada Yesus. Mereka ingin melibatkan Yesus dalam pertentangan pendapat di antara dua aliran Farisi, yaitu Shammai dan Hillel. Shammai ketat mengajarkan bahwa seseorang laki-laki hanya boleh menceraikan istrinya bila kedapatan berzina. Hillel lebih kendur mengajarkan bahwa seorang laki-laki boleh menceraikan istrinya dengan alasan apa pun. Yesus tidak masuk ke dalam pertentangan mereka, melainkan IA membawa mereka kembali kepada tujuan semula ALLAH mendirikan institusi pernikahan. Yaitu agar laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan dari dua pribadi yang berbeda latar belakang, kebiasaan, budaya, sifat, konsep berpikir, dan perilaku. Mereka harus meninggalkan dan menyingkirkan segala hal dan ikatan yang dapat menghambat keharmonisan dan kesatuan mereka. Apa yang telah dipersatukan TUHAN, tidak boleh diceraikan manusia (ayat 6). Musa mengizinkan perceraian (Ulangan 24 : 1) karena ketegaran dan kedegilan hati orang Israel yang suka melawan aturan dan kehendak TUHAN. Padahal sejak awal TUHAN membenci perceraian (Maleakhi 2 : 16). Perceraian juga akan menimbulkan luka mendalam bagi masing-masing pasangan maupun anak-anak mereka. Poin-poin yang harus diperhatikan dalam pernikahan Kristen sebagai berikut :
- Tidak boleh ada perceraian dalam pernikahan orang Kristen.
- Siapa yang bercerai hanya karena zinah, itu pun baik mantan suami atau mantan istri tidak boleh menikah lagi, kecuali rujuk kembali.
- Jika bukan karena zinah seseorang menceraikan pasangannya, berarti ia telah menjadikan pasangannya berzinah.
- Jika sesudah bercerai menikah lagi dengan orang lain, maka ia berzinah dengan orang lain itu.
- Dan orang yang menikah dengan pria atau wanita yang diceraikan berarti orang itu berbuat zinah.
Lihat saja, tidak ada celah untuk bercerai dalam pernikahan Kristen bukan? Kecuali karena zinah. Dan jika sudah bercerai pun, harus hidup tanpa suami atau istri kecuali kembali berdamai (rujuk).
Dengan anugerah TUHAN dan kesetiaan, kita harus memelihara pernikahan kita. Tuntutan TUHAN terhadap pernikahan memang ketat, tetapi hal ini tidak harus membuat kita memilih hidup membujang saja. Ada karunia khusus untuk seseorang membujang, yaitu agar fokus dalam melayani TUHAN dan membawa orang-orang datang kepada Kristus.
Sumber foto : xcavator.net
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2010 ini Imlek dan Valentine berbarengan harinya. Kalau tafsiran ‘ngawur’ saya, di tahun ini seharusnya kemakmuran yang diharapkan dan dihasilkan bisa mendukung upaya dan kegiatan kita dalam menyebar cinta kasih. Hehehehe...bisa connect kan?
Meski sebenarnya sih tidak usah menunggu mendapatkan kemakmuran dulu baru menyebar cinta kasih, karena jika demikian, kita tidak akan pernah bisa menyebar cinta kasih. Kecendrungan manusia selalu ingin naik ke level yang lebih tinggi. Jika sudah punya mobil 1, ingin punya 2. Jika sudah pernah ke Bali, bercita-cita ingin ke Singapura. Memang gak salah sih semua cita-cita keinginan itu. Namun kalau menunggu semua itu tercapai niscaya kita tidak akan pernah menyebar cinta kasih.
Banyak cara sebenarnya. Di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan cinta kasih kita. Coba aja naik bis reguler, pasti banyak deh tuh pengemis, pengamen yang mencari uang dari belas kasih pengunjung bis. Meski menurut saya, tidak semuanya pengemis dan pengamen itu layak kita bantu. Karena ada juga yang mengemis, dan mengamen untuk hal-hal yang buruk : Mabuk-mabukan, Narkoba, dsb. Namun memang lebih banyak lagi yang melakukan itu (baca : Mengemis dan Mengamen) untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Di kala pemerintah dan institusi-institusi lainnya tidak berdaya untuk menjangkau mereka.
Atau ke orang terdekat kita namun sering kali kita lupakan. Ibu kita misalnya, seorang wanita yang di tangannya TUHAN mempercayakan diri kita untuk diperlihara, dilindungi, dibimbing sampai seperti saat ini. Sudah seberapa sering kita membahagiakan Ibu kita di rumah? Seminggu sekali? Sebulan sekali? Itu cukup? Dulu pas kita bayi, dia menghabiskan waktunya tiap hari bersama kita lho (menurut cerita Ibu saya).
Kalau di lingkungan kantor kita mungkin OB yang setiap hari senantiasa setia menanti suruhan kita untuk membeli makanan atau sekedar mengambil kertas faks yang masuk. Di kantor saya yang terdahulu, seorang OB merangkap supir, juga cleaning service setiap pagi, dan kalau ada barang masuk si OB ini selain ditugaskan mengangkat barang-barang kiriman plus ditambah tugas melakukan inventory gudang. Coba tebak gajinya? Rp. 500an ribu + Rp. 20 ribu/hari untuk uang makan dan uang transportnya.
Jadi sebenarnya kita tidak perlu menunggu menjadi makmur dahulu baru menyebar cinta kasih, selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang TUHAN pertemukan untuk kita menyalurkan energi cinta kasih itu.
Yuk lakukan sekarang!
Sumber foto ; xcavator.net
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Sosok Ibu di rumah mungkin memasak makanan yang kalah lezat daripada resto-resto favorit kita. Namun menikmati makanan Ibu tidak hanya kelezatannya yang kita rasakan, tetapi juga kasih sayang yang melimpah tiada akhir pun turut kita rasakan.
Sosok Ibu di rumah mungkin tidak selalu membuatmu ceria seperti teman-teman kita, namun saat ia berusaha menghibur kita ia melakukannya dengan tulus karena ingin melihat anak kesayangannya melupakan kesedihannya.
Sosok Ibu di rumah seringkali membuat kita kesal akan kecerewetannya, namun kita tahu bahwa kecerewetannya mengandung kebenaran, ia tidak ingin kita melakukan kesalahan dan menyesalinya.
Sosok Ibu di rumah mungkin tidak sesempurna para rohaniwan yang hafal luar dalam dan mematuhi isi Kitab Suci, karena nalurinya hanya menginstruksikan hal ini : “Supaya anakku bahagia dan nyaman” Meski untuk itu ia harus melakukan dosa.
Sosok Ibu di rumah seringkali membuatmu malu akan penampilannya berpakaian, itu karena ia tidak mementingkan dirinya. Baginya asalkan anaknya bahagia, tidak mengapa ia melupakan penampilan dirinya.
Sosok Ibu di rumah selalu berusaha sok kuat walaupun tubuhnya sudah renta. Itu karena ia tidak ingin anaknya khawatir, meski ia mengidap penyakit yang menahun, ia akan berkata, “Ibu tidak apa-apa anakku”. Ia tidak ingin kekhawatiran diri kita akan dirinya menghilangkan keceriaan di wajah kita.
Sosok Ibu di rumah hobi begadang, itu kaena ia selalu berdoa kepada TUHAN Semesta Alam di malam dan dini hari agar diri kita selalu berada dalam penyertaan TUHAN.
Sosok Ibu di rumah selalu saja berbohong kepada tetangga sekitar. Ketika bercerita dengan tetangga sekitar selalu saja kita menjadi nomor satu dalam ceritanya, meski kenyataannya tidak demikian.
Sosok Ibu di rumah selalu saja sok mandiri, meski dirinya sedih, ia tetap tersenyum saat sang anak mengirim Ibu ke panti jompo untuk bertemu bersama dengan orang tua lainnya. Ia malah berkata, “Asyiikkk Ibu bisa dapat banyak teman ngobrol di sini!!!” Itu karena ia tidak ingin anaknya merasa kerepotan harus mengurus dirinya
Well, demikianlah sosok Ibu di mata saya. Mari kita responi keburukan sosok Ibu di rumah dengan benar!!!
Bagaimana di mata rekan-rekan?
Sumber foto : xcavator.net
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in

Saya pasti dibenci iblis nih, karena mempublish hal ini. :)
Suatu ketika di malam hari yang sejuk, kucuk-kucuk datanglah si iblis lengkap dengan tongkat trisula nya ke pikirannya Erick.
iblis : Rick, gw punya ide bagus n 'baik' nih buat lo pikirin...
Erick : Gak mau!
iblis : Ayo dong...lo pikirin dulu...gak lo lakuin juga gak papa...yang penting lo pikirin dulu....
Erick : Gw gak mau! Bandel nih ya! Kalo gw gak mau emang kenapa? Lo mau ngapain gw???.... *sambil berteriak* PAPA....si iblis gangguin Erick lagi nih....
PAPA : Hmmmm....iblis pergi kau!!!!
Erick : Hajar aja PA...iya PA...jitak aja!!!
iblis : Wadaaaaoowwww....iya ampun!!!!!
Si iblis pun lari ketakutan karena diusir, dihajar n dijitak PAPA nya Erick.
Namun si iblis sempat-sempatnya berkata : i will back!!!
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in

Yah...begitulah, artikel ini ditulis saat mata saya saat ini (jam 03.00 sekian) masih melotot.
Terang Dunia, sesuai nama judulnya mempunyai fungsi menerangi dunia di sekitarnya. Tentunya menerangi di kegelapan. Kegelapan sendiri tidak hanya berarti orang jahat, kriminal. Namun orang yang belum menerima kasih ALLAH, seperti pengamen jalanan di bis kota, pengemis di kereta ekonomi, penghuni kolong jembatan. Intinya mereka yang selama ini jiwanya terhilang, yang mungkin memiliki anggapan bahwa dirinya tidak dikasihi oleh Sang Pencipta karena kesengsaraan yang melanda, yang merasa 'kesal' kepada TUHAN dan berkata : "TUHAN kok saya hidup begini sih!!! Di saat yang lain kebingungan memilih baju yang dipakai, saya malah tidak punya baju, di saat yang lain bingung mau makan siang apa, saya justru belum makan dari kemarin."
Selama ini mungkin prinsip kita adalah menjadi terang di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, Gereja (tentunya). Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun sebenarnya di luar sana, ada orang-orang yang hendak TUHAN pertemukan dengan kita -langsung secara tatap muka, agar kita dapat memberikan sentuhan kasih TUHAN kepada mereka, asal kita mau aktif mencarinya. Namun maukah kita mencarinya?
Mungkin diawali dengan kegiatan di akhir pekan ini menggunakan bis umum atau kereta ekonomi?
Posted by Erick Sowong | Comments: (6)
Posted in

Satu lagi film dihadirkan ke publik Indonesia. "Legion", demikian judul film tersebut. Mengisahkan tentang "tuhan' (memakai tanda kutip, karena saya yakin karakter tuhan di film ini bukanlah karakter dari TUHAN yang saya kenal) yang sedang kehilangan keyakinannya. Lalu terdapat sesosok jendral malaikat yang bernama Michael yang berniat menolong 'tuhan', dengan mencoba memberitahu kepada 'tuhan' apa yang dibutuhkan 'tuhan' dan bukan apa yang diinginkan 'tuhan'.
Karakter utama di film ini bepusat pada sosok Michael -sang jendral malaikat- yang terpaksa harus membangkang kepada 'tuhan' karena dirinya sangat menyayangi manusia, dan tidak setuju akan rencana 'tuhan' untuk membinasakan manusia. Lalu dimulailah petualangan si malaikat untuk menolong si ibu dan anak yang dikandungnya -anak ini diramalkan akan menjadi pendiri manusia lagi.
Saya tidak akan mengomentari sisi pembuatan atau efek yang digunakan. Namun lebih kepada menyoroti sisi cerita dan hubungannya dengan iman seorang yang beragama. Ada beberapa isu yang ditonjolkan dalam rangka upaya film ini mengolok-ngolok TUHAN :
1. TUHAN digambarkan seperti anak kecil, yang tidak tahu membedakan antara : Apa yang dibutuhkan-NYA dengan apa yang diinginkan-NYA sehingga membutuhkan jasa seorang malaikat (Michael) untuk menyadarinya.
Tanggapan : Saya cuma bisa bilang, bertobatlah Anda bung! Sebelum Hari Penghakiman tiba!
2. TUHAN kehilangan keyakinan-NYA pada manusia. Sehingga berniat memusnahkannya
Tanggapan : TUHAN sangat menyayangi manusia. Manusia adalah kasta yang tertinggi dari ciptaan-NYA karena diberikan perasaan, akal budi, pikiran. Berbeda dari semua ciptaan yang lain. Bahkan malaikat. Jadi cukup menggelikan kalau dalam film ini, malaikat mempunyai kehendak bebas sendiri, menyayangi manusia lebih dari ALLAH menyayangi manusia. Apalagi itu dilakukan oleh Michael, jendral pasukan malaikat.
3. Rencana TUHAN bisa digagalkan oleh malaikat. Meski TUHAN sudah berkehendak untuk membinasakan manusia, namun dapat digagalkan oleh malaikat pada akhirnya.
Tanggapan : Tidak ada rencana TUHAN yang gagal! Jika TUHAN sudah mau A, pasti akan terjadi A! No backup plan for GOD dude! Dan tidak ada yang pernah tahu secara utuh gambaran rencana TUHAN itu seperti apa! Kecuali TUHAN sendiri. Film ini mencoba mengkampanyekan nilai humanis yang mengalahkan nilai-nilai keimanan seorang manusia kepada Sang Pencipta
Disamping cerita, sebenarnya banyak faktor lain sehingga film ini saya kategorikan sebagai film lucu :
1. Pertarungan antar malaikat (Michael vs. Gabriel) yang melakukan pertarungan fisik layaknya manusia.
2. Malaikat bisa kalah sama timah panas???
3. Antar malaikat bisa ngambek-ngambek-an???
4. Malaikat bisa digagalkan aksinya untuk memberhentikan mobil oleh manusia???
Memaknai film ini membuat saya sadar, bahwa diluar sana terdapat sekelompok 'sesuatu' yang sangat tidak senang kalau kita -manusia- memiliki iman yanng benar kepada Sang Pencipta. 'Sesuatu' ini mencoba mempengaruhi pemikiran kita agar beralih dari TUHAN menjadi mencintai diri sendiri. Film ini merupakan bagian kecil dari kampanye besar dan terintegrasi yang dilakukan mereka. Namun demikian, saya menjadi berpikir seperti ini : Kalau 'sesuatu' ini begitu ingin menyesatkan kita, berarti mereka tidak mau kalau kita memiliki iman yang benar kepada TUHAN. Karena dengan memiliki iman yang benar kepada ALLAH, pengikut mereka tidak akan bertambah, malah berkurang!
Nah jika seperti itu mereka bencinya kepada TUHAN, satu hal yang menjadi pembuktian sahih bagi kita -semua orang beriman yang benar kepada ALLAH, bahwa : Sosok TUHAN itu benar adanya! Nyata! Senyata-nyatanya kita meraba wajah kita! DIA bukanlah rekaan imajinasi kita, tapi DIA ada bertahta di Surga, dan juga hadir di sekitar kita!
SIngkat cerita film ini adalah film sesat yang lucu. Sangat membuang-buang waktu untuk menontonnya. Kebetulan saya menontonnya dalam rangka membunuh waktu menunggu. :)
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in

Tumpul hati, apakah itu? Kalo berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya, tumpul hati adalah kondisi hati yang sudah tidak dapat menyuarakan nuraninya jika melakukan kejahatan, kesalahan, dosa. Dikarenakan nurani tersebut tidak dapat membedakan/merasakan setiap perbuatan jahat yang dilakukan. Mati rasanya nurani disebabkan terlalu seringnya melakukan perbuatan jahat, dosa tanpa ada kesadaran untuk bertobat kepada TUHAN.
Meski sebenarnya bisa dihindari -karena kita memiliki kehendak bebas dari TUHAN-, tidak dapat dimungkiri bahwa situasi kondisi kita saat itu juga mempengaruhi untuk membuat kita terlena. Seperti :
1. Semua urusan berjalan lancar, tanpa ada hambatan.
2. Merasa di atas angin, semua terkendali (over confidence).
3. Tidak adanya 'reminder' dari lingkungan (hal ini bisa disebabkan karena 'kepandaian' kita menutupinya, atau kita yang memang menolak semua nasihat yang diberikan).
4. Keangkuhan kita bertumbuh subur.
5. Ke-aku-an kita meluap-luap.
Nah, kalo melihat kondisi sekitar -surat kabar, lingkungan kerja, keluarga- apakah kita menjumpai yang seperti ini? Jika ada, merupakan tugas kita untuk memberitahukannya dengan penuh kasih, namun sebelum melakukan hal itu pastikan bahwa diri kita pun sudah beres di hadapan TUHAN.
Posted by Erick Sowong | Comments: (0)
Posted in
Takut mana? TUHAN atau hantu? Perkiraan saya, semua kita pasti bilang : “Dalam segala hal TUHAN yang musti ditakutin atuuh kang…” Dan saya memperkirakan juga umumnya atau setidaknya sebagian besar manusia itu sebenarnya takut hantu! Gak percaya? Coba aja nonton flim-film horor, dijamin kita akan merem-merem pas adegan si hantu tiba-tiba muncul.
Ironis memang, meski kita tau bahwa seharusnya kita harus takut sama TUHAN, namun kita tetep aja takut sama hantu. Sebenarnya rasa takut sama hantu itu berasal dari pikiran, dengan sedikit kompor dari iblis yang menyusup ke pikiran dan membisikkan kata : “Hantunya sereeeem lho….” Apalagi si iblis
Kalo dikaitkan dengan komunikasi pemasaran, si iblis mencoba Strategi Komunikasi Pemasaran yang benar-benar ampuh supaya mencuci otak kita. Segala teknik visualisasi dan efek suara yang nyata dikeluarkan! Namun sekali lagi bahwa adalah keputusan kita untuk memilih takut atau tidaknya sama hantu ini. Meski si iblis mencoba mempengaruhi pikiran kita, tapi kalo memang tekad kita sudah kuat untuk tidak takut, ya pasti gak takut.
Caranya mudah namun butuh kedisplinan dan konsistensi. Kita deket aja sama TUHAN. Melekat kaya prangko deh! Pokoknya hanya memikirkan TUHAN saja, kehendak TUHAN, maunya TUHAN, segala sesuatunya tentang TUHAN! Saat kita sudah melekat dengan baik sama TUHAN, maka hikmat kebijaksanaan akan dikaruniakan sama TUHAN untuk kita, sehingga dengan hikmat tersebut kita mampu berpikir jernih saat kita takut dan percaya bahwa TUHAN beserta sama kita kok. Meski si hantu menampilkan wajahnya yang terjelek sekalipun kita tetap percaya bahwa TUHAN melindungi.
Oh iya sedikit mengutip dari seorang rohaniawan saat ia berkhotbah di Ibadah Gereja, “sebenernya setan yang hinggap di pohon beringin, pohon kelapa, di toilet, atau di tempat-tempat manapun yang dikatakan angker, itu cumin setan kelas teri! Setan yang lagi termehek-mehek! Kalo setan yang jenderal, nyerangnya justru lewat pikiran kita, itu yang lebih berat!”















